Troy Parrott Bersinar di Real Betis Lewat Jalan Terjal

Troy Parrott sedang menikmati pekan terbaiknya. Striker Republik Irlandia itu mencetak gol kemenangan Real Betis atas Real Madrid asuhan José Mourinho, lalu mengulanginya empat hari kemudian pada debutnya di “Bigger Cup” melawan Lille. Dua pertandingan, dua gol, dan dua kali menjadi penentu kemenangan — catatan yang cukup mengesankan bagi pemain yang dulu pernah dicap belum siap.

Troy Parrott

Parrott baru saja bergabung dengan Betis pada bursa transfer musim panas ini setelah ditebus sekitar £17 juta dari AZ Alkmaar. Jalan yang ia tempuh untuk sampai ke titik ini jauh dari mulus: dari akademi Tottenham, serangkaian masa pinjaman yang mengecewakan, sampai akhirnya menemukan performa terbaiknya di Belanda. Kini, di usia 24 tahun, ia mulai membayar kepercayaan yang diberikan klub Spanyol tersebut.

Dua Laga, Dua Gol: Ketajaman Troy Parrott di Real Betis

Gol pertama datang dari bangku cadangan. Parrott masuk pada menit ke-68 saat Betis menghadapi Real Madrid, lalu bereaksi paling cepat terhadap bola muntahan hasil tepisan kiper Thibaut Courtois. Dari jarak dekat, ia mendorong bola ke dalam gawang tanpa perlu aksi menggiring melewati pemain atau tembakan melengkung dari jarak jauh. Itu murni insting seorang penyerang kotak penalti.

Parrott sendiri menyebut penyelesaian seperti itu sebagai bagian dari pekerjaannya. “Dalam satu pertandingan, saya bisa melakukannya 10 kali dan tidak ada yang berhasil,” ujarnya. “Jadi ini soal mentalitas untuk terus masuk ke kotak penalti dan berharap bola datang. Hari ini, bola itu datang.” Pernyataan itu menunjukkan kesadaran seorang striker tentang ritme dan keberuntungan yang menyertai posisinya.

Empat hari berselang, giliran Lille yang menjadi korban. Parrott memanfaatkan buruknya penyelesaian bek Nathan Ngoy, lalu melepaskan tembakan rendah ke sudut jauh gawang untuk memastikan kemenangan dramatis 3-2. Secara keseluruhan, ia sudah mengemas dua gol dari empat penampilan, dan keduanya sama-sama bernilai penentu kemenangan, termasuk menghentikan start sempurna Mourinho di periode keduanya menangani Madrid.

Dilabeli “Belum Siap” oleh Mourinho di Tottenham

Mourinho ternyata bukan nama asing dalam perjalanan karier Parrott. Pelatih Portugal itulah yang memberikan debutnya di Premier League pada Desember 2019 lalu, ketika ia dimasukkan dalam kemenangan 5-0 Tottenham atas Burnley saat masih berstatus remaja. Namun, tak lama setelah itu, Mourinho memutuskan bahwa sang pemain muda masih butuh waktu jauh lebih lama untuk matang.

Puncaknya terjadi pada Maret 2020. Ketika Harry Kane dan Son Heung-min sama-sama harus menepi karena cedera, para pendukung Tottenham berharap Parrott mendapat kesempatan tampil. Harapan itu tidak terwujud, karena Mourinho menilai pemain muda tersebut belum siap menghadapi kerasnya kompetisi kasta tertinggi. Ia hanya sempat tampil sebentar melawan Norwich sebelum pandemi menghentikan musim, dan praktis mengakhiri pula karier Parrott di Spurs.

Setelah itu, Parrott menjalani rute peminjaman klasik yang kerap dialami pemain muda Inggris: Millwall, Ipswich, MK Dons, dan Preston. Tak satu pun dari periode tersebut benar-benar berjalan sesuai harapan. Harapan akademi Tottenham itu mulai terlihat bukan sebagai penerus Kane, melainkan sekadar nama yang layak dijadikan jawaban kuis sepak bola.

Titik Balik di Excelsior dan Ledakan 51 Gol di AZ

Perubahan besar datang ketika Parrott menyeberang ke Belanda. Masa singkat di Excelsior membantu menstabilkan kembali kariernya, sebelum ia benar-benar meledak bersama AZ Alkmaar. Bersama klub Eredivisie itu, ia mencetak 51 gol dalam 97 pertandingan, sebuah angka yang membuat banyak pihak, termasuk penyerang legendaris Robin van Persie, dibuat kewalahan menghadapinya.

Pencapaian tersebut, ditambah hat-trick di level internasional pada tahun lalu, cukup meyakinkan Betis untuk menggelontorkan dana besar demi mengamankannya. Awalnya, proses adaptasi berjalan berat. Debut penuhnya berjalan pahit lewat kekalahan 5-2 dari Levante, situasi yang membuat pelatih Manuel Pellegrini menghela napas panjang soal kesalahan-kesalahan pemain barunya itu.

Yang membuat Parrott berbeda sekarang adalah sikapnya. Ia tidak merajuk atau tenggelam dalam kekecewaan, melainkan terus bekerja dan menunggu peluangnya. Mentalitas itu terbukti ketika ia masuk dari bangku cadangan melawan Madrid dan langsung menyelesaikan tugasnya dengan tenang, tanpa perlu banyak sentuhan.

Implikasi bagi Tottenham dan Godaan Menyimpulkan Terlalu Cepat

Kebetulan yang terasa pahit bagi Tottenham adalah posisi mereka saat ini. Klub London utara itu masih terpuruk di tiga terbawah klasemen Premier League dan belum mencetak satu gol pun di kompetisi liga. Sementara itu, pemain yang mereka lepaskan justru bersinar di Spanyol, menciptakan narasi yang mudah dijadikan bahan kritik.

Namun, ada bahaya besar dalam menarik kesimpulan terlalu cepat. Dua gol tidak serta-merta berarti Tottenham melakukan kesalahan transfer terburuk sejak menjual Gareth Bale. Parrott kini berusia 24 tahun, bukan lagi remaja yang dulu ditangani Mourinho, dan proses perkembangannya sama sekali tidak berjalan lurus.

Justru itulah yang membuat momen ini terasa menyenangkan untuk diikuti. Parrott tidak melesat melalui jalur cepat; ia harus menempuh rute berliku, gagal di beberapa tempat, dan membangun ulang kepercayaan dirinya sebelum akhirnya menemukan ruang bertumbuh, baik di Belanda maupun sekarang di Spanyol.

Konteks Lebih Luas: Jalan Memutar Menuju Puncak

Sistem peminjaman yang berlapis-lapis memang sudah menjadi bagian umum dari perjalanan pemain muda di Inggris, khususnya mereka yang tumbuh di klub besar dengan persaingan ketat di tim utama. Banyak bakat yang justru menemukan jati dirinya setelah menjauh dari sorotan dan bermain secara reguler di klub yang lebih kecil atau di liga luar negeri. Kasus Parrott memperlihatkan bagaimana pindah ke luar Inggris bisa menjadi jalan pintas yang sehat untuk perkembangan seorang penyerang.

Faktor mentalitas juga sulit dipisahkan dari kisah ini. Kemampuan bangkit setelah beberapa periode peminjaman yang tidak mulus menunjukkan ketahanan yang jarang dimiliki pemain muda. Parrott tidak menyerah pada label “belum siap” yang sempat melekat padanya, dan justru memakai hal itu sebagai bahan bakar.

Ke depan, tantangan terbesarnya adalah menjaga konsistensi. Satu-dua pekan gemilang tidak cukup untuk mengubah statusnya; ia perlu membuktikan ketajaman itu di sepanjang musim La Liga bersama Betis. Jika berhasil, bukan tidak mungkin ia menjadi salah satu penyerang yang paling diperhitungkan, sekaligus mengubah narasi lama tentang dirinya.

Pekan ini menjadi pengingat bahwa karier pesepak bola jarang berjalan menurut garis lurus. Troy Parrott mengambil jalan memutar, gagal di beberapa persimpangan, lalu tiba di titik di mana instingnya di depan gawang mulai berbicara. Gol ke gawang Mourinho dan Lille hanyalah awal dari pembuktian yang jauh lebih panjang, dan bagaimana ia mengelolanya akan menentukan seberapa jauh perjalanan ini berlanjut.