Drew Spence resmi menjadi pemegang rekor penampilan terbanyak sepanjang sejarah Women’s Super League (WSL). Gelandang Tottenham Hotspur itu turun sebagai starter ketika timnya menghadapi Birmingham City pada Minggu, dan laga tersebut tercatat sebagai penampilan ke-217 dirinya di kompetisi tertinggi sepak bola putri Inggris.
Rekor penampilan WSL yang baru saja dipecahkan Spence sebelumnya dipegang oleh Millie Bright, mantan kapten Chelsea. Pencapaian ini terasa istimewa karena Spence, yang kini berusia 34 tahun, menghabiskan hampir seluruh kariernya di London dan baru bergabung dengan Tottenham pada 2022 setelah 14 tahun membela Chelsea. Bagi seorang pemain yang tak pernah jauh dari kota yang sama, angka 217 bukan sekadar statistik, melainkan bukti konsistensi dan daya tahan yang jarang dimiliki pesepak bola putri.

Penampilan ke-217 dan Rekor yang Terlewati
Spence mengawali laga melawan Birmingham City sejak menit pertama, dan itulah momen yang mengantarkannya melewati catatan Bright di daftar penampilan terbanyak WSL. Selain memecahkan rekor, ia juga berpeluang menjadi satu-satunya pemain lapangan (bukan kiper) di Tottenham yang bermain penuh 90 menit di seluruh pertandingan WSL musim ini. Catatan itu menunjukkan bahwa usia bukan penghalang baginya untuk tetap menjadi pilihan utama di lini tengah.
Setelah laga, Spence mengaku bangga, tetapi ia menegaskan bahwa pencapaian tersebut bukan hanya miliknya. Menurutnya, rekor ini adalah hasil dari kerja keras bertahun-tahun serta dukungan keluarga yang selalu berada di belakangnya. Ia juga menyebut bahwa saat masih muda, dirinya tidak pernah memikirkan hal-hal semacam ini karena fokusnya hanya satu: meraih trofi.
Bagi Spence, konsistensi selama bertahun-tahun justru menuntut pengorbanan yang tidak terlihat dari luar. Ia harus menjaga kondisi tubuh, mengatur pola pemulihan, dan memastikan dirinya selalu siap bermain di setiap pekan. Menjaga motivasi selama belasan musim, katanya, jauh lebih sulit daripada yang dibayangkan banyak orang.
14 Tahun di Chelsea dan Kepindahan ke Tottenham
Sepanjang kariernya, Spence tidak pernah meninggalkan London. Ia menimba ilmu di akademi Arsenal dan Fulham sebelum akhirnya menetap lama di Chelsea, klub yang dibelanya selama 14 tahun. Pada 2021 ia juga memutuskan berpindah afiliasi internasional dari Inggris ke Jamaika, langkah yang memberinya kesempatan tampil di panggung yang berbeda.
Masa baktinya di Chelsea terbilang gemilang. Spence merupakan bagian dari salah satu skuad tersukses di Inggris dan turut menyumbangkan lima gelar liga serta empat trofi Piala FA. Koleksi itu menegaskan bahwa rekor penampilan yang baru ia pecahkan bukanlah hasil kebetulan, melainkan buah dari karier panjang di level tertinggi.
Sejak bergabung dengan Tottenham pada 2022, peran Spence justru semakin besar. Di musim pertamanya ia tampil dalam 22 pertandingan, jumlah yang bahkan lebih banyak dibandingkan musim-musim terakhirnya bersama Chelsea. Pada musim panas lalu ia dipercaya menjadi kapten Tottenham dan kini menjadi figur sentral di bawah asuhan pelatih Martin Ho.
Kebugaran Terbaik dan Rahasia Panjang Umur Karier
Spence menilai dirinya sedang berada dalam kondisi fisik terbaik sepanjang karier. Ia merasakan pemulihan yang lebih cepat, pemahaman yang lebih mendalam terhadap tubuhnya sendiri, serta manfaat besar dari pengaturan nutrisi yang lebih disiplin. Menurutnya, fasilitas dan pendukung pemulihan yang tersedia sekarang jauh lebih baik dibandingkan saat ia memulai karier, dan itu sangat membantu para pemain muda.
Pelatih Martin Ho menilai kemampuan Spence beradaptasi menjadi kunci umur panjang kariernya. Ia menyoroti perkembangan Spence secara fisik, teknis, dan taktis yang berjalan signifikan sejak kedatangannya ke Tottenham. Bagi Ho, kerja keras itulah yang membuat Spence mampu bertahan di level elite selama bertahun-tahun.
Kombinasi antara kedisiplinan pribadi dan dukungan tim kepelatihan inilah yang membuat Spence tetap relevan di kompetisi seketat WSL. Pemain berusia 34 tahun biasanya mulai menghadapi penurunan menit bermain, tetapi Spence justru dipercaya tampil penuh di hampir semua laga penting Tottenham.
Penyesalan yang Menjadi Pelajaran Berharga
Di balik pencapaiannya, Spence terbuka soal penyesalan dari fase awal kariernya. Ia mengaku dulu belum benar-benar memahami cara merawat tubuh dan mempersiapkan diri dengan baik, sesuatu yang menurutnya bisa membuat performanya lebih konsisten selama membela Chelsea. Kesadaran itu baru datang belakangan, ketika ia mulai mempelajari detail-detail kecil soal pemulihan dan nutrisi.
Meski demikian, Spence tidak ingin berlama-lama menyesali masa lalu. Ia memandang semua itu sebagai bagian dari perjalanan dan proses belajar yang membentuknya menjadi pemain seperti sekarang. Pelajaran tersebut justru membantunya tampil lebih matang bersama Tottenham, tempat ia kini berperan sebagai pemimpin tim.
Spence juga menegaskan bahwa ia selalu berusaha memberikan yang terbaik di setiap kesempatan. Kini fokusnya adalah menjaga konsistensi performa dan membantu tim meraih hasil sebaik mungkin. Menurutnya, penyesalan pribadi tidak menghapus rasa bangga ketika ia menoleh ke belakang dan melihat apa yang sudah dicapainya.
Pujian dari Rekan dan Pelatih
Gelandang Chelsea Erin Cuthbert memberikan kesaksian hangat tentang sosok Spence. Ia mengenang Spence sebagai rekan setim yang peduli dan menyenangkan di luar lapangan, tetapi berubah menjadi petarung sejati begitu pertandingan dimulai. Cuthbert bahkan bercerita bahwa sambutan pertamanya dari Spence di klub berupa tekel keras, sesuatu yang ia kenang sambil tersenyum.
Cuthbert menilai Spence memiliki kecerdasan bermain dan keterampilan teknis yang mumpuni. Ia mengaku mengagumi umur panjang karier sang senior dan melihatnya sebagai teladan. Kini, menurut Cuthbert, Spence telah tumbuh menjadi pemimpin di Tottenham.
Dari sisi pelatih, Ho menyatakan bahwa Spence mendapat rasa hormat besar di klub karena cara ia bekerja sejak hari pertama bergabung. Ho bahkan menyebut Spence bisa terus bermain selama ia mau, mengingat ketajaman, kebugaran, dan kecerdasan yang masih dimilikinya. Baginya, Spence adalah sosok kunci dalam rencana yang sedang dibangun Tottenham.
Perjuangan di Luar Lapangan dan Masa Depan
Kiprah Spence tidak berhenti di lapangan hijau. Pada 2023 ia menjadi bagian dari skuad Jamaika yang menulis surat terbuka untuk menuntut perubahan yang mendesak dan sistematis di tubuh Federasi Sepak Bola Jamaika (JFF). Langkah itu menjadi salah satu bentuk nyata dorongannya terhadap perbaikan kondisi sepak bola putri.
Ho menilai berbagai tantangan dan kesulitan yang pernah dihadapi Spence turut membentuk karakternya sebagai pemain. Pengalaman-pengalaman itu, katanya, membuat Spence tumbuh dan menemukan posisinya seperti sekarang. Hal inilah yang membuatnya dihormati bukan hanya sebagai pesepak bola, tetapi juga sebagai pribadi.
Spence sendiri belum berpikir untuk pensiun dalam waktu dekat. Ia masih merasa ada bagian dari permainannya yang perlu diperbaiki dan ingin memberikan segalanya selama tubuhnya masih mampu. Bermain sepak bola adalah impian terbesarnya sejak kecil, sehingga ia ingin menikmati setiap momen selama masih bisa.
Rekor 217 penampilan yang ditorehkan Drew Spence adalah buah dari perjalanan panjang yang jarang terlihat: disiplin harian, pengorbanan pribadi, dan kemauan untuk terus belajar bahkan setelah belasan tahun berkarier. Di usia 34 tahun, ia masih menjadi tulang punggung Tottenham sekaligus pemimpin di ruang ganti, membuktikan bahwa konsistensi lebih berharga daripada sekadar bakat semata.
Dengan kondisi fisik yang disebutnya paling prima dan kepercayaan penuh dari pelatih, bukan tidak mungkin catatan penampilan WSL itu akan terus bertambah. Yang jelas, Spence telah meninggalkan jejak yang akan sulit disamai pemain lain di kompetisi ini.
