Final Australia Cup: South Melbourne vs Melbourne Victory

Final Australia Cup antara South Melbourne dan Melbourne Victory akan menjadi salah satu laga paling bermakna dalam kalender sepak bola Australia. Duel bertajuk “old soccer meets new football” itu dijadwalkan berlangsung Sabtu ini di AAMI Park, dengan perkiraan sekitar 28.000 penonton memadati stadion hingga kapasitas penuh.

Laga ini bukan sekadar pertandingan puncak sebuah turnamen. Dua klub yang berhadapan membawa dua narasi besar yang berbeda: satu mewakili wajah baru sepak bola Australia yang dibentuk lewat reboot kompetisi nasional, satu lagi berdiri di atas akar komunitas imigran Eropa pascaperang. Pertemuan keduanya menjadi momen langka yang menyatukan dua dunia yang selama ini jarang bersinggungan.

Pertemuan Dua Dunia Sepak Bola Australia

Melbourne Victory mewakili apa yang disebut sebagai “sepak bola baru”. Klub ini menjadi entitas utama dalam perombakan besar-besaran sepak bola Australia sekitar 21 tahun lalu, sebuah proyek yang dirancang untuk menyatukan berbagai suporter olahraga di Melbourne dalam satu identitas. Namun dalam praktiknya, apa yang terjadi di lapangan dan di tribun ternyata tidak selalu sejalan dengan rencana awal tersebut.

Di sisi lain, South Melbourne dapat melacak akarnya kembali hingga dekade 1950-an. Klub ini membawa sejarah panjang, termasuk empat gelar di National Soccer League (NSL) yang kini sudah tidak ada lagi. Perjalanan klub itu terjalin erat dengan kebanggaan dan semangat komunitas migran Eropa yang menetap di Australia setelah perang.

South Melbourne telah menghadirkan banyak hari terbaik dalam sejarah sepak bola Australia. Ironisnya, dalam beberapa dekade terakhir, warisan itu justru dianggap sebagian pihak sebagai kenangan yang mulai pudar. Namun jelang final Australia Cup melawan Melbourne Victory, klub yang sering dicap “sepak bola lama” ini nyatanya sama sekali bukan berita basi.

Percabangan Sejarah dan Rivalitas yang Terlupakan

Percabangan jalan kedua klub tidak lepas dari sikap saling mengabaikan, rasa iri, dan yang paling buruk, ketidakpedulian. Narasi “sepak bola lama” versus “sepak bola baru” selama bertahun-tahun menciptakan jarak antara mereka yang tumbuh di dalam sistem lama dan mereka yang lahir dari sistem baru.

Meski demikian, pertemuan di final Australia Cup justru mengungkap kekuatan terbesar olahraga ini: koneksi. Ada banyak jalinan personal yang menghubungkan kedua kubu, dan itulah yang membuat laga ini terasa jauh lebih besar dari sekadar pertemuan antara dua tim berlabel berbeda.

Salah satu contohnya adalah Jason Davidson, kapten Melbourne Victory. Ayahnya, Alan Davidson, menghabiskan masa-masa formatifnya di South Melbourne sebelum berkarier cemerlang di Eropa dan level internasional. “Kami semua tahu sejarahnya di South Melbourne dan apa artinya itu bagi dia serta bagi keluarga Davidson,” kata Davidson pada Jumat. “Jadi dia sangat bersemangat, begitu juga saya.”

Ada pula striker Melbourne Victory, Harry Sawyer, yang pernah membela South Melbourne dan kini tinggal hanya 200 meter dari pemain yang mungkin akan menjaganya pada Sabtu. Kapten Hellas, Marco Janković, sendiri merupakan putra mantan pemain Real Madrid, Milan Janković, yang beremigrasi ke Queensland pada dekade 1990-an.

Janković mengaku dekat dengan Sawyer, yang menghabiskan tiga tahun di South Melbourne, dan persiapan menuju final diwarnai candaan di antara keduanya. Persaingan yang tetap hangat itu memuncak dalam sebuah kejadian ringan di supermarket setempat ketika Janković melihat sang penyerang meraih sesuatu di lemari pendingin. “Dia mau mengambil kombucha, jadi saya cuma memastikan dia tahu bagaimana minuman itu akan bereaksi di perutnya, karena sudah dekat dengan pertandingan,” ujar Janković sambil tersenyum.

Jejak South Melbourne di Piala Australia

Perjalanan South Melbourne menuju final Australia Cup terbilang mengesankan. Semuanya dimulai dengan kemenangan atas Adelaide United di babak 32 besar pada Juli, sebelum mereka menyingkirkan Fremantle City lewat adu penalti. Pada perempat final, gol penentu Arran Cocks di akhir pertandingan membawa Hellas melewati rival tradisional mereka, Preston Lions.

Laga perempat final di wilayah utara Melbourne itu menarik 6.673 penonton, sebuah angka yang bahkan melampaui rata-rata kehadiran empat klub A-League Men pada musim lalu. Kemenangan layak South Melbourne atas Queensland Lions, juara NPL negara bagian itu, di semifinal kemudian memastikan duel Sabtu yang sangat dinantikan.

Skuad South Melbourne sendiri dipenuhi pemain sekaliber A-League. Ada Sebastian Pasquali, yang pernah membela Melbourne Victory dan Western United serta sempat menjalani masa sebagai pemain muda di raksasa Belanda, Ajax. Ada pula gelandang Paulo Retre, pemain berusia 33 tahun yang telah mencatat lebih dari 200 pertandingan di A-League.

Striker Bul Juach merupakan pemegang golden boot NPL Victoria bersama Heidelberg tahun lalu sebelum pindah ke South Melbourne, dan ia mencetak hat-trick di semifinal melawan Queensland Lions. Meski musim ini mereka tersingkir di semifinal NPL Victoria, sebagian besar pemain dalam skuad ini dinilai cukup kuat untuk merebut gelar Australian Championships tahun lalu.

Perjalanan Melbourne Victory dan Kekuatan Skuadnya

Melbourne Victory harus melewati jalur yang lebih berat. Mereka membutuhkan adu penalti untuk menyingkirkan Western Sydney Wanderers di babak 16 besar Australia Cup, tetapi kemudian tampil solid tanpa kebobolan saat menghadapi APIA Leichhardt di perempat final dan Sydney FC di semifinal.

Kemenangan atas Sydney FC itu sekaligus menjadi pembalasan sebagian atas kekalahan di elimination final musim lalu, yang menandai berakhirnya era pelatih Arthur Diles. Posisi Diles kini digantikan oleh pelatih asal Venezuela, Giovanni Savarese.

Pada musim ini, Melbourne Victory tampil tanpa Juan Mata, pemain Spanyol juara Piala Dunia yang memutuskan tidak kembali ke klub yang kini sebagian sahamnya ia miliki. Meski begitu, lini tengah mereka masih diperkuat Denis Genreau, salah satu pemain paling berbakat di A-League, sementara penyerang Guillermo May direkrut pada masa pramusim dari Auckland. Dua bek, Philipp Ziereis dan Tom Lockyer, juga datang setelah menempuh karier panjang di Eropa.

Reputasi tersebut nyatanya tidak membuat South Melbourne gentar. Pelatih Sinisa Cohadzic dan kapten timnya tampil percaya diri pada Jumat. Skuad mereka sudah terbentuk oleh musim yang panjang dan kini menghadapi lawan yang masih berada di masa pramusim yang panjang.

Makna Lebih Besar bagi Sepak Bola Australia

Laga ini menjadi kemenangan konsep Australia Cup sebagai turnamen. Sepanjang 12 tahun penyelenggaraannya, ajang ini memberi harapan bagi para optimistis di kompetisi negara bagian, tetapi belum pernah benar-benar masuk ke kesadaran olahraga nasional secara lebih luas. Hingga kini.

Final ini akan menjadi laga paling banyak ditonton dalam sejarah turnamen, meskipun salah satu pesertanya bukan klub A-League. Fakta itu menjadi petunjuk tentang apa yang mungkin terjadi di masa depan sepak bola Australia, ketika olahraga ini mulai melampaui keterbatasan A-League dan merangkul secara pragmatis keberagaman komunitasnya.

Klub NPL seperti Sydney United 58 dan Heidelberg pernah mencapai final Australia Cup sebelumnya, tetapi keduanya gagal mengangkat trofi. Menariknya, komposisi penonton pada Sabtu diperkirakan terbagi cukup merata antara kedua klub, sehingga peluang kejutan terasa sangat nyata.

Davidson menyebut laga ini akan menjadi kali pertama dukungan Melbourne Victory benar-benar ditantang dalam pertandingan di Melbourne. “Itu menunjukkan betapa istimewanya dan bersejarahnya malam besok, luar biasa untuk sepak bola Australia,” ujarnya. Sementara itu, Janković mengakui bahwa pengalaman bermain di stadion modern yang penuh akan menjadi hal baru bagi sebagian besar rekan setimnya.

“Hanya ada beberapa pemain di skuad kami yang pernah bermain di hadapan lebih dari 10.000 penonton,” kata Janković. “Meski begitu, bertandang ke Preston atau ke Heidelberg, tempat-tempat dengan pagar hanya satu meter dari garis samping dan Anda diteriaki 10.000 orang, itu juga tidak mudah.”

Masa Depan yang Terbuka setelah Final

Terlepas dari hasil akhirnya, Janković menegaskan pertandingan ini akan tetap istimewa. Ia menyebut banyaknya orang yang mengunggah dan mengirim pesan dukungan sebagai hal yang luar biasa. Menurutnya, semua itu menunjukkan tidak hanya apa yang sedang mereka lakukan saat ini, tetapi juga ke mana klub ini bisa melangkah di masa depan.

Pertemuan South Melbourne dan Melbourne Victory pada akhirnya memperlihatkan bahwa identitas tidak bisa dipisahkan dari cara orang mendukung sebuah klub sepak bola. Dua klub dengan latar belakang yang bertolak belakang justru membuktikan bahwa koneksi, bukan sekat, adalah kekuatan utama olahraga ini. Final Australia Cup Sabtu nanti akan menjadi panggung bagi kedua dunia itu untuk bertemu, dan apa pun hasilnya, sepak bola Australia berpeluang keluar dari laga ini dengan pemahaman yang lebih luas tentang dirinya sendiri.

Exit mobile version