Prediksi juara Liga Champions 2026-27 tengah ramai diperbincangkan menjelang bergulirnya fase liga pekan ini. Paris Saint-Germain (PSG) datang dengan ambisi meraih gelar ketiga secara beruntun, tetapi lima wakil Inggris siap menghadang langkah mereka. Arsenal, yang musim lalu menjadi runner-up, justru disebut-sebut sebagai favorit untuk memperbaiki pencapaian itu, dengan partai final dijadwalkan berlangsung di Madrid pada 5 Juni tahun depan.
Untuk menguji kekuatan setiap kandidat, BBC Sport meminta pandangan dua pakar sepak bola Eropa, Julien Laurens dan Guillem Balague. Keduanya tidak hanya memberikan analisis soal tim favorit, tetapi juga memilih pemain-pemain kunci yang layak disorot sepanjang musim. Data statistik dari Opta pun ikut memetakan peluang setiap kontestan untuk mengangkat trofi paling prestisius di Eropa tersebut.
Prediksi Juara Liga Champions 2026-27 dari Para Pakar
Julien Laurens dan Guillem Balague sama-sama mengakui kekuatan PSG sebagai juara bertahan dua musim beruntun. Namun, keduanya punya pandangan berbeda soal tim yang paling berpeluang menggantikan atau mempertahankan gelar. Berikut ulasan lengkap dari kedua pakar tersebut.
Julien Laurens: Arsenal Juara Berkat Pertahanan Terbaik
Julien Laurens menilai PSG hampir mustahil meraih tiga gelar beruntun. Menurutnya, dua gelar berturut-turut sudah merupakan pencapaian istimewa, tetapi tiga kali juara beruntun hanya mungkin terjadi jika tim memiliki Cristiano Ronaldo di dalam skuad—dan PSG tidak memilikinya. Meski begitu, ia tetap memperkirakan PSG akan tampil kompetitif dan setidaknya menembus babak semifinal.
Laurens juga mengaku belum sepenuhnya percaya dengan proyek Jose Mourinho di Real Madrid. Ia justru memilih Bayern Munich dan Arsenal sebagai dua tim yang bakal bertemu di final, dengan Arsenal keluar sebagai pemenang. “Mereka memiliki pertahanan terbaik di Eropa sejauh ini, dan pertahanan yang kuat itulah yang menentukan gelar juara,” ujarnya.
Guillem Balague: PSG dan Barcelona Masih Terdepan
Guillem Balague menilai awal musim PSG yang tidak konsisten justru menunjukkan betapa sulitnya mempertahankan level permainan tertinggi. Luis Enrique terus mendorong timnya bermain dinamis dengan tekanan tanpa henti, sementara fase liga kerap dijadikan ajang eksperimen untuk mematangkan strategi. Karena itu, ia memperkirakan akan ada masa transisi dan sederet hasil mengejutkan sebelum PSG tampil penuh mulai Januari.
