UEFA Siap Tuntut Infantino soal Skema Jual Piala Dunia

UEFA siap tuntut Gianni Infantino secara kriminal atas dugaan mismanajemen kriminal dalam rencana Fifa Forward Enterprise (FFE) yang gagal. Organisasi sepak bola Eropa itu juga telah mengajukan permohonan untuk mengakses dokumen terkait penyusunan rencana tersebut. Langkah ini menjadi eskalasi terbaru dalam perseteruan yang melanda dua badan pengatur sepak bola paling berpengaruh di dunia.

Dalam perkembangan yang dramatis, UEFA mengajukan permohonan terpisah di Amerika Serikat untuk memperoleh informasi dari FIFA dan perusahaan investasi Thrive Capital. UEFA beserta pihak-pihak terkait lainnya disebut sedang mempersiapkan tuntutan pidana di Swiss terhadap Infantino serta kemungkinan pejabat dan penasihat FIFA lainnya. Tuduhan tersebut disusun berdasarkan Pasal 158 Kitab Undang-Undang Hukum Pidana Swiss.

Infantino
(FILES) FIFA president Gianni Infantino looks on during a meeting with the White House Task Force on the FIFA World Cup 2026 in the Oval Office of the White House in Washington, DC on November 17, 2025. FIFA president Gianni Infantino has lost the “confidence” of the UEFA, European football’s governing body, it said in a statement on August 1, 2026, after his plan to allow private investment in the World Cup was withdrawn following a global backlash. (Photo by Brendan SMIALOWSKI / AFP)

UEFA Siap Tuntut Infantino secara Kriminal

Dalam dokumen pengadilan setebal 56 halaman, UEFA membeberkan detail rencana tuntutan tersebut. UEFA menggunakan perintah section 1782 untuk meminta pengungkapan dokumen dari entitas yang berbasis di Amerika Serikat. Mekanisme ini memungkinkan pihak yang berkepentingan dalam proses hukum di luar negeri untuk meminta penemuan bukti dari perusahaan yang berdomisili di AS.

Pada Kamis, UEFA mengajukan permohonan penemuan bukti ke Pengadilan Distrik AS untuk Distrik Timur New York. Jika permohonan ini dikabulkan, UEFA dapat menerbitkan panggilan pengadilan (subpoena) kepada Kushner dan Thrive Capital untuk menyerahkan dokumen terkait proposal FFE. UEFA pun akan diizinkan untuk memeriksa Kushner di bawah sumpah (deposition) sebagai bagian dari proses tersebut.

Thrive Capital, yang dipimpin oleh Joshua Kushner, disebut sebagai calon investor utama dalam rencana tersebut. Pengacara UEFA juga telah menunjuk 14 eksekutif yang diminta untuk menyimpan semua materi yang relevan. Sebelumnya, pengacara UEFA meminta Infantino dan FIFA mengambil langkah segera untuk mengidentifikasi, menemukan, dan mengawetkan semua dokumen serta informasi elektronik yang terkait dengan FFE.

Kronologi Rencana Fifa Forward Enterprise

Fifa Forward Enterprise merupakan skema Infantino untuk menjual sebagian kepentingan atas turnamen-turnamen milik FIFA. Rencana ini mencakup penjualan 20 persen bagian turnamen FIFA dengan nilai 4,2 miliar dolar AS. Namun, skema tersebut gagal dan akhirnya ditarik setelah menghadapi banyak penolakan dari berbagai pihak.

Dokumen pengadilan menyoroti nilai perusahaan yang dianggap “sangat rendah”, yakni hanya sekitar 20 miliar dolar AS (sekitar 14,7 miliar pound sterling). Nilai ini disebut bukan merupakan hasil lelang terbuka yang kompetitif, dan juga tidak pernah diuji oleh penilai independen. Padahal, UEFA menilai valuasi di atas 30 miliar dolar AS seharusnya mudah didukung berdasarkan kinerja keuangan FIFA dan kondisi pasar yang ada.

UEFA juga membandingkan skema ini dengan kesepakatan yang dikejar Infantino pada 2018 bersama konsorsium yang dipimpin SoftBank dari Jepang. Proposal yang akhirnya dibatalkan tersebut akan mengucurkan sekitar 25 miliar dolar AS untuk kepentingan 12 tahun atas Nations League dan Piala Dunia Antarklub versi yang diperluas. Perbandingan ini memperkuat argumen UEFA bahwa nilai yang ditawarkan dalam FFE jauh berada di bawah potensi sebenarnya.

Tuduhan Kelalaian dan Iming-iming 40 Juta Dolar

Infantino juga dituduh melakukan “kelalaian yang mengejutkan” karena mengesampingkan Dewan FIFA saat mengajukan rencana tersebut. Dokumen yang sama menyoroti tenggat waktu yang dipercepat yang diberikan kepada asosiasi anggota untuk mendukung skema ini. Lebih jauh lagi, asosiasi anggota disebut ditawari “iming-iming” sebesar 40 juta dolar AS agar bersedia menyetujui rencana tersebut.

Pengacara UEFA menggambarkan FFE sebagai “kendaraan bagi Infantino dan lingkaran kecilnya untuk memperoleh kepemilikan permanen” atas aset FIFA yang paling berharga. Tujuannya dinilai untuk mengambil keuntungan pribadi dengan merugikan FIFA, para anggotanya, dan pihak lain dalam keluarga sepak bola. Namun, UEFA menegaskan bahwa Thrive Capital maupun Kushner tidak dianggap sebagai calon terdakwa dalam proses pidana Swiss yang direncanakan.

Dampak bagi Hubungan UEFA dan FIFA

Langkah hukum ini semakin memperdalam jurang antara UEFA dan FIFA. Komite eksekutif UEFA dan sekitar 35 presiden asosiasi anggota mendapat pengarahan tentang perkembangan terbaru di Monte Carlo pada Kamis. Pertemuan itu digelar sesaat sebelum undian Liga Champions berlangsung.

Di sisi lain, rencana boikot turnamen FIFA untuk sementara dihentikan. FIFA telah memberikan jaminan bahwa tidak ada versi FFE yang akan diajukan kembali, sebagaimana diberitakan The Guardian. UEFA menegaskan posisi ini akan terus dipantau secara ketat dan dapat dipertimbangkan kembali sewaktu-waktu jika keadaan berubah.

UEFA juga mengusulkan penggunaan dana cadangan FIFA yang diperkirakan mencapai sekitar 5 miliar dolar AS untuk kepentingan asosiasi anggota. UEFA menegaskan niatnya untuk memastikan Infantino menghadapi lawan dalam pemilihan presiden FIFA pada Maret. Jika Infantino tetap mencalonkan diri untuk mandat lain, UEFA akan bergabung dengan konfederasi mitra untuk menawarkan alternatif yang kredibel, yaitu sosok yang berkomitmen pada integritas, akuntabilitas, pembangunan, dan perubahan kelembagaan yang nyata.

Konteks Sejarah Korupsi FIFA dan Respons Para Pihak

Dokumen setebal 56 halaman itu memuat bagian berjudul “sejarah korupsi yang berkepanjangan di antara pejabat FIFA”. Hal ini menunjukkan bahwa problem tata kelola FIFA yang berlarut-larut menjadi latar dari langkah hukum terbaru ini. UEFA seolah ingin memastikan bahwa reformasi di FIFA benar-benar berjalan dan tidak berhenti di permukaan.

FIFA dan Thrive Capital telah dihubungi untuk memberikan tanggapan atas perkembangan ini. Hingga artikel ini ditulis, belum ada pernyataan resmi yang masuk dari kedua pihak. Yang jelas, tekanan terhadap Infantino semakin besar menjelang pemilihan kepemimpinan FIFA pada Maret nanti.

Langkah UEFA untuk menuntut Infantino secara kriminal menandai babak baru dalam upaya menegakkan akuntabilitas di tubuh FIFA. Proses hukum masih dalam tahap persiapan, dengan potensi berjalan di Swiss maupun Amerika Serikat. Namun yang pasti, perhatian dunia sepak bola kini tertuju pada bagaimana Infantino dan FIFA merespons gugatan yang tengah disiapkan oleh UEFA ini.