Kekalahan Tottenham dari Aston Villa dengan skor 2-3 di kandang sendiri memastikan Spurs masih belum meraih satu pun kemenangan di Premier League musim ini. Tim asuhan Roberto De Zerbi itu hanya mampu mengumpulkan dua poin dari lima pertandingan dan kini terpuruk di zona tiga terbawah klasemen.
Kekalahan ini terasa semakin menyakitkan karena Tottenham sempat tampil dominan di awal laga. De Zerbi sendiri menyebut pasukannya “terlalu rapuh” setelah pertandingan, sebuah pengakuan yang menegaskan betapa rapuhnya mental tim yang baru saja menghabiskan lebih dari £300 juta di bursa transfer musim panas. Kini Spurs harus masuk jeda internasional selama tiga pekan dengan beban besar menghadapi pertanyaan tentang arah tim.

Jalannya Laga: Spurs Dominan, Villa yang Menang
Tottenham sebenarnya memulai pertandingan dengan sangat meyakinkan dan menguasai 20 menit pertama. Kiper Aston Villa, Zion Suzuki, harus bekerja keras untuk menepis peluang Savio dan Archie Gray, sebuah tanda bahwa tekanan tuan rumah nyata adanya. Namun masalah klasik kembali muncul: tanpa gol, Spurs selalu rentan ketika lawan menyerang balik.
Puncaknya terjadi di masa injury time babak pertama, saat gol Villa seolah sudah tak terhindarkan. Micky van de Ven harus meninggalkan lapangan untuk menerima perawatan karena terkena pukulan di wajah, membuat Tottenham bermain dengan sepuluh orang. Dalam situasi itu, Andy Robertson gagal menghentikan sepak pojok dan justru memberikan bola kepada John McGinn, lalu setelah percobaan Boubacar Kamara, Johan Manzambi menyontek bola dari jarak dekat untuk membuka keunggulan.
Babak kedua justru berjalan lebih buruk bagi tuan rumah. Nicolas Jackson dan Emi Buendia menambah dua gol sehingga Villa unggul 3-0, dengan gol kedua tercipta lewat tembakan keras dari jarak 25 yard yang bersarang di sudut atas gawang pada menit ke-79. Gol-gol telat dari Conor Gallagher dan Jan Paul van Hecke — yang menjadi gol pertama Spurs di liga musim ini — jelas tidak cukup untuk menyelamatkan apa pun.
Kekecewaan penonton terlihat nyata. Sebagian fans meninggalkan stadion lebih awal, bahkan ada yang melewatkan gol pembuka Villa karena sedang menuju area minuman saat turun minum. Setelah gol Buendia, ribuan orang memilih pulang dan tidak menyaksikan dua gol hiburan di penghujung laga.
Mengapa Kekalahan Tottenham dari Aston Villa Terasa Begitu Familiar
Ada satu statistik yang membuat hasil ini seolah sudah bisa ditebak sejak awal: Tottenham tidak pernah menang dalam 36 pertandingan Premier League terakhir setiap kali mereka kebobolan lebih dulu. Artinya, begitu Manzambi mencetak gol di injury time babak pertama, tulisan sudah jelas terpampang di dinding bahwa hasil buruk tinggal menunggu waktu.
De Zerbi menyoroti momen kebobolan tersebut sebagai titik kritis yang seharusnya bisa dikelola lebih baik. Ia mengungkapkan bahwa dirinya menempatkan Rodrigo Bentancur sebagai bek tengah dan Mateus Fernandes sebagai gelandang pada menit itu, dan menekankan bahwa bermain dengan sepuluh pemain seharusnya tetap bisa dijalani dengan komunikasi serta pertahanan yang lebih kompak. Menurutnya, para pemain senior semestinya tampil sebagai pemimpin dalam situasi tertekan seperti itu.
Pelatih asal Italia itu juga mengaku sudah mengantisipasi gaya permainan Villa yang musim ini jauh lebih sering melancarkan bola panjang dibandingkan musim lalu. Ia menyebut timnya telah menggelar banyak pertemuan untuk membahas hal tersebut, namun tetap gagal mengantisipasinya di lapangan. “Saya sangat sedih dan frustrasi dengan performa ini. Kami tidak boleh kalah dengan cara seperti ini. Gol kedua yang kami kebobolan sungguh luar biasa,” ujarnya.
Momen lain yang memperburuk keadaan datang ketika Mohammed Kudus sempat mencetak gol pada menit ke-60 dan dianggap sudah menyamakan kedudukan. Namun wasit menganulirnya karena Robertson dinilai berada dalam posisi offside saat mengirim umpan. Tujuh menit berselang, Jackson memanfaatkan bola panjang Suzuki dan pertandingan pun praktis selesai untuk Tottenham.
Tekanan yang Semakin Berat di Kursi De Zerbi
Kekalahan ini membuat posisi De Zerbi menjadi sorotan tajam. Fans Aston Villa bahkan menyanyikan chant “sacked in the morning” yang diarahkan langsung kepadanya, dan pada beberapa momen di babak kedua ia terlihat kehabisan ide setelah timnya tertinggal dua gol. Situasi ini diperparah oleh catatan bahwa ini adalah awal musim terburuk Tottenham di kompetisi kasta tertinggi sejak 2008-09, ketika mereka juga hanya mengumpulkan dua poin dari lima pertandingan.
Di musim 2008-09 tersebut, Juande Ramos akhirnya dipecat setelah tiga kekalahan tambahan, sebelum Harry Redknapp berhasil mengangkat Spurs ke peringkat kedelapan. Selain itu, Tottenham kini juga mencatat lima laga liga tanpa kemenangan di awal musim untuk pertama kalinya sejak 1986. Deretan angka itu menempatkan De Zerbi pada posisi yang sangat tidak nyaman.
Meski begitu, tidak semua pihak menuntut pemecatan. Mantan striker Brighton, Glenn Murray, menilai De Zerbi membutuhkan waktu lebih panjang untuk membangun timnya. Menurutnya, jika emosi dikeluarkan dari persamaan, statistik menunjukkan Tottenham unggul jumlah tembakan, penguasaan bola, dan sentuhan di kotak penalti lawan pada tiga dari empat pertandingan terakhir. “Mereka perlu bersabar dengan Roberto De Zerbi, dengan semua rekrutan baru, butuh waktu untuk menyatu dan saling mengenal,” katanya kepada BBC Final Score.
Kritik justru datang lebih keras dari mantan gelandang Chelsea dan timnas Inggris, Joe Cole, yang meragukan kebijakan transfer Tottenham. Ia menilai Spurs membayar terlalu mahal untuk hampir setiap pemain yang mereka datangkan musim panas ini, dan tidak yakin tim ini bisa dijauhkan dari perebutan zona degradasi jika terus kesulitan meraih poin.
Konteks Lebih Luas: Dua Proyek Besar yang Sedang Diuji
Aston Villa juga bukan tim yang tenang. Mereka menggelontorkan dana lebih dari £250 juta di bursa transfer, sebuah langkah yang diambil karena kebutuhan setelah kehilangan sejumlah pemain bintang. Sebagai juara Europa League, perubahan skuad memang sudah diperkirakan, dan periode transisi semacam ini wajar dialami klub mana pun yang melakukan perombakan besar.
Kemenangan pertama di liga ini pun sangat penting bagi Villa, mengingat mereka sempat menelan tiga kekalahan dalam empat pertandingan pembuka. Kontras dengan Spurs juga terlihat dari efektivitas belanja: Sandro Tonali, gelandang seharga £100 juta yang didatangkan dari Newcastle, tampil kalah menonjol dibandingkan kapten Villa, John McGinn, yang dibeli dari Hibs delapan tahun lalu dengan harga hanya £2,75 juta.
Savio, yang dibeli £75 juta dari Manchester City, tiga kali digagalkan Suzuki sebelum akhirnya meredup. Sementara Omar Marmoush, yang akan menelan biaya £60 juta setelah status pinjamannya permanen, tidak memberikan kontribusi berarti. Adapun Mateus Fernandes, rekrutan senilai £85 juta dari West Ham, ditarik keluar pada turun minum, dan De Zerbi mengaku tidak menyukai penampilannya.
De Zerbi tetap membela bursa transfer musim panas klubnya. Ia menegaskan bahwa prosesnya berjalan panjang dan situasi berubah berkali-kali, termasuk karena adanya aturan financial fair play yang harus dipatuhi. Ia juga menyebut Tottenham tidak berhasil menjual pemain yang sebelumnya diyakini punya peluang untuk dijual. “Klub dan pelatih tidak tidur, kami tahu karakteristik para pemain. Kalau kami tidak mengambil keputusan berbeda, itu karena kami tidak bisa,” ujarnya.
Penutup
Secara keseluruhan, kekalahan Tottenham dari Aston Villa bukan sekadar kehilangan tiga poin, melainkan cerminan masalah yang lebih dalam: mentalitas yang rapuh saat tertekan, ketergantungan pada permainan dominan tanpa penyelesaian, dan belanja besar yang belum berbuah hasil. Dengan dua poin dari lima laga dan posisi di zona degradasi, Spurs memasuki jeda internasional dalam kondisi yang jauh dari kata aman.
Di sisi lain, kemenangan ini memberi Villa pijakan untuk menata ulang musim mereka setelah start yang goyah. Bagi Tottenham, tiga pekan ke depan akan menjadi masa yang menentukan, bukan hanya untuk memperbaiki kebugaran dan taktik, tetapi juga untuk menentukan seberapa besar kesabaran klub terhadap proyek yang sedang dibangun De Zerbi.