Persaingan antara Inggris dan Argentina di pentas Piala Dunia sudah berlangsung lama dan penuh warna. Mulai dari gol kontroversial, kartu merah, hingga kisah balas dendam, rivalitas ini selalu menyajikan drama tersendiri. Kini, dengan Piala Dunia 2026 di depan mata, kenangan pertemuan-pertemuan epik itu kembali terasa relevan.
Meskipun secara rekor pertemuan Inggris unggul tipis, beberapa momen paling ikonik dalam sejarah sepak bola justru lahir dari duel kedua tim. Artikel ini akan mengulas perjalanan rivalitas sengit Inggris vs Argentina dari generasi ke generasi, mulai dari tahun 1962 hingga 2002, serta bagaimana tensi politik ikut mewarnai laga-laga panas tersebut.
Pertemuan Pertama: Babak Grup 1962
Pada Piala Dunia 1962 di Chile, Inggris dan Argentina bertemu untuk pertama kalinya di fase grup. Pertandingan ini terbilang hambar dibandingkan duel-duel berikutnya. Gol dari Ron Flowers, Bobby Charlton, dan Jimmy Greaves membawa Inggris unggul 3-0, sementara Argentina hanya mampu mencetak gol hiburan di akhir laga.

Hasil tersebut membuat Inggris lolos ke perempat final berkat selisih gol yang lebih baik, meskipun akhirnya mereka tersingkir oleh Brasil. Pertemuan ini belum menunjukkan intensitas tinggi, tetapi menjadi awal dari rivalitas yang kelak meletup.
Insiden ‘Animals’ 1966: Awal Sesungguhnya Rivalitas
Baru pada Piala Dunia 1966 di Inggris, rivalitas ini benar-benar memanas. Di babak perempat final, Argentina merasa dicurangi setelah gol kemenangan Geoff Hurst dianggap offside. Namun, kontroversi terbesar justru datang dari kartu merah yang diterima kapten Argentina, Antonio Rattin, hanya dalam 33 menit.
Rattin menolak meninggalkan lapangan hingga pertandingan tertunda hampir delapan menit. Manajer Inggris saat itu, Alf Ramsey, bahkan menyebut pemain Argentina sebagai “binatang” dan melarang pemainnya bertukar jersey. Pertandingan ini disebut-sebut menjadi alasan diperkenalkannya kartu merah dan kuning pada Piala Dunia 1970. Rivalitas Inggris vs Argentina pun semakin membara.
Tangan Tuhan dan Gol Terbaik Sepanjang Masa (1986)
Jika ada satu laga yang paling membekas dalam rivalitas ini, itulah perempat final Piala Dunia 1986 di Meksiko. Empat tahun setelah Perang Falklands, tensi politik ikut mengalir ke lapangan hijau. Media Argentina membingkai pertandingan ini sebagai ajang meluapkan kebencian akibat konflik, sementara media Inggris juga menggunakan bahasa nasionalistis.
Di tengah atmosfer panas itulah Diego Maradona menciptakan dua momen abadi. Pertama, “Tangan Tuhan” – sebuah gol yang dicetak dengan tangan kirinya tanpa diketahui wasit. Kedua, gol solo yang melegenda setelah melewati setengah tim Inggris. Gary Lineker sempat memperkecil kedudukan, tetapi Argentina akhirnya menang 2-1 dan kemudian menjadi juara dunia. Hingga kini, gol tersebut dikenang sebagai salah satu yang terbaik dalam sejarah Piala Dunia.
Drama Kartu Merah Beckham (1998)
Pertemuan babak 16 besar Piala Dunia 1998 di Prancis menjadi saksi jatuhnya pahlawan Inggris, David Beckham. Setelah babak pertama yang sengit (Batistuta dan Shearer saling menukar penalti, Michael Owen mencetak gol solo spektakuler, dan Javier Zanetti menyamakan kedudukan), Beckham dikeluarkan dari lapangan karena menendang Diego Simeone.
Meskipun bermain dengan 10 orang, Inggris hampir menang setelah Sol Campbell mencetak gol, tetapi dianulir karena dianggap mendorong. Pertandingan berlanjut ke adu penalti, dan Argentina keluar sebagai pemenang setelah David Batty serta Paul Ince gagal mengeksekusi. Setahun kemudian, Simeone mengakui bahwa ia sengaja “menjatuhkan diri” untuk memprovokasi kartu merah Beckham – sebuah pengakuan yang semakin memperpanas rivalitas kedua tim.
Balas Dendam Beckham di Sapporo (2002)
Empat tahun setelah insiden 1998, David Beckham mendapat kesempatan menebus dosanya. Di Piala Dunia 2002 Jepang-Korea Selatan, Inggris bertemu Argentina di fase grup. Pada menit ke-44, Michael Owen dilanggar oleh Mauricio Pochettino di kotak penalti, dan Beckham yang menjadi eksekutor sukses mencetak satu-satunya gol pertandingan. Kemenangan 1-0 ini menjadi momen manis bagi Beckham dan Inggris.
Hasil itu memastikan Inggris lolos ke babak gugur, sementara Argentina untuk pertama kalinya sejak 1962 tersingkir di fase grup. Pertandingan di Sapporo Dome itu dikenang sebagai pertarungan sengit antara dua kubu yang masih menyimpan dendam, dan menjadi penutup sementara rivalitas Inggris vs Argentina di Piala Dunia – karena hingga saat ini mereka belum pernah bertemu lagi di turnamen utama.
Kesimpulan: Rivalitas yang Tak Pernah Padam
Meskipun sudah lebih dari dua dekade sejak pertemuan terakhir, rivalitas Inggris vs Argentina tetap hidup dalam ingatan para penggemar sepak bola. Setiap kali kedua tim diundi dalam grup atau babak yang sama, gairah lama langsung kembali berkobar. Mulai dari drama politik, kontroversi wasit, hingga gol-gol ajaib, persaingan ini telah melahirkan momen-momen yang akan terus dikenang lintas generasi.
Menjelang Piala Dunia 2026, bukan tidak mungkin Inggris dan Argentina kembali dipertemukan. Bila itu terjadi, pastinya akan menjadi salah satu laga paling ditunggu – karena sejarah telah membuktikan: saat kedua tim ini bertemu, segalanya bisa terjadi.
