Kevin Lamour Dipecat FIFA Usai Kritik Gianni Infantino

Kevin Lamour resmi dipecat FIFA dari jabatannya sebagai Chief Operating Officer (COO). Pemecatan ini terjadi kurang dari tiga pekan setelah Lamour melontarkan kritik keras terhadap rencana Presiden FIFA Gianni Infantino yang batal untuk menjual saham kompetisi kepada investor swasta. Kabar tersebut dikonfirmasi langsung oleh juru bicara FIFA kepada BBC Sport.

Kevin Lamour

Keputusan ini kian memperpanjang daftar gejolak internal yang melanda FIFA dalam beberapa pekan terakhir. Dalam pernyataan resminya, juru bicara FIFA hanya menegaskan bahwa hubungan kerja antara FIFA dan Lamour sebagai COO telah berakhir pada 17 Agustus 2026. FIFA juga menyampaikan terima kasih atas dua tahun pengabdian Lamour serta mendoakan yang terbaik bagi masa depannya.

Kronologi Pemecatan Kevin Lamour oleh FIFA

Para staf FIFA mengetahui kabar ini melalui email yang dikirim Sekretaris Jenderal Mattias Grafstrom pada Senin malam. Dalam email tersebut, Grafstrom menyampaikan bahwa organisasi dan Lamour telah sepakat untuk berpisah. Surat terpisah juga dikirimkan kepada anggota Dewan FIFA dan isinya sempat dilihat oleh BBC Sport.

Dalam suratnya, Grafstrom menulis bahwa keputusan ini diambil setelah melalui pertimbangan yang matang dan dengan rasa hormat yang besar kepada Kevin, baik secara pribadi maupun profesional. Ia juga menyampaikan rasa terima kasih atas kontribusi serta komitmen Lamour yang bekerja atas nama FIFA setiap hari. “Saya ingin mengucapkan terima kasih kepada Kevin atas kontribusinya dan berharap yang terbaik untuk masa depannya,” tulis Grafstrom.

Menariknya, Lamour disebut tidak diundang dalam pertemuan para eksekutif senior di Maroko yang digelar awal bulan ini. Dalam forum itulah Infantino mendapatkan dukungan dari sejumlah petinggi FIFA. Kondisi ini menjadi indikasi awal bahwa posisi Lamour di organisasi semakin rapuh.

Kritik Pedas Lamour yang Berujung pada Pemecatan

Sebelum dipecat, Lamour dikenal sebagai pejabat yang berani bersuara. Pada bulan lalu, ia menggambarkan rencana kontroversial FIFA Forward Enterprise (FFE) sebagai “proyek satu orang” dan menegaskan bahwa saatnya para pemimpin politik sepak bola bertanya pada diri sendiri dan mengambil keputusan yang tepat. Ia juga menyebut administrasi FIFA sendiri telah “ditipu” oleh proyek yang kini sudah dibatalkan tersebut.

Lamour menegaskan bahwa misi ratusan karyawan FIFA yang penuh semangat, dedikasi, dan menjadi teladan adalah melayani sepak bola. Menurutnya, seorang presiden seharusnya mampu menyatukan orang, mempersatukan, dan menginspirasi mereka. “Hari ini, kami justru mengalami yang sebaliknya,” ujarnya dalam pernyataan yang dikutip BBC Sport.

Ia pun mengakui memiliki kewajiban loyalitas kepada majikannya, tetapi juga kepada nilai-nilai tertentu dan dukungan kepada rekan-rekan kerjanya. Lamour bahkan sudah mengantisipasi risiko dari sikapnya tersebut. “Jika itu berarti saya kehilangan pekerjaan, maka biarlah. Saya akan memahami dan menghormati keputusan itu. Setidaknya saya akan tidur nyenyak malam ini,” ucapnya.

Lamour bergabung dengan FIFA pada November 2024 setelah sebelumnya menjabat sebagai wakil sekretaris jenderal UEFA. Dalam hierarki organisasi FIFA, posisinya berada dua tingkat di bawah Infantino. BBC Sport telah menghubungi Lamour untuk meminta tanggapan terkait pemecatannya.

Kisah di Balik Rencana FIFA Forward Enterprise yang Batal

Tekanan terhadap Infantino terus meningkat sejak ia menggagas perusahaan baru bernama FFE. Perusahaan ini dirancang untuk mengelola hak komersial dan tiket seluruh kompetisi FIFA, termasuk Piala Dunia. Namun, rencana ambisius tersebut akhirnya batal setelah menuai kritik dari berbagai pihak.

Pemicu utamanya adalah rencana Infantino menjual 21 persen saham perusahaan itu kepada perusahaan investasi swasta. UEFA, Concacaf yang membawahi sepak bola Amerika Utara dan Tengah serta Karibia, dan Konfederasi Sepak Bola Asia (AFC) secara terbuka menolak rencana ini. UEFA bahkan mengancam akan memboikot Piala Dunia jika rencana tersebut tetap dilanjutkan.

Setelah Lamour mengkritik Infantino, penasihat senior presiden FIFA itu, Carlos Cordeiro, juga memilih mengundurkan diri. Pasca pembatalan proposal tersebut, UEFA dan Concacaf pun menarik dukungan mereka terhadap pencalonan Infantino untuk periode keempat. Kongres FIFA akan digelar pada Maret tahun depan.

Dukungan Politik yang Mulai Terbelah

Meski menghadapi tentangan, Infantino masih memiliki basis dukungan yang tidak sedikit. Beberapa anggota Concacaf, termasuk Meksiko, justru memilih berbeda dari konfederasi mereka dan menyatakan dukungannya kepada Infantino. Konfederasi Afrika, Amerika Selatan, dan Oseania juga dilaporkan berada di belakang Infantino.

Namun, gelombang penarikan dukungan terus berdatangan. Scottish FA menjadi badan sepak bola terbaru yang menarik dukungannya terhadap Infantino pada Senin lalu. Sebelumnya, Inggris, Wales, Irlandia Utara, dan Republik Irlandia telah lebih dulu melakukan langkah serupa, sementara organisasi amal tata kelola sepak bola FairSquare juga menulis surat kepada FIFA yang menuntut Infantino tidak diizinkan maju kembali.

Pemecatan Kevin Lamour oleh FIFA menunjukkan betapa dalamnya perpecahan yang terjadi di tubuh organisasi sepak bola dunia saat ini. Kritik yang ia sampaikan tidak hanya menyoroti kebijakan komersial, tetapi juga arah kepemimpinan Infantino secara keseluruhan. Dengan kongres FIFA yang akan berlangsung tahun depan, dinamika politik di internal FIFA diprediksi masih akan memanas.

Nasib Lamour menjadi pengingat bahwa menyuarakan kritik di lingkungan organisasi sebesar FIFA dapat membawa risiko besar. Namun, langkahnya ikut membuka ruang diskusi yang lebih luas soal transparansi dan akuntabilitas dalam sepak bola global. Kini tinggal bagaimana FIFA dan para pemangku kepentingan menjawab tuntutan perubahan tersebut.