Pelatih Sebastien Pocognoli menegaskan fokusnya adalah merapikan permainan Skotlandia, bukan mengubah segalanya, menjelang dua laga Nations League dan persiapan menuju Euro 2028. Ia menilai kampanye pertama bersama tim nasional sudah meninggalkan banyak hal positif yang perlu dilanjutkan. Karena itu, ia memilih kata “kontinuitas” sebagai pegangan utama dalam menyusun skuad terbaru.
Pernyataan itu disampaikan setelah Skotlandia melewati kampanye awal yang penuh wajah baru dan keputusan penting. Hasil di lapangan belum sepenuhnya stabil, tetapi pelatih berusia 39 tahun itu tetap melihat dasar yang bisa dikembangkan. Konteksnya penting karena Skotlandia sedang mengejar hasil di Nations League sekaligus menyiapkan fondasi untuk turnamen besar yang akan mereka tuan rumah bersama beberapa negara lain.

Sebastien Pocognoli dan Misi Kontinuitas di Nations League
Dalam skuad terbaru, Sebastien Pocognoli memanggil kembali Scott McTominay, Che Adams, dan Kieran Tierney. Kehadiran trio itu diharapkan memberi pengalaman serta konsistensi pada tim yang sejak kepergian mengejutkan Steve Clarke musim panas lalu telah mengalami banyak perubahan. Selain itu, James Penrice menerima panggilan pertama sebagai bentuk apresiasi atas performanya bersama Rangers.
Pocognoli menegaskan tidak ada alasan untuk membongkar seluruh pendekatan hanya karena hasil terakhir kurang memuaskan. Ia mengaku puas dengan proses di kamp pertama dan ingin melanjutkan apa yang sudah dibangun. Namun, ia juga menyadari pentingnya meraih hasil bagus agar para pemain mendapatkan kepercayaan diri dan para pendukung kembali bersemangat.
Menurutnya, keseimbangan menjadi kunci antara melakukan perubahan, mencoba hal baru, dan tetap meraih kemenangan. Ia tidak ingin eksperimen berjalan tanpa arah karena pertandingan internasional memberi ruang yang terbatas. Dengan waktu persiapan yang singkat, setiap sesi latihan dan setiap keputusan taktik harus memberi dampak jelas bagi tim.
Dari Optimisme ke Kritik: Latar Belakang Tekanan di Hampden
Tekanan terhadap Skotlandia muncul setelah kekalahan dari Slovenia di Hampden yang tidak terisi penuh. Sebelumnya, tim ini sempat membangun optimisme lewat penampilan dominan saat bermain imbang di markas Slovenia dan kemenangan 2-0 atas Makedonia Utara. Kekalahan 0-3 dari Swiss di kandang juga sempat dimaklumi karena Jack Hendry mendapat kartu merah cepat dan lawan berperingkat 12 dunia segera mencetak gol.
Kekalahan kedua berturut-turut di Hampden di bawah asuhan pelatih asal Belgia itu terasa berbeda. Kapten Andy Robertson menyebut timnya “kalah dalam duel” dan sama sekali “tidak cukup baik”. Skotlandia juga dibedah secara defensif oleh Slovenia, tim yang berada sembilan peringkat di bawah mereka dalam ranking dunia, sehingga muncul pertanyaan tentang pendekatan, sistem, dan komposisi skuad.
Dalam dunia sepak bola yang cepat bereaksi terhadap hasil, kekalahan di kandang dari tim di luar 50 besar ranking dunia memang wajar memicu sorotan. Situasinya semakin terasa berat karena laga itu menjadi pertandingan terakhir dalam rangkaian empat pertandingan sebelum jeda sekitar enam pekan. Akibatnya, kritik tidak langsung mereda dan evaluasi terhadap Pocognoli berlangsung lebih lama.
Pocognoli mengaku ikut merasakan kekecewaan Tartan Army, tetapi setelah beberapa hari ia menilai perasaan sebenarnya justru positif. Menurutnya, kamp debut yang dipenuhi wajah baru dan keputusan-keputusan tegas tetap menghasilkan banyak hal baik. Ia ingin tim melanjutkan fondasi itu sambil membersihkan situasi yang masih menjadi masalah.
Dampak bagi Skotlandia: Poin, Promosi, dan Kepercayaan Diri
Skotlandia saat ini berada di posisi ketiga Grup B1 Nations League. Mereka membutuhkan minimal empat poin agar masih punya peluang finis kedua dan tampil di play-off promosi. Sementara itu, satu poin saja cukup untuk menjauhkan ancaman degradasi, sehingga dua laga melawan Makedonia Utara dan Swiss menjadi sangat menentukan.
Bagi Pocognoli, hasil bagus bukan hanya soal angka di klasemen. Ia menilai kemenangan penting untuk memberi sesuatu kepada para pendukung dan menumbuhkan keyakinan di ruang ganti. Menurutnya, kemampuan memenangi pertandingan adalah faktor utama dalam upaya lolos ke turnamen besar, sehingga momentum harus segera dibangun.
Ia juga ingin skuadnya mempertahankan hal-hal baik yang sudah ditunjukkan melawan Slovenia dan Makedonia Utara dalam waktu singkat. Namun, ia tidak menutup mata pada bagian-bagian yang perlu dibersihkan, terutama situasi defensif yang membuat Skotlandia rentan. Pendekatan ini menunjukkan bahwa fokusnya adalah perbaikan bertahap, bukan perubahan total.
Euro 2028 dan Pekerjaan Besar yang Menanti
Setelah Nations League, perhatian Skotlandia akan beralih ke kualifikasi Euro 2028, yang oleh Pocognoli disebut sebagai “pekerjaan besar”. Skotlandia tetap harus lolos ke turnamen yang mereka tuan rumah bersama Inggris, Wales, dan Republik Irlandia. Meski status tuan rumah memberi konteks khusus, tempat di putaran final tidak otomatis didapat karena dua tempat disediakan jika ada negara tuan rumah yang gagal lolos.
Undian kualifikasi dijadwalkan berlangsung di Belfast pada 6 Desember, sedangkan pertandingan grup dimulai pada Maret tahun depan. Karena itu, waktu yang dimiliki Pocognoli bersama para pemainnya terasa sangat berharga. Ia ingin memanfaatkan setiap pertemuan untuk mengenal skuad lebih dalam, termasuk membaca bahasa tubuh dan sikap pemain dalam berbagai situasi.
Pengalaman pemain senior diharapkan mempercepat proses itu. McTominay yang bermain untuk Napoli, Adams di Torino, dan Tierney dari Celtic membawa jumlah caps yang bisa menjadi modal berharga. Pocognoli berharap kehadiran mereka membantu menciptakan konsistensi di skuad yang sedang berada dalam fase transisi.
Peluang James Penrice dan Kembalinya Pemain Senior
Pemanggilan Penrice menjadi salah satu keputusan menarik dalam skuad terbaru. Bek kiri berusia 27 tahun itu tampil impresif sejak bergabung dengan Rangers sebagai pemain pinjaman dari AEK Athens pada Agustus. Fleksibilitasnya juga dianggap menguntungkan karena Derek McInnes kadang memainkannya di lini tengah.
Pocognoli menjelaskan bahwa timnya kehilangan beberapa pemain di sisi kiri. Kombinasi antara kebutuhan itu, kualitas Penrice, dan karakter yang dicari dalam sistem membuat pemanggilan tersebut menjadi pilihan logis. Ia menilai Penrice bisa sangat berguna dan pantas mendapatkan kesempatan itu.
Kasus Lennon Miller: Kompetisi Ketat di Lini Tengah
Di sisi lain, keputusan tidak memanggil Lennon Miller kembali menjadi sorotan. Gelandang Udinese berusia 20 tahun itu sempat kembali ke skuad setelah absen dari Piala Dunia, tetapi kini harus menerima kenyataan tidak dipanggil lagi. Pocognoli menilai hal ini bukan topik besar, meski perjalanan karier internasional Miller tetap menarik untuk dicermati.
Miller sempat tampil menonjol dalam satu-satunya laga sebagai starter untuk Skotlandia, yaitu kemenangan 4-0 atas Liechtenstein pada Juni 2025. Setelah itu, ia diharapkan terus berkembang, tetapi hanya bermain tiga menit untuk tim nasional. Kondisi ini membuat pengelolaannya di level internasional menjadi pertanyaan tersendiri.
Pocognoli menilai Miller bersaing di area tim yang paling kompetitif. Ia ingin melihat gelandang muda itu tampil lebih tinggi di lapangan, bukan hanya sebagai nomor enam seperti perannya di Udinese. Karena itu, Skotlandia menawarkan kesempatan bermain untuk tim U-21 agar Miller bisa dilihat dalam posisi dan bentuk permainan yang diinginkan tim senior.
Bagi Pocognoli, penampilan baik bersama U-21 akan menjadi semacam laporan scouting yang berharga untuk masa depan. Ia menyebut kasus Findlay Curtis sebagai gambaran bahwa performa di level muda bisa membantu staf melihat pemain di posisi terbaiknya. Pendekatan ini sejalan dengan keinginannya membangun skuad secara bertahap sambil tetap mengejar hasil.
Penutup
Secara keseluruhan, fokus Sebastien Pocognoli di Skotlandia adalah merapikan detail dan menjaga kontinuitas, bukan memulai lagi dari nol. Ia perlu menyeimbangkan eksperimen, pemanggilan pemain baru, dan tuntutan hasil di Nations League. Kembalinya pemain senior serta peluang bagi Penrice memberi opsi, sementara kasus Miller menunjukkan bagaimana persaingan di dalam skuad tetap ketat.
Dengan kualifikasi Euro 2028 sudah menanti, setiap pertandingan menjadi bagian dari persiapan yang lebih besar. Hasil melawan Makedonia Utara dan Swiss akan menentukan apakah Skotlandia bisa mengubah tekanan menjadi momentum. Dari situ, arah proyek Pocognoli akan terlihat lebih jelas.