Gareth Southgate menegaskan bahwa dirinya tidak melihat adanya kemungkinan untuk kembali menangani klub di kompetisi Premier League. Mantan pelatih tim nasional Inggris itu mengaku sudah tidak lagi memiliki dorongan yang sama untuk terlibat dalam dunia sepak bola seperti beberapa tahun silam. Pernyataan tersebut ia sampaikan secara terbuka ketika menjadi tamu dalam podcast The Amol Rajan Connection.

Pria berusia 56 tahun itu memang sedang tidak menangani tim mana pun sejak mengundurkan diri dari kursi pelatih The Three Lions usai mengantar Inggris melaju ke final Euro 2024, di mana mereka kalah dari Spanyol. Sebelumnya, ia juga membawa Inggris ke final Euro 2020. Karena itulah pernyataan terbarunya ini menjadi sorotan, sebab Southgate termasuk nama yang kerap dikaitkan dengan sejumlah klub besar Inggris setiap kali ada kursi pelatih yang lowong.
Southgate: Tidak Ada Skenario untuk Melatih Klub Lagi
Ketika ditanya apakah ia akan mempertimbangkan kembali menangani klub di Premier League, Southgate memberi jawaban yang cukup tegas. Kepada Amol Rajan, ia mengatakan bahwa dirinya tidak melihat satu pun skenario yang membuatnya mengambil jalan tersebut. Pernyataan itu menutup spekulasi yang selama ini beredar tentang kemungkinan ia kembali ke dunia klub.
Southgate menjelaskan bahwa perubahan besar terjadi pada cara dirinya menikmati pekerjaan sebagai pelatih. Menjelang akhir masa baktinya bersama timnas Inggris, ia mengaku berhenti menikmati pertandingan, setidaknya untuk sementara waktu. Menurutnya, kemenangan sempat menjadi satu-satunya hal yang membuatnya tetap bertahan menjalani rutinitas tersebut.
Namun, pada fase akhir kariernya bersama Inggris, bahkan kemenangan pun hanya mampu membuatnya senang selama beberapa menit saja. Ia mengaku sudah sangat jarang menonton sepak bola. Salah satu laga terakhir yang ia saksikan langsung adalah final Piala FA, ketika ia datang untuk melihat klub favoritnya, Crystal Palace, meraih trofi pertama mereka. Setelah pertandingan itu, ia sama sekali belum lagi mengunjungi stadion sepak bola.
Dari pengakuan tersebut, Southgate menyimpulkan bahwa hasratnya untuk terlibat dalam sepak bola sudah berubah. Baginya, keputusan untuk menjauh bukan sekadar soal kelelahan sesaat, melainkan bentuk kesadaran bahwa prioritas dan sumber kebahagiaannya kini berbeda. Ia tidak melihat alasan untuk memaksakan diri kembali ke lingkungan yang dulu membuatnya kehilangan kenikmatan.
Jejak Karier: Dari Middlesbrough hingga Dua Final Euro
Nama Southgate sudah lama lekat dengan sepak bola Inggris, baik sebagai pemain maupun pelatih. Namun, pengalaman terakhirnya menangani klub terjadi cukup lama, yakni saat ia menangani Middlesbrough selama tiga tahun mulai 2006. Setelah periode itu berakhir, karier kepelatihannya lebih banyak berjalan di level tim nasional.
Bersama Inggris, ia membangun tim yang konsisten melaju jauh di turnamen besar. Ia membawa The Three Lions ke final Euro 2020, lalu mengulang pencapaian serupa di Euro 2024. Sayangnya, kedua final tersebut berakhir tanpa gelar, dan kekalahan dari Spanyol di Euro 2024 menjadi laga terakhirnya sebelum ia memutuskan mundur.
Rekam jejak itu membuat namanya selalu masuk dalam daftar kandidat ketika ada klub papan atas Inggris mencari pelatih baru. Namun, pernyataan terbarunya menunjukkan bahwa ketertarikan untuk kembali ke dunia klub tidak lagi datang dari dirinya. Dengan kata lain, ketersediaan dirinya di bursa pelatih tidak bisa lagi dianggap sebagai hal yang otomatis.
Kehidupan Baru di Luar Lapangan
Sejak meninggalkan kursi pelatih timnas Inggris, Southgate mengisi waktunya dengan berbagai pengalaman yang jauh berbeda dari rutinitas seorang pelatih. Ia sempat berkecimpung di dunia media. Pada awal tahun ini, ia memandu sebuah dokumenter BBC dengan melakukan perjalanan ke berbagai wilayah Inggris untuk memahami tantangan yang dihadapi para remaja dan anak laki-laki.
Selain itu, ia juga menghabiskan waktu sebagai dosen tamu di Harvard Business School di Boston. Pengalaman-pengalaman tersebut memberinya perspektif baru tentang kepemimpinan di luar konteks sepak bola. Ia bertemu dengan politikus, orang-orang di industri media, dan mempelajari berbagai pendekatan kepemimpinan dari bidang yang berbeda.
Southgate mengaku sangat menikmati periode 18 bulan terakhir dalam hidupnya. Ia menyebut selama 37 tahun, nilai dirinya selalu bergantung pada apakah ia menang atau kalah pada hari Sabtu. Kini, ia justru menikmati pengalaman yang beragam dan merasa sedang menjalani “film” yang berbeda dalam hidupnya.
Penuturan ini memberi gambaran bahwa keputusannya menjauh dari lapangan bukan keputusan emosional sesaat. Ia membangun identitas baru yang tidak lagi bergantung pada hasil pertandingan akhir pekan. Karena itu, wajar jika ketertarikannya untuk kembali ke dunia kepelatihan klub disebutnya sudah berubah secara mendasar.
Pandangan Southgate soal Kasus Manchester City
Dalam kesempatan yang sama, Southgate juga mengomentari kasus yang sedang membelit Manchester City. Bulan lalu, klub tersebut dinyatakan bersalah atas sebagian besar dakwaan terkait pelanggaran regulasi finansial Premier League pada rentang musim 2009-10 hingga 2017-18. Komisi independen menilai klub menyusun “kontrak palsu” serta mengandalkan perjanjian serupa untuk menggelembungkan pendapatan dan menekan biaya secara artifisial.
Manchester City membantah seluruh tuduhan tersebut dan mengajukan banding pada 2 Oktober. Kasus ini pun menjadi salah satu persoalan paling rumit yang pernah dihadapi Premier League, dengan implikasi hukum yang berpotensi panjang. Southgate menyebut akan selalu ada reaksi dari para penggemar yang bersifat kubu, mulai dari tuntutan hukuman berat hingga degradasi.
Meski demikian, ia mengingatkan bahwa persoalannya jauh lebih kompleks daripada sekadar tuntutan hukuman. Ia mengaku pernah berada di ruang rapat klub, serta bertemu dengan perwakilan UEFA dan FIFA, sehingga ia memahami betapa berlapisnya pengambilan keputusan di level atas sepak bola. Menurutnya, tidak ada pihak yang benar-benar diuntungkan dari situasi ini.
Southgate memahami bahwa Premier League mungkin sempat merasa terbukti benar karena kasus ini memakan waktu lama sebelum akhirnya ada putusan. Namun, setelah itu muncul pertanyaan yang jauh lebih sulit, seperti bagaimana menangani potensi gugatan hukum lanjutan, berapa lama prosesnya berjalan, dan hukuman seperti apa yang dianggap tepat. Baginya, menjaga jalannya kompetisi tetap sehat di tengah semua itu adalah pekerjaan yang luar biasa sulit.
Apa Artinya bagi Klub dan Industri Sepak Bola
Pernyataan Southgate menutup satu pintu yang selama ini dianggap masih terbuka bagi klub-klub Premier League. Klub yang tengah mencari pelatih dengan pengalaman menangani pemain bintang dan menghadapi tekanan media besar kini harus melihat kandidat lain. Figur seperti Southgate tidak muncul setiap musim, sehingga pilihannya untuk menetap di luar lapangan turut mempersempit pilihan yang ada.
Di sisi lain, pengakuan Southgate tentang hilangnya kenikmatan menjadi cermin beban mental yang menyertai profesi pelatih papan atas. Tekanan hasil pertandingan, sorotan publik, dan siklus evaluasi yang tidak pernah berhenti membuat sebagian pelatih kehilangan kegembiraan terhadap olahraga yang mereka tekuni. Pengalaman Southgate menunjukkan bahwa kesuksesan di level tertinggi tidak selalu berbanding lurus dengan kepuasan pribadi.
Bagi para penggemar, khususnya pendukung tim nasional Inggris, pernyataan ini juga menjadi penanda berakhirnya sebuah babak. Sosok yang selama bertahun-tahun menjadi wajah tim nasional kini memilih jarak dari pusat perhatian. Meski demikian, pengalamannya di dunia media dan pendidikan memberi jalur baru untuk tetap berkontribusi pada isu-isu yang ia anggap penting.
Konteks Lebih Luas dan Kemungkinan ke Depan
Kasus Manchester City dan komentar Southgate menggambarkan dua tekanan besar yang saat ini dihadapi sepak bola Inggris. Di satu sisi, ada tuntutan akan transparansi dan penegakan aturan keuangan yang adil. Di sisi lain, proses hukum yang berlarut-larut menimbulkan ketidakpastian bagi klub, kompetisi, dan para pemangku kepentingan lainnya.
Sementara itu, tren pelatih yang memilih rehat panjang atau beralih ke bidang lain setelah menangani tim nasional bukan hal yang sepenuhnya baru. Banyak figur elite memilih jeda untuk memulihkan energi sebelum mengambil keputusan berikutnya. Yang membedakan Southgate adalah kejelasan sikapnya bahwa ia tidak melihat skenario kembali ke kursi pelatih klub, bukan sekadar menunda keputusan.
Ke depan, arah karier Southgate kemungkinan besar akan tetap berada di wilayah yang ia sebut sebagai pengalaman berbeda, seperti media, pendidikan, atau kegiatan sosial. Bagi klub-klub yang berminat, satu-satunya harapan realistis adalah perubahan besar dalam cara dirinya memandang pekerjaan itu. Hingga saat ini, tidak ada indikasi bahwa perubahan tersebut akan terjadi.
Yang jelas, pernyataan terbarunya menegaskan bahwa keputusan untuk berhenti dari timnas Inggris bukan hanya soal hasil di Euro 2024. Ia sedang membangun hidup yang tidak lagi diukur dari hasil pertandingan akhir pekan.
Kesimpulan
Gareth Southgate secara tegas menutup kemungkinan kembali menangani klub di Premier League, dengan alasan bahwa hasratnya terhadap sepak bola telah berubah. Kariernya sebagai pelatih klub terakhir berlangsung di Middlesbrough hingga 2006, sementara masa baktinya di timnas Inggris berakhir setelah final Euro 2024.
Ia kini menikmati aktivitas di luar lapangan, mulai dari dunia media, dokumenter BBC, hingga mengajar sebagai dosen tamu di Harvard Business School. Ia juga menyoroti kerumitan kasus finansial Manchester City, yang menurutnya tidak membawa keuntungan bagi siapa pun. Bagi dunia sepak bola, sikap Southgate menjadi pengingat bahwa beban dan kenikmatan bekerja di level tertinggi tidak selalu sejalan.