Bursa transfer MLS musim panas ini ditutup dengan belanja hampir 190 juta dolar AS, melonjak sekitar 65 persen dibandingkan jendela yang sama setahun sebelumnya. Angka itu menjadi rekor baru untuk pengeluaran musim panas dan menyumbang sekitar 45 persen dari total belanja liga sepanjang 2026. Lonjakan tersebut terjadi di tengah ketidakpastian: bayang-bayang Piala Dunia 2026 dan rencana perubahan aturan yang masih terdengar samar membuat setiap klub mengambil jalan yang berbeda-beda.

Jendela kali ini merupakan yang keempat sejak MLS mengizinkan klub membeli pemain dari klub lain memakai transfer fee konvensional, bukan general allocation money (GAM) yang selama ini berfungsi sebagai mata uang internal liga. Aturan baru itu membuat arus uang di MLS jauh lebih deras, terutama karena setiap klub kini lebih mudah mencapai batas konversi pendapatan transfer menjadi GAM. Karena itu, keputusan klub-klub pada musim panas ini bukan sekadar soal siapa datang dan pergi, melainkan petunjuk awal ke mana arah kompetisi ini akan bergerak.
Rekor Belanja di Bursa Transfer MLS Musim Panas
Secara keseluruhan, jendela musim panas kali ini membawa total belanja MLS untuk transfer dan trade sepanjang 2026 melewati angka 410 juta dolar AS, atau lebih dari dua kali lipat total pada 2023. Sebagian besar pertumbuhan itu justru terjadi antara 2024 dan 2025, ketika sistem pembayaran tunai untuk pemain memungkinkan transaksi senilai 41 juta dolar AS yang sebelumnya mustahil dilakukan. Artinya, lonjakan ini bukan efek satu musim, melainkan hasil akumulasi dari perubahan kebijakan yang berjalan bertahap.
Yang menarik, aturan cash-for-player tidak menggantikan penggunaan GAM, melainkan melengkapinya. MLS memberi ruang bagi klub untuk mengonversi hingga 3 juta dolar AS dari pendapatan transfer yang memenuhi syarat menjadi GAM setiap tahun, dan aturan baru ini membuat ambang tersebut jauh lebih mudah dicapai. Dampaknya, GAM yang beredar di liga kini jauh lebih banyak, sehingga lebih banyak tim bisa menekan hitungan salary cap, menyelesaikan trade, dan memakai dana itu untuk berbagai kebutuhan operasional lain.
Kombinasi faktor-faktor itulah yang membuat jendela musim panas ini tercatat sebagai salah satu yang paling berpengaruh dalam sejarah MLS. Bagi liga, angkanya bukan cuma soal gengsi, tetapi juga sinyal bahwa klub-klub semakin berani mengambil risiko finansial demi bersaing.
Ekspor Pemain Muda dan Nilai Jual MLS
Di sisi lain, MLS juga menikmati pemasukan yang terus naik dari penjualan pemain ke luar liga. Sejak 2022, MLS telah mengumpulkan hampir 800 juta dolar AS dari penjualan pemain, dan pemain yang pergi kini usianya semakin muda. Pada musim panas ini saja, ada enam pemain berusia 23 tahun atau lebih muda yang meninggalkan MLS lewat kesepakatan bernilai 5 juta dolar AS atau lebih, dan tiga di antaranya lahir di Amerika Serikat.
- Lucas Herrington, bek 19 tahun asal Australia, pindah dari Colorado Rapids ke Hull City dengan base fee 17 juta dolar AS.
- Zavier Gozo bergabung dengan Crystal Palace senilai 15 juta dolar AS. Ia adalah produk akademi Real Salt Lake dan pemain Amerika Serikat.
Kasus Gozo menjadi contoh terbaru dari jalur akademi MLS yang konsisten menghasilkan talenta kelas atas, yang kini diburu klub-klub di liga besar dunia. Bagi MLS, aliran ini penting karena penjualan pemain muda tidak hanya mendatangkan uang tunai, tetapi juga memperkuat reputasi liga sebagai pijakan sebelum pemain melangkah ke Eropa. Dengan kata lain, kemampuan menjual mahal sekaligus membeli mahal kini menjadi dua sisi dari model bisnis yang sama.
Sporting KC dan Rebuild Total yang Berani
Sporting Kansas City menjadi contoh paling mencolok dari perubahan haluan besar-besaran. Pada awal musim lalu, klub berpisah dengan Peter Vermes, sosok yang menjabat sebagai pelatih kepala sejak 2009 dan sporting director sejak tiga tahun sebelumnya. Pada September, klub merekrut David Lee, sporting director New York City FC, untuk posisi yang sama, lalu mendatangkan Raphaël Wicky sebagai pelatih kepala. Pada Januari tahun ini, miliarder Peter Mallouk membeli saham pengendali dan menjadi pemilik mayoritas baru.
Pergantian pelatih, direktur olahraga, dan pemilik sekaligus dalam rentang satu tahun adalah tantangan yang sama sekali berbeda dari sekadar mengganti satu orang saja. Ketika Lee bergabung, ia mewarisi operasi yang lama dijalankan hampir sepenuhnya oleh Vermes. Meski citra Vermes sebagai figur lama yang skeptis terhadap mekanisme skuad rumit bisa dibilang penyederhanaan berlebihan, faktanya begini: sebelum pemecatannya, klub tidak membelanjakan satu sen pun GAM untuk trade antara 2022 dan 2025. Dalam tiga jendela setelahnya, mereka membelanjakan 700.000 dolar AS sekaligus mengantongi 6 juta dolar AS dari penjualan Dejan Joveljic lewat mekanisme cash-for-player. Klub juga merekrut Francisco Belo dari Nottingham Forest sebagai wakil presiden data dan analitik, serta mulai berinvestasi di operasi scouting.
Di bawah kepemimpinan Lee, belanja kumulatif klub untuk akuisisi pemain sejak 2022 melesat dari 18 juta menjadi 56 juta dolar AS. Rata-rata Sporting KC mengeluarkan sekitar 2,9 juta dolar AS di jendela transfer sekunder, peringkat 23 di MLS. Musim panas ini, mereka menghabiskan total 27,2 juta dolar AS, sebuah investasi yang memang sangat dibutuhkan karena klub hanya memiliki 14 pemain senior di awal tahun.
Setelah penjualan Joveljic dan keputusan Lee melepas gelandang Spanyol Manu García, klub sempat berjalan tanpa designated player (DP) maupun pemain inisiatif U22 di skuadnya. Enam slot bergengsi itu biasanya menjadi alat utama tim MLS untuk bersaing, dan mengosongkan semuanya demi rebuild total nyaris tidak pernah terjadi. Lee belum mengisi seluruh slot tersebut: ia mendatangkan Andre Luiz sebagai DP seharga 18 juta dolar AS dan mengisi satu posisi U22 dengan Owen Wolff dari Austin seharga 4,5 juta dolar AS tunai. Berkat itu, klub tetap punya fleksibilitas besar untuk musim depan, meski harga yang harus dibayar di lapangan kini terlihat jelas: Sporting KC ada di dasar klasemen dan berpeluang mencatat salah satu rekor pertahanan terburuk dalam sejarah liga.
Musim Sprint dan Dua Kubu Strategi Klub
Perubahan jadwal MLS sudah di depan mata, dan para pengambil keputusan klub mulai merancang langkah untuk musim sprint 2027 serta setelahnya. Peralihan ke format fall-to-spring membuat jendela transfer musim panas justru semakin penting, sementara Larry Berg disiapkan mengambil alih jabatan komisioner. Meski detail usulan perubahan aturan yang bisa mengubah cara MLS menyusun skuad masih minim, sebagian klub jelas bertaruh bahwa pelonggaran pembatasan akan datang, yang berarti kontrak jangka panjang dan struktur pembayaran yang ditunda dalam jangka pendek. Klub-klub konservatif sebaliknya berhati-hati agar tidak terjebak dalam kesepakatan yang bisa merepotkan di kemudian hari.
Perpecahan strategi itu tampak dari agresivitas belanja musim panas ini. Sporting KC, St Louis City, dan Colorado Rapids membelanjakan jauh di atas anggaran biasa mereka, dengan rata-rata kenaikan pengeluaran 18,6 juta dolar AS.
- Los Angeles FC justru mengantongi 14 juta dolar AS setelah hanya mengeluarkan 525.000 dolar AS.
- Austin FC, yang biasanya royal, kini tengah menjalani rebuild sendiri dan memilih mengejar fleksibilitas ketimbang belanja besar.
- Charlotte FC menjadi satu-satunya klub yang tidak mengeluarkan biaya transfer, namun tetap mendatangkan Allan Saint-Maximin sekaligus meraih 6 juta dolar AS dari penjualan Kerwin Vargas.
Belum bisa dipastikan strategi mana yang paling menguntungkan setelah struktur musim dan aturan baru berlaku, tetapi jarak antar-pendekatan itu sangat mencolok. Jumlah tim yang belanja sesuai kebiasaan kurang lebih setara dengan yang belanja di atas maupun di bawah biasanya, sehingga tidak ada satu pola tunggal yang mendominasi.
Yang justru menarik, meski terjadi perpecahan strategi di antara klub, total belanja liga tetap tumbuh sangat pesat. Ini menunjukkan bahwa kenaikan investasi di MLS tidak lagi bergantung pada satu-dua klub besar, melainkan sudah menjadi kecenderungan kolektif. Tahun penuh perubahan memang menanti, tetapi arah dasar liga sepertinya sudah sulit dibalik.
