Pertanyaan soal apakah siaran Premier League NBC di Amerika Serikat terlalu berbau Inggris memang layak diangkat. Sebab, sejak musim ke-14 tayang di jaringan televisi tersebut, semua elemen produksinya—dari pembawa acara, komentator, hingga bahasa yang dipakai—terasa sangat kental nuansa Britania-nya. Padahal, liga ini justru sedang berkembang pesat di Amerika dan mencari identitasnya sendiri.

Artikel ini ditulis oleh Leander Schaerlaeckens, penulis buku The Long Game: U.S. Men’s Soccer and Its Savage, Four-Decade Journey to the Top, or Thereabouts yang juga mengajar di Marist University. Ia mengamati bahwa NBC seolah berlomba-lomba menjadi “lebih Inggris daripada Inggris sendiri” dalam menyajikan pertandingan. Fenomena ini memunculkan pertanyaan besar: apakah pendekatan ini justru menghambat tumbuhnya kultur sepak bola Amerika yang otentik?
Mengapa Siaran Premier League NBC Terasa Begitu Inggris?
Rebecca Lowe kembali menyapa pemirsa Amerika pada Jumat sore, lalu Sabtu dan Minggu pagi, menandai dimulainya musim baru Premier League. Ini adalah musim ke-14 bagi NBC menayangkan kompetisi sepak bola paling populer di dunia ini. Lowe selalu didampingi sederet pandit asal Inggris, termasuk dua orang yang akrab disapa “the Robbies”, plus Tim Howard sebagai satu-satunya wakil Amerika yang dianggap cukup “Inggris” karena 13 musim berkarier di Premier League.
Para komentator pertandingan pun semuanya berasal dari Inggris. Mereka konsisten menyebut football, pitch, dan away match, alih-alih istilah yang lazim di Amerika seperti soccer, field, dan road game. Iklan-iklan yang tayang di sela pertandingan juga dibuat dengan gaya yang sangat Inggris, termasuk iklan Barclays dan sponsor lama lainnya yang sengaja membidik imaji fans Amerika yang setia mengikuti liga kecil yang “pemberani” ini.
Yang menarik, saat menonton siaran BBC untuk pekan terakhir musim lalu lewat VPN bersama teman-teman ekspatriat Inggris, Schaerlaeckens justru merasa tayangan BBC tidak sekental Inggris versi NBC. Padahal, BBC adalah stasiun televisi yang berasal dari Inggris itu sendiri. Kecuali keberagaman aksen regional yang ditawarkan BBC, NBC telah melampaui Inggris dalam hal “keinggris-inggrisan”—atau istilahnya, out-Englished the English.
Strategi Bisnis di Balik Nuansa Inggris yang Kental
Pilihan NBC untuk mengusung nuansa Inggris sepenuhnya bukanlah keputusan tanpa perhitungan. Ini adalah strategi bisnis yang koheren dan telah berjalan luar biasa baik bagi jaringan tersebut. Di tengah lanskap televisi yang audiensnya semakin menyusut, jumlah penonton Premier League di NBC justru meningkat setiap tahun dan mencapai rekor tertinggi sepanjang sejarah pada musim lalu.
Pendekatan NBC berbeda dengan jaringan lain. Fox misalnya, justru memilih pendekatan yang sangat Amerika dalam siaran Piala Dunia. Sementara Apple berada di posisi tengah, netral, ketika menayangkan Major League Soccer (MLS). Dengan kata lain, NBC adalah satu-satunya yang secara konsisten menjadikan anglofilia—kekaguman pada budaya Inggris—sebagai identitas produk siarannya.
Semua perlengkapan anglofilia itu tampak jelas dalam setiap tayangan. Ada zoom satelit ke stadion-stadion khas liga yang terselip di antara rumah-rumah bata. Ada pula penghormatan pada anthem klub dan tradisi-tradisi khas Inggris. Tak ketinggalan, bunga poppy yang disematkan di jas para kru tayangan setiap November untuk mengenang tentara Inggris yang gugur—tradisi yang sebenarnya kurang relevan dalam konteks Amerika.
Dampak bagi Kultur Sepak Bola Amerika
Pesan jualan yang tak diucapkan NBC seolah berbunyi: tontonlah pertandingan ini, dan Anda pun bisa terlihat, bersuara, dan merasa lebih Inggris—di mata sendiri maupun teman-teman Anda. Padahal, kebangkitan sepak bola di Amerika justru banyak berutang pada sifat kosmopolitan yang ditawarkannya. Ketika kelas menengah atas menemukan kembali sepak bola pada akhir 1990-an dan awal 2000-an, mengikuti olahraga ini menjadi penanda bahwa Anda tahu ada lebih banyak hal di luar NFL, NBA, atau baseball.
Namun, ada harga yang harus dibayar dari pendekatan ini. Schaerlaeckens menilai bahwa tayangan Premier League yang dibungkus aksen Inggris menghambat tumbuhnya sesuatu yang otentik di Amerika. Ada arus bawah yang kuat berupa imposter syndrome—perasaan bahwa sepak bola Amerika tidak sepenuhnya diakui—dan selama siaran Premier League NBC masih terbungkus gaya Inggris, pembentukan identitas sendiri akan terus tertunda.
Bagaimana mungkin kultur sepak bola organik bisa berkembang di Amerika—yang mulai berakar di tribun suporter banyak tim MLS dan NWSL yang buru-buru menamai diri football club—jika tayangan NBC justru memilih berdiri di bawah bayang-bayang kultur Inggris? Pertanyaan ini menjadi ironi yang tak bisa dihindari. Di satu sisi, NBC menuai sukses komersial yang impresif. Di sisi lain, kesuksesan itu datang dengan konsekuensi bagi perkembangan kultur sepak bola lokal.
Kapan Amerika Punya Kultur Sepak Bola Sendiri?
Piala Dunia 2026 yang meraup keuntungan luar biasa—hampir tak masuk akal—menjadi bukti baru bahwa Amerika sebenarnya sudah lama menjadi negara sepak bola. Olahraga ini kini sudah matang dan tidak lagi perlu berjuang untuk dikenal. Tantangan berikutnya justru lebih rumit: mengonsolidasikan status tersebut dan meraih pencapaian-pencapaian yang lebih kecil namun bermakna.
Kendati demikian, sepak bola Amerika masih dihantui perasaan bahwa ia tidak sepenuhnya menjadi bagian dari percakapan global. Para pemain dan timnya masih harus berjuang keras agar dianggap serius di luar batas negara sendiri. Selama format penyajian produk paling populer masih meniru gaya negara lain, pertumbuhan kultur yang otentik akan terus terhambat.
Tentu saja, ini bukan untuk merendahkan kerja para kru siaran Premier League NBC yang secara profesional sangat baik. Sebagian daya tarik Amerika justru terletak pada kemampuannya menerima budaya dan norma dari seluruh dunia, lalu mengintegrasikannya menjadi satu kesatuan yang beragam. Rebecca Lowe bahkan mengumumkan dirinya menjadi warga negara naturalisasi Amerika pada 2022.
Kesimpulan
Pada akhirnya, sepak bola Amerika harus mulai melakukan hal-hal dengan caranya sendiri, bukan sekadar meniru apa yang dilakukan negara-negara “keren” di dunia sepak bola. Salah satu langkah awalnya adalah mengakui bahwa orang Amerika berbicara dengan cara yang berbeda—dan itu tidak masalah. Pertanyaannya kini tinggal: apa yang bisa dilakukan pendekatan yang lebih otentik ini bagi pertumbuhan sepak bola di Amerika? Jawabannya mungkin akan menentukan masa depan olahraga paling populer di dunia itu di negeri Paman Sam.








