Hasil Europa League: Celtic Tumbang, Palace Gagal Menang

Hasil Europa League pada rangkaian pertandingan terbaru menghadirkan beberapa kejutan, terutama kekalahan Celtic dari Celta Vigo. Celtic sempat memimpin lebih dulu, tetapi Celta membalikkan keadaan dan menang 2-1 di Parkhead. Di Istanbul, Crystal Palace harus puas bermain 2-2 melawan Besiktas meski lawan bermain dengan sepuluh orang pada akhir laga.

Rangkaian hasil tersebut penting karena menunjukkan betapa ketatnya fase liga Europa League musim ini. Beberapa tim yang diunggulkan kehilangan poin, sementara tim lain memanfaatkan momentum untuk memperbaiki posisi. Selain Celtic dan Palace, Sunderland, Juventus, serta Bayer Leverkusen juga mencatat hasil yang memberi warna berbeda pada persaingan di kompetisi ini.

Europa League

Celtic Kehilangan Keunggulan di Parkhead

Celtic memulai babak kedua dengan harapan besar setelah Mika Baur mencetak gol tak lama setelah jeda. Gelandang asal Jerman itu membuat tuan rumah unggul lebih dulu dan memicu sorak pendukung di Parkhead. Namun keunggulan tersebut tidak bertahan lama karena Celta Vigo merespons dengan cara yang efektif.

Javi Rodríguez menjadi mimpi buruk bagi Celtic dengan dua gol dalam kurun tiga menit. Bek asal Spanyol itu menyamakan kedudukan lewat sundulan, lalu menambah gol dengan tendangan keras yang sulit dibendung. Dua gol cepat itu membuat tuan rumah tertegun dan tidak mampu menemukan jalan untuk kembali menyamakan skor.

Kekalahan ini menambah catatan buruk Celtic di fase liga setelah sebelumnya mereka juga kalah dari Ferencvaros dan Benfica. Sebelumnya, Celtic tersingkir dari kualifikasi Liga Champions oleh LASK dengan agregat 5-4 meski sempat unggul 4-0 pada satu titik musim ini. Martin O’Neill belum mampu membuat tim tampil dominan, sementara Celta tampil lebih rapi dan pada fase awal tidak benar-benar menguji kiper Sam Johnstone.

Di luar lapangan, kelompok ultras Celtic, Green Brigade, memboikot pertandingan sebagai bentuk protes terhadap pengelolaan klub. Meski demikian, hanya sekitar beberapa ratus kursi yang tampak kosong sehingga dampak boikot tidak terlalu besar secara visual. Sekitar 3.000 pendukung Celta Vigo yang hadir justru membantu menciptakan suasana ribut di stadion.

Palace Gagal Memanfaatkan Keunggulan Jumlah Pemain

Crystal Palace datang ke Istanbul dengan misi bangkit setelah kekalahan 5-0 dari Brighton pada akhir pekan. Mereka tampil lebih dominan sebelum Wilfred Ndidi membuka skor bagi Besiktas pada masa injury time babak pertama. Situasi itu membuat Palace harus mengejar ketertinggalan di babak kedua.

Yéremy Pino menyamakan kedudukan enam menit setelah babak kedua dimulai, lalu Jean-Philippe Mateta membawa Palace berbalik unggul empat menit kemudian. Mateta sebenarnya sempat mencetak gol di babak pertama, tetapi gol itu dianulir oleh VAR. Bagi Mateta, laga ini menjadi start pertamanya sejak hari pembukaan, dan ia membayarnya dengan gol.

Junior Olaitan menyamakan skor pada menit ke-73, membuat Palace kembali kehilangan keunggulan. Peluang untuk menang sebenarnya terbuka setelah Umit Akdag mendapat kartu merah pada menit ke-77 karena pelanggaran canggung terhadap Jørgen Strand Larsen. Namun Palace tidak mampu memanfaatkan keunggulan jumlah pemain, sementara Strand Larsen harus ditarik keluar akibat benturan tersebut.

Sunderland dan Juventus Harus Puas Berbagi Poin

Sunderland gagal melanjutkan tren kemenangan di Europa League setelah ditahan Lech Poznan 1-1. Hasil ini tetap membuat mereka belum terkalahkan di Eropa musim ini setelah sebelumnya mengalahkan AZ Alkmaar dan Torreense. Sunderland mencetak gol cepat pada menit kedua melalui Timur Tutierov, diawali dari umpan lemah Mateusz Lis yang dimanfaatkan Nilson Angulo sebelum mengirim bola ke kotak penalti.

Tutierov mencetak gol pertamanya untuk Sunderland dalam start kompetitif ketiganya sejak bergabung dengan akademi pada 2023. Sunderland memiliki peluang menambah gol, antara lain melalui tembakan Malick Fofana yang membentur tiang dan upaya Nordi Mukiele yang diselamatkan Lis. Lech Poznan akhirnya menyamakan kedudukan pada menit ke-70 lewat tembakan rendah pengganti Leo Bengtsson. Régis Le Bris melakukan enam perubahan dari kekalahan Premier League melawan Bournemouth, termasuk start pertama musim ini bagi Habib Diarra setelah pulih dari cedera.

Juventus juga harus menerima hasil imbang 2-2 melawan Rennes setelah sempat memimpin lebih dulu. Zeki Celik membuka skor pada menit kelima, tetapi Musa Al-Taamari menyamakan kedudukan sepuluh menit kemudian dengan gol pertamanya di kompetisi ini. Rennes kemudian berbalik unggul melalui penalti Boulaye Dia dua menit sebelum jeda, sementara Juventus kesulitan menciptakan peluang sampai Nick Woltemade menyamakan skor dari titik penalti pada menit ke-67.

Juventus sempat mengira memenangi laga pada menit ke-88 melalui Jhon Lucumí, tetapi gol tersebut dianulir karena offside. Sebelum itu, penyerang asal Jerman, Nick Woltemade, dua kali nyaris mencetak gol lagi ketika Luciano Spalletti meningkatkan tekanan. Hasil ini setidaknya menyelamatkan Juventus dari kekalahan kedua beruntun setelah mereka dibekuk Lazio 3-0 di Serie A. Bagi Rennes, hasil ini menunjukkan mereka mampu menjaga ketenangan meski bermain di kandang lawan yang lebih diunggulkan.

Leverkusen Menang dan Memimpin Klasemen

Bayer Leverkusen meraih kemenangan 2-0 di markas OFI Crete berkat dua gol Jonas Hofmann dalam tiga menit. Hofmann masuk ke starting line-up setelah Martin Terrier mengalami cedera, dan ia memanfaatkan kesempatan itu dengan sangat baik. Kemenangan ini menjadi kemenangan ketiga beruntun Leverkusen di fase liga.

Hasil tersebut membawa Leverkusen ke puncak klasemen dengan sembilan poin. Mereka memimpin di atas Ferencvaros hanya karena selisih gol setelah tim Hongaria itu mengalahkan Torreense 4-1. OFI Crete sendiri sebelumnya membuat kejutan dengan mengalahkan Hoffenheim 2-0 pada laga pembuka fase liga, tetapi kali ini mereka dua kali kecolongan oleh pergerakan Hofmann.

Dampak Hasil Europa League bagi Klasemen dan Mental Tim

Dampak hasil Europa League terlihat bukan hanya pada angka di klasemen, tetapi juga pada kondisi mental tim. Celtic yang kembali kalah setelah sempat unggul menghadapi tekanan tambahan karena rentetan hasil buruk membuat kepercayaan diri pemain dan pendukung mudah goyah. Bagi Celta Vigo, kemenangan di Parkhead menjadi bukti bahwa mereka mampu bersaing meski tidak selalu mendominasi penguasaan bola.

Crystal Palace juga menghadapi ujian serupa setelah gagal menang meski lawan bermain dengan sepuluh orang. Hasil imbang ini bisa dilihat sebagai respons positif setelah kekalahan besar dari Brighton, tetapi kehilangan dua poin tetap terasa mengganggu. Sunderland masih belum terkalahkan di Eropa, sementara Juventus baru kehilangan poin pertamanya di fase liga ini.

Konteks Lebih Luas: Fase Liga yang Makin Ketat

Fase liga Europa League memang menuntut konsistensi karena setiap poin bisa berpengaruh besar pada posisi akhir. Tim yang tampil di liga domestik belum tentu langsung nyaman di kompetisi ini, seperti yang dialami Celtic dan Juventus. Sebaliknya, tim yang mampu beradaptasi cepat dengan jadwal padat dan rotasi pemain berpeluang besar menjaga posisi di papan atas.

Rotasi menjadi faktor penting bagi klub yang bermain di banyak kompetisi, seperti yang dilakukan Sunderland dengan enam perubahan dari laga Premier League melawan Bournemouth. Leverkusen juga membuktikan bahwa pemain pengganti atau pemain yang masuk karena cedera bisa menjadi pembeda. Dengan hasil-hasil ini, persaingan di fase liga diperkirakan tetap terbuka karena selisih poin antar tim masih dapat berubah cepat.

Kesimpulan

Secara keseluruhan, hasil Europa League kali ini menunjukkan bahwa keunggulan sementara tidak selalu menjamin kemenangan. Celtic menjadi contoh paling jelas setelah unggul lebih dulu tetapi kalah 2-1 dari Celta Vigo, sedangkan Crystal Palace gagal memanfaatkan kartu merah Besiktas. Sunderland dan Juventus juga harus puas berbagi poin, sementara Leverkusen memanfaatkan peluang untuk naik ke puncak klasemen.

Rangkaian hasil tersebut membuat persaingan di fase liga semakin menarik untuk diikuti. Bagi tim yang kehilangan poin, laga berikutnya akan menjadi kesempatan untuk membuktikan kemampuan bangkit. Bagi tim yang menang, tantangan terbesar adalah menjaga konsistensi agar posisi di klasemen tidak cepat berubah.