Timnas Inggris kembali ke Grup A Nations League dengan ujian berat yang langsung menghadang, dan Thomas Tuchel dijadwalkan mengumumkan skuadnya pada Jumat untuk empat laga pembuka melawan Spanyol (kandang), Ceko (kandang dan tandang), serta Kroasia (tandang). Laga pembuka kontra Spanyol di Wembley pada Sabtu depan menjadi penanda dimulainya siklus baru menuju Euro 2028, ketika Inggris bertindak sebagai tuan rumah bersama. Bagi Tuchel, ini adalah momen untuk mengalihkan perhatian publik dari luka Piala Dunia dan membangun kembali momentum bersama Timnas Inggris.

Nama Tuchel memang belum lepas dari bayang-bayang kekalahan 2-1 dari Argentina di semifinal Piala Dunia di Amerika Serikat, sekitar dua bulan silam. Emosi atas hasil itu masih berputar: kekecewaan, luka, dan frustrasi yang menyentuh semua orang yang punya keterikatan pada tim ini. Sebagian penggemar menyalahkan Tuchel karena Inggris melepas keunggulan 1-0 saat pertandingan tinggal menyisakan lima menit, sementara sebagian lain memilih menghargai perjuangan tim yang menembus semifinal untuk keempat kalinya dalam sejarah Inggris.
Mengapa Hasil Piala Dunia Masih Membekas di Timnas Inggris
Kembalinya Tuchel ke lingkungan Premier League musim ini menyisakan satu momen yang ia sendiri ungkapkan. Dalam sebuah perbincangan dengan seorang kolega di ruang VIP, ia menyebut bahwa “orang-orang sedang menghabisi saya”. Kalimat itu kemungkinan masih berlaku hingga sekarang, karena kedua kubu penggemar masih hidup berdampingan dengan cara pandang yang berseberangan.
Di satu sisi, ada kemarahan dari sebagian pendukung yang belum bisa berdamai dengan peluang emas yang terbuang. Mereka menuding Tuchel sebagai pihak yang paling bertanggung jawab atas hilangnya keunggulan 1-0 di menit-menit akhir. Di sisi lain, ada apresiasi terhadap cara timnya berjuang menembus semifinal, karakter yang mereka tunjukkan, serta momen-momen heroik sepanjang perjalanan, terutama kemenangan atas Meksiko di Stadion Azteca pada babak 16 besar.
Pencapaian itu bukan hal sepele. Inggris harus menguras tenaga untuk melewati Norwegia di perempat final lewat perpanjangan waktu, sementara kemenangan atas Kroasia di laga pembuka fase grup menjadi salah satu pertandingan paling menegangkan. Ketika Inggris mengalahkan Prancis di perebutan tempat ketiga, hasil itu menjadi finis terbaik mereka di Piala Dunia sejak 1966.
Sulit mengukur berapa banyak penggemar yang benar-benar ingin melihat Tuchel pergi, sama sulitnya menghitung mereka yang masih menyimpan perspektif. Yang jelas, Tuchel tampak lebih terpengaruh oleh kelompok pertama. Ia masih merasa terluka oleh reaksi setelah Piala Dunia, sekaligus bingung, karena mencapai semifinal bukanlah hal yang bisa dianggap biasa bagi Inggris.
Kronologi Kekalahan dari Argentina di Semifinal
Untuk memahami dari mana kritik itu berasal, perlu dilihat bagaimana laga semifinal berjalan. Pada babak kedua, Tuchel tidak mampu menarik apa pun dari para pemainnya ketika Argentina menaikkan intensitas ke level paling agresif. Sebagian tanggung jawab memang ada padanya, karena ia tak menemukan cara mengembalikan penguasaan bola kepada timnya.
Akan tetapi, ada faktor fisik yang tidak bisa diabaikan begitu saja. Inggris kehabisan tenaga setelah bermain di ketinggian melawan Meksiko dengan sepuluh pemain, lalu melakoni 120 menit kontra Norwegia di Miami dalam suhu 40 derajat Celsius. Tekanan itu membuat tim mulai mundur jauh sebelum jeda hidrasi babak kedua, tepatnya ketika Tuchel memasukkan bek Ezri Konsa menggantikan winger Anthony Gordon dan beralih ke formasi lima bek.
Sejak titik itu, Inggris bermain dalam mode bertahan total. Keputusan menambah kekuatan di lini belakang diambil secara klinis berdasarkan bukti yang tersedia. Bagi Tuchel, itu terasa seperti pilihan dengan persentase terbaik, atau setidaknya opsi yang paling tidak buruk. Kenyataannya, keputusan tersebut gagal, dan cara kegagalan itu terjadi membuat citranya terlihat buruk di mata publik.
Apakah perubahan yang lebih menyerang akan menghasilkan akhir yang lebih baik? Pertanyaan itu sulit dijawab dengan pasti karena pertandingan sudah telanjur berjalan jauh. Yang bisa disimpulkan hanyalah bahwa Inggris pada akhirnya kalah dengan cara yang jelas, dan keputusan Tuchel menjadi sorotan utama setelahnya.
Dukungan FA yang Tak Goyah untuk Tuchel
Di tengah tekanan itu, Tuchel bisa mengambil kekuatan dari kepercayaan FA. Bukti paling jelasnya: FA disebut tidak akan berniat menyingkirkannya seandainya Inggris kalah dari Republik Demokratik Kongo di babak 32 besar. Laga itu tercatat sebagai salah satu pertandingan paling menegangkan dalam ingatan, ketika Inggris tertinggal 1-0 dengan 15 menit tersisa, dan Tuchel pun sempat bertanya-tanya apakah turnamennya akan berakhir di sana sebelum dua gol Harry Kane membalikkan keadaan.
Bagi sebagian kalangan, performa Kane di laga itu saja sudah cukup membuatnya layak meraih Ballon d’Or, karena ia menyelamatkan Inggris dari bencana bergaya Islandia 2016. FA juga menyukai bagaimana perubahan taktis Tuchel di tengah pertandingan membuat perbedaan, seperti yang terjadi di berbagai fase Piala Dunia lainnya, termasuk semangat tim yang ia bangun.
Tuchel memang sering berbicara soal persaudaraan di antara para pemainnya, dan hal itu disebut nyata, bukan sekadar sandiwara untuk kamera. FA menaruh nilai besar pada hal tersebut, sehingga mereka berdiri sepenuhnya di belakang Tuchel. Gagasan bahwa ia seharusnya mundur atau dipecat setelah finis di semifinal dianggap tidak masuk akal.
Dampak bagi Timnas Inggris dan Peta Kompetisi
Misi yang Tuchel nyatakan sendiri di Piala Dunia adalah menambah bintang kedua di dada seragam Inggris, dan ia belum mencapainya. Retorika “mati atau jaya” yang ia usung — meski sedikit dilunakkan selama turnamen berjalan — ikut membuat akhir cerita terasa lebih pahit. Namun, bukankah lebih baik tetap memasang target tertinggi? Publik tentu akan lebih kecewa jika ia sejak awal menyatakan bahwa perempat final atau semifinal sudah cukup.
Inggris sebenarnya berstatus unggulan keempat, dan secara internal FA khawatir target juara berada di luar jangkauan, terutama setelah melihat hasil undian. Undian memberi Inggris waktu mulai paling akhir dan jeda panjang antara laga grup pertama dan kedua, yang kemudian diikuti jadwal yang lebih padat. Perjalanan jauh dan panas menyengat sudah pasti membuat turnamen itu terasa berat.
Karena itu, kembalinya Inggris ke Grup A Nations League dipandang sebagai hal positif. Bermain di Grup B pada edisi sebelumnya terasa merugikan, bahkan lebih dari yang disadari FA, karena lawan-lawannya lebih mudah: Irlandia, Finlandia, dan Yunani — meski laga melawan Yunani di Wembley berakhir dengan kekalahan 2-1. Grup kualifikasi Piala Dunia juga tidak terlalu menguras tenaga. Harapannya, Nations League kali ini lebih mematangkan Inggris menuju Euro 2028, yang secara efektif menjadi turnamen kandang bagi mereka.
FA memang mendorong keras agar Inggris menjadi tuan rumah bersama Skotlandia, Wales, dan Republik Irlandia, dan ada optimisme nyata menjelang Euro. Ujian pertama tak lain adalah Spanyol di Wembley, dan hampir tidak ada laga pembuka yang lebih berat dari itu.
Teka-teki Skuad Jelang Empat Laga Nations League
Menjelang pengumuman skuad, Tuchel menghadapi sejumlah teka-teki pilihan pemain. Ia kemungkinan kehilangan empat pemain Piala Dunianya karena cedera: John Stones, Dan Burn, Djed Spence, dan Jordan Henderson. Kondisi ini membuka peluang bagi Tino Livramento, Levi Colwill, Jarrad Branthwaite, dan Lewis Hall untuk kembali dipanggil memperkuat lini belakang.
Di lini tengah, muncul pertanyaan apakah Kobbie Mainoo tetap dipertahankan setelah Piala Dunia yang kurang bersinar. Performanya untuk Manchester United justru terbilang bagus meski klubnya memulai musim dengan buruk. Alex Scott dan Myles Lewis-Skelly juga berharap mendapat panggilan kembali. Hal serupa berlaku untuk Cole Palmer dan Phil Foden yang bersaing di posisi nomor 10.
Sementara itu, Eberechi Eze dan Noni Madueke belum memulai musim dengan baik bersama Arsenal. Ada banyak energi baru yang mengelilingi Josh King dan Rio Ngumoha, begitu pula Dominic Calvert-Lewin dan Liam Delap. Semua mata akan tertuju pada Tuchel saat pengumuman skuad, dan nada bicaranya sama instruktifnya dengan daftar nama yang ia bacakan.
Perjalanan Tuchel bersama Timnas Inggris kini memasuki babak baru. Kekecewaan di Piala Dunia tidak akan hilang dalam semalam, tetapi Nations League melawan Spanyol, Ceko, dan Kroasia memberi ruang untuk membangun kembali momentum. Dukungan FA yang kokoh menjadi modal penting, dan pertanyaan terbesarnya adalah apakah publik bisa menerima penjelasan Tuchel atas keputusan-keputusannya di laga melawan Argentina.
Itu terasa seperti titik awal yang menentukan untuk kampanye menuju Euro 2028. Satu hal yang jelas perlu Tuchel hindari: bersikap terlalu defensif, karena pendekatan itu sudah terbukti tidak membuahkan hasil pada kesempatan terakhir.








