Larangan Jarell Quansah Dua Laga di Piala Dunia 2026, Ini Dampaknya untuk Inggris

Bek Inggris Jarell Quansah Dihukum Larangan Dua Pertandingan

Federasi Sepak Bola Internasional (FIFA) memutuskan untuk memberikan sanksi larangan dua pertandingan kepada bek timnas Inggris, Jarell Quansah. Hukuman ini berlaku di ajang Piala Dunia 2026 setelah Quansah menerima kartu merah saat Inggris menghadapi Meksiko. Keputusan ini menjadi pukulan telak bagi skuad The Three Lions yang tengah bersiap menghadapi babak perempat final.

Kronologi Kartu Merah Quansah dan Hukuman FIFA

Insiden terjadi pada menit ke-54 pertandingan yang berakhir dengan kemenangan Inggris 3-2. Quansah melakukan tekel keras terhadap pemain Meksiko, Jesus Gallardo. Wasit langsung mengeluarkan kartu merah setelah meninjau tayangan ulang. Pelanggaran tersebut dikategorikan sebagai serious foul play.

Berdasarkan aturan FIFA, kartu merah karena pelanggaran serius otomatis menghasilkan larangan satu pertandingan. Namun, Komite Disiplin FIFA menambah satu laga lagi, sehingga total hukuman menjadi dua pertandingan. Akibatnya, pemain berusia 23 tahun itu harus absen di perempat final melawan Norwegia (22:00 BST) dan potensial semifinal melawan Argentina atau Swiss.

Quansah baru bisa kembali jika Inggris berhasil lolos ke final yang digelar di New Jersey pada 19 Juli 2026.

FA Pertimbangkan Banding, Tapi Tak Ada Jalur Hukum

Asosiasi Sepak Bola Inggris (FA) sempat mempertimbangkan untuk mengajukan banding. Namun, regulasi turnamen tidak menyediakan jalur untuk menggugat keputusan ini. Meski demikian, BBC Sport melaporkan bahwa FA telah menyampaikan protes keras ke FIFA terkait proses pengambilan keputusan. Mereka berargumen bahwa wasit diperlihatkan foto diam tekel dan tayangan slow motion sebelum melihat insiden dalam kecepatan penuh. Hal ini dinilai bisa menimbulkan bias yang dikenal sebagai outcome bias.

Sebagai perbandingan, di Premier League, ofisial selalu diperlihatkan insiden dalam kecepatan penuh terlebih dahulu. Namun, Inggris disebut sebagai outlier dalam praktik ini.

Dampak Larangan Quansah pada Skuad Thomas Tuchel

Larangan Jarell Quansah membuat situasi di pos bek kanan semakin rumit bagi pelatih Thomas Tuchel. Quansah sebelumnya menjadi pelapis saat Reece James cedera. Pemain pinjaman Bayer Leverkusen itu bahkan tampil penuh melawan Meksiko. Djed Spence baru dimasukkan sebagai pemain pengganti karena masalah kebugaran ringan.

Tuchel sebelumnya menyatakan optimistis James bisa tampil melawan Norwegia setelah mengalami cedera hamstring di pertandingan grup kedua melawan Ghana. Namun, ketidaktersediaan Quansah membuat opsi di bek kanan semakin terbatas.

Reaksi Pelatih dan Pemain Inggris

Asisten pelatih Anthony Barry menyebut kabar ini sebagai “kekecewaan”. “Bukan soal keputusan, tapi kami kehilangan pemain bagus. Dia luar biasa di latihan, dan kami punya cedera di posisi itu. Tapi keputusan sudah diambil, kami tak akan buang energi lagi,” ujarnya.

Winger Bukayo Saka juga mengungkapkan kekecewaan. “Ini sangat frustrasi bagi kami dan dia. Tapi kami tak di sini untuk mengeluh, kami harus beradaptasi dan memilih tim yang siap mengalahkan Norwegia.”

Inkonsistensi Hukuman: Kasus Folarin Balogun

Keputusan FIFA terhadap Quansah memunculkan perbandingan dengan kasus Folarin Balogun, striker Amerika Serikat. Balogun juga mendapatkan kartu merah karena serious foul play melawan Bosnia-Herzegovina. Seharusnya ia menerima hukuman dua pertandingan, namun FIFA hanya memberinya larangan satu laga yang ditangguhkan selama 12 bulan.

Keputusan kontroversial itu diambil setelah Presiden AS, Donald Trump, menelepon Presiden FIFA Gianni Infantino untuk meminta peninjauan ulang. Dalam pernyataan sepanjang 871 kata, FIFA beralasan mempertimbangkan “seluruh situasi spesifik” tanpa merinci bukti yang digunakan. Keputusan ini menuai kritik dari UEFA, Belgia, dan Thomas Tuchel.

Perbedaan perlakuan ini menimbulkan pertanyaan tentang konsistensi FIFA dalam menerapkan aturan. Beberapa pihak menuding adanya pengaruh politik dalam kasus Balogun.

Proses VAR dan Kontroversi Slow Motion

Andrew Giuliani, direktur eksekutif White House Task Force for World Cup, menyebut proses VAR untuk kasus Balogun telah salah diterapkan. Menurutnya, aturan VAR melarang penggunaan tayangan slow motion untuk menilai pelanggaran kontak. Narasi ini menyebar luas di media dan politikus AS, namun faktanya tidak tepat.

Protokol VAR menyatakan bahwa kecepatan penuh harus digunakan untuk menilai intensitas tekel, sementara slow motion bisa digunakan untuk menentukan titik kontak. Wasit dalam kedua kasus (Balogun dan Quansah) telah diperlihatkan insiden dalam kecepatan penuh, sehingga protokol tetap dipatuhi.

Setiap kompetisi menerapkan VAR secara berbeda. Di Piala Dunia, ofisial diperlihatkan foto diam, lalu slow motion, baru kecepatan penuh. Premier League melakukan sebaliknya setelah menerima masukan serupa dari Howard Webb. “Kami dikritik karena menampilkan tayangan lambat yang terlihat buruk, padahal saat kecepatan penuh tampak berbeda,” kata Webb pada Desember 2024. Kedua urutan itu sama-sama diizinkan asalkan kecepatan penuh tetap ditunjukkan.

Analisis: Masalah Bek Kanan Inggris Belum Selesai

Dengan absennya Jarell Quansah hingga final, pos bek kanan Inggris kembali menjadi sorotan. Sejak sebelum turnamen, masalah ini sudah muncul: Tino Livramento mundur karena cedera betis, sementara Trent Alexander-Arnold tidak dipilih. Beban pun tertumpu pada Reece James yang rentan cedera.

James sendiri belum bermain untuk Inggris sejak cedera hamstring melawan Ghana. Saat Quansah dikeluarkan, Ezri Konsa mengakhiri laga di pos bek kanan. Konsa juga debut Inggris di posisi tersebut, tapi Tuchel mungkin enggan memindahkan bek tengah andalannya ke sisi lapangan, terutama menghadapi ancaman Erling Haaland.

Opsi lain adalah Trevoh Chalobah yang dipanggil sebagai bek tengah pengganti Livramento, atau Djed Spence yang lebih nyaman di bek kiri. Ditambah lagi, Tuchel harus mempertimbangkan kecocokan bek kanan dengan pemain sayap favoritnya, Noni Madueke atau Bukayo Saka.

James disebut semakin dekat pulih, namun memainkannya langsung di laga sebesar perempat final mengandung risiko tinggi. Keputusan Tuchel dalam beberapa hari ke depan akan sangat menentukan nasib Inggris di Piala Dunia 2026.

Kesimpulan

Larangan Jarell Quansah selama dua pertandingan menjadi ujian bagi kedalaman skuad Inggris. Kontroversi proses VAR dan inkonsistensi hukuman dengan kasus Balogun semakin memanaskan suasana. Namun, Thomas Tuchel dan tim harus segera beradaptasi. Tanpa Quansah, opsi bek kanan Inggris kian terbatas, dan peran Reece James menjadi krusial jika ia benar-benar fit. Pertandingan melawan Norwegia akan menjadi ujian sesungguhnya.

Exit mobile version