Reaksi Fans Manchester City Usai Putusan Kasus FFP

Reaksi fans Manchester City usai putusan kasus pelanggaran aturan finansial (financial fair play/FFP) datang dari berbagai penjuru: ada yang merasa dikhianati, ada yang tetap membela klub, dan hampir semuanya sepakat bahwa memori 15 tahun terakhir tidak bisa dihapus oleh vonis apa pun. Dukungan mereka tidak benar-benar patah, tetapi cara mereka memandang klub, pemilik, dan sepak bola elite berubah cukup mendasar.

Dalam kumpulan testimoni sejumlah pendukung, mulai dari pemegang tiket musiman di Manchester hingga fans yang berbasis di Washington DC dan New York, terlihat bahwa persoalan ini tidak sesederhana menang atau kalah di pengadilan. Yang dipertaruhkan adalah kepercayaan terhadap pemilik klub, solidaritas antar sesama pendukung, dan keadilan kompetisi di Premier League. Beberapa di antara mereka bahkan menyebut bahwa perpecahan di tubuh fans bisa menjadi dampak paling menyakitkan dari seluruh perkara ini.

Suara Fans Manchester City yang Paling Keras

Ben, seorang pemegang tiket musiman, mengaku belum sepenuhnya mencerna kabar tersebut. Ia sebelumnya menaruh kepercayaan penuh kepada klub dan mempercayai setiap pernyataan yang disampaikan sebagai respons atas dakwaan yang dihadapi. Karena itu, ia mengaku pukulan ini terasa sangat berat, terlepas dari sikapnya yang tetap menganggap aturan FFP tidak adil dan tidak pernah adil sejak awal.

Ia sadar pandangannya soal FFP tidak akan mendapat simpati dari fans klub lain, dan ia memahami alasannya. Menurut Ben, banyak pendukung rival sudah menunggu momen ini bertahun-tahun. Namun baginya tidak ada yang bisa mengambil 15 tahun terakhir dari para pendukung City, mulai dari gol Sergio Agüero pada 2012, musim “centurions”, treble, hingga malam di Istanbul. “Memori itu milik kami dan tidak ada putusan yang mengubahnya,” ujarnya, seraya menegaskan bahwa apa pun yang terjadi ia akan tetap mendukung tim.

James Blakey, yang sudah lebih dari 40 tahun menjadi pendukung City, menggambarkan dua momen yang paling membekas dalam hidupnya. Pada 1999, saat ia berusia 13 tahun, Paul Dickov mencetak gol penyama pada menit ke-95 di Wembley sehingga final playoff Divisi Kedua berlanjut ke perpanjangan waktu, dan penyelamatan gemilang Nicky Weaver di adu penalti membawa klub promosi. Itu juga tahun pertama ia memegang tiket musiman di Maine Road.

Tiga belas tahun kemudian, ketika Agüero mencetak gol pada menit ke-93 melawan QPR, ia menonton di sebuah pub di Manchester yang terbelah nyaris seimbang antara fans City dan fans United yang beberapa detik sebelumnya yakin telah mengunci gelar juara. Baginya, gol Dickov dan gol Agüero terasa sangat mirip: euforia, rasa manis, kebersamaan, dan kebanggaan terhadap klub yang selalu ada apa pun yang berubah dalam hidupnya.

Kini ia harus menghadapi kenyataan bahwa momen kedua itu, dan banyak momen setelahnya termasuk Istanbul, tidak akan terjadi tanpa kecurangan klub yang ia sebut berskala sistemik dan industrial. Ia tidak tahu harus berbuat apa, dan ia sadar tidak bisa mengembalikan memori-memori itu. Baginya, orang-orang terkaya di dunia yang merasa aturan tidak berlaku bagi mereka lalu dengan arogan melemparkan uang tanpa henti ke persoalan ini sama sekali tidak berhubungan dengan apa yang ia cintai dari sepak bola, dari Manchester, maupun dari klubnya beserta para pendukung yang tetap bernyanyi di tribun. “Saya benar-benar sedih,” katanya.

Dari League One ke Istanbul: Latar Belakang yang Membuat Luka Ini Terasa

Bagi banyak pendukung, beratnya persoalan ini tidak lepas dari perjalanan panjang klub. David Mayor, pemegang tiket musiman yang juga menonton laga tandang ke York pada 1998, mengingat bahwa dalam 40 tahun mendukung City ia telah melewati berbagai perubahan besar: degradasi, perpindahan stadion, hingga pergantian kepemilikan. Menurutnya, semuanya pada akhirnya kembali ke titik normal, dengan wajah-wajah yang sama di tribun dan ayahnya yang tetap mengeluhkan umpan melenceng tak peduli bagaimana tim bermain.

Namun pekan terakhir terasa sebagai ancaman serius terhadap pola yang sudah mapan itu. Ia mengaku sejak lama menganggap sepak bola di level tertinggi sudah bangkrut secara moral, sehingga tindakan klub tidak terlalu mengganggunya. Ketika klub menyatakan akan bergabung dengan proyek super league, ia sempat berpikir bisa berjalan pergi, tetapi karena alasan tertentu—mungkin semacam pembangkangan terhadap desakan fans lawan soal apa yang seharusnya ia rasakan—ia tidak bisa membayangkan benar-benar meninggalkan klub, apa pun akhir ceritanya.

Dari sisi aturan, Chris Stalker, ketua kelompok pendukung New York Sky Blues yang berbicara dalam kapasitas pribadi, menyatakan pihaknya menerima bahwa aturan telah dilanggar. Meski demikian, ia menilai tetap ada kekhawatiran yang sah soal alasan di balik keberadaan aturan tersebut. Organisasi yang ia pimpin memiliki hampir 400 anggota, dan persoalan ini memicu diskusi serta perdebatan panjang di antara mereka.

Ancaman Perpecahan di Tubuh Pendukung

Nicola Schofield, yang telah menjadi pendukung City lebih dari 40 tahun, mengaku salah satu kekhawatirannya adalah kemungkinan strategi pemilik memecah basis fans. Ia menilai semua orang sebenarnya ingin berdiri di belakang klub dan tim, tetapi situasi kali ini berbeda dengan pengalaman degradasi yang ia lalui pada era 90-an. Saat itu semua pendukung berbagi pengalaman yang sama, tetap setia ketika klub turun sampai League One, dan kembali bersorak ketika klub bangkit.

Kali ini, menurutnya, persoalannya berpotensi jauh lebih berantakan. Ada kelompok yang mungkin menginginkan pemilik keluar—yang menurutnya punya kerumitan sendiri—dan ada pula yang akan membela pemilik sampai akhir. Pada akhirnya semua fans ingin memastikan klub tetap eksis, tetapi ia mencemaskan perpecahan yang bisa timbul dan mengakui bahwa luka semacam itu tidak mudah disembuhkan.

Kegelisahan serupa muncul di kalangan pendukung luar negeri. Chris Stalker menyebut ada rasa tidak nyaman yang tumbuh soal bagaimana mereka memandang pemilik klub. Sebagai kelompok pendukung, mereka telah menaruh banyak kepercayaan, dan kepercayaan itu kini tampak tidak berdasar. Ia menegaskan hubungan dengan fans seharusnya dibangun atas kejujuran dan integritas, dan hal itu bisa hilang begitu saja.

FFP dan Premier League: Kritik yang Lebih Luas

Kritik terhadap aturan FFP menjadi benang merah di antara banyak pendukung. Ben menyebut aturan itu tidak adil dan tidak pernah adil, meski ia tahu pendapat tersebut tidak akan banyak diterima di luar lingkaran fans City. Sementara itu, Chris Stalker mengungkapkan konsensus di kelompoknya bahwa aturan FFP perlu ditantang, bukan hanya oleh City tetapi juga oleh klub lain seperti Newcastle, Aston Villa, dan Everton, karena tujuan aturan tersebut tampak adalah mempertahankan status quo.

Pandangan yang lebih kritis datang dari Jon Ashley, pendukung yang berbasis di Washington DC. Ia mengakui bahwa berada di luar Manchester dan Inggris memberi semacam efek mati rasa ketika hal buruk menimpa tim yang ia dukung. Sebagian dari dirinya tetap merasa dikhianati dan marah kepada petinggi City yang jelas telah menyesatkan fans dalam waktu lama, terutama ketika melihat besarnya apa yang ia sebut sebagai “sham”.

Meski menilai tingkat dan durasi pelanggaran City layak mendapat hukuman yang signifikan, ia melihat ada persoalan yang lebih besar. Menurutnya, fakta bahwa dibutuhkan pelanggaran aturan selama itu dan uang sebanyak itu untuk mencegah Manchester United, Arsenal, dan Liverpool menambah koleksi trofi mereka sendiri justru menjadi indikasi buruk bagi Premier League. Dengan kata lain, vonis terhadap City sekaligus membuka pertanyaan tentang bagaimana kompetisi ini benar-benar dijalankan.

Pemilik, Komunitas, dan Identitas Klub

Di sisi lain, sebagian pendukung tetap memberi kredit kepada pemilik klub. Chris Stalker menyebut pemilik masih menyimpan banyak kredit di mata para pendukung karena ketika mereka bepergian untuk menonton laga kandang, mereka melihat sendiri transformasi yang terjadi di wilayah timur Manchester. Bukan hanya stadionnya, tetapi seluruh kawasan berubah berkat investasi tersebut, dan para pemilik juga telah memberikan hari-hari terbaik dalam hidup banyak fans.

Ia mengaku tidak pernah menyangka akan melihat pemain yang lebih baik daripada Colin Bell, tetapi ia sempat menyaksikan David Silva dan Kevin De Bruyne. Namun, di sisi lain, ia menekankan bahwa dukungan terhadap klub harus tetap sejalan dengan prinsip dan nilai yang dipegang para pendukung. Kelompok New York Sky Blues sendiri menjalankan kerja amal di New York dan tahun lalu mengumpulkan 25.000 dolar AS (sekitar 19.000 poundsterling) untuk New York Common Pantry, sebuah food bank. Kegiatan itu mencerminkan kerja kemanusiaan yang dilakukan pendukung City di luar Stadion Etihad dan memperkuat ikatan melalui nilai serta etika.

Pesan penutupnya cukup tegas: sebagai Manchester City, klub ini tidak akan didefinisikan oleh pemiliknya. Pemilik bisa datang dan pergi, tetapi para pendukung akan tetap menjadi bagian dari City seumur hidup. Karena itu ia mengajak sesama fans untuk bertindak dalam solidaritas dan tetap berdiri bersama.

Yang Tersisa Setelah Putusan

Dari keseluruhan testimoni tersebut, terlihat bahwa reaksi fans Manchester City tidak bisa disederhanakan menjadi satu sikap tunggal. Ada kekecewaan, kemarahan, kebingungan, tetapi juga kesetiaan yang tidak goyah terhadap tim dan komunitas di sekitarnya. Yang paling sering muncul adalah kesadaran bahwa kenangan tidak bisa dibatalkan, sementara kepercayaan terhadap mereka yang mengelola klub justru jauh lebih rapuh.

Ke depan, tantangan terbesar bagi para pendukung mungkin bukan hukuman apa pun yang dijatuhkan, melainkan menjaga agar basis fans tetap utuh di tengah perbedaan pandangan. Sebab ketika perdebatan soal aturan, kepemilikan, dan keadilan kompetisi selesai, yang tersisa hanyalah orang-orang yang sama di tribun, yang tetap datang, tetap bernyanyi, dan tetap menyebut diri mereka bagian dari City.

Exit mobile version