Jeda Internasional Tiga Pekan: Solusi atau Masalah Baru?

Jeda internasional pertama musim 2026-27 hampir berakhir, tetapi kali ini durasinya jauh lebih panjang daripada yang biasa dirasakan penggemar. Untuk pertama kalinya, Premier League dan Championship berhenti selama tiga pekan, bukan dua pekan seperti biasanya, dan para pemain kembali berlaga di kompetisi domestik mulai Jumat. Jeda internasional tiga pekan ini diperkenalkan FIFA dengan pertimbangan kesejahteraan pemain, namun deretan cedera yang muncul membuat banyak pihak mempertanyakan apakah tujuan itu benar-benar tercapai.

Perubahan kalender ini bukan urusan sepele karena menyangkut klub, pemain, federasi nasional, hingga penonton di berbagai belahan dunia. Ada pula pertanyaan yang lebih mendasar: siapa sebenarnya yang menikmati jadwal internasional yang lebih panjang, dan apakah penggemar benar-benar menginginkan libur tiga pekan dari sepak bola klub ketika musim baru saja berjalan? Artikel ini merangkum alasan di balik kebijakan tersebut, dampaknya terhadap pemain, serta reaksi dari dalam dan luar lapangan.

Gelombang Cedera Mewarnai Jeda yang Lebih Panjang

Masalah paling mencolok dari jeda kali ini adalah panjangnya daftar pemain yang kembali ke klub dalam kondisi cedera. Mengukur apakah jumlah cedera kali ini lebih banyak dibanding jeda internasional lain memang sulit, karena jeda yang lebih panjang otomatis menghadirkan lebih banyak pertandingan. Perbandingan yang benar-benar adil kemungkinan baru bisa dilakukan pada akhir musim, setelah seluruh jeda internasional selesai.

Meski begitu, sejumlah nama besar sudah dipastikan absen sejak bergabung dengan tim nasional masing-masing. Gelandang Bournemouth, Alex Scott, mengundurkan diri dari skuad Inggris karena cedera paha, dan pihak Bournemouth dilaporkan tidak senang dengan cara federasi Inggris menangani kondisi tersebut. Striker Manchester City, Erling Haaland, meminta digantikan pada menit ke-67 dan terlihat pincang dalam laga Norwegia melawan Portugal sebelum meninggalkan pemusatan latihan pada Senin; rekan setimnya di City, Nico O’Reilly, juga dipulangkan untuk menjalani pemeriksaan lanjutan.

Dua pemain Liverpool, Cody Gakpo dan Alexander Isak, turut masuk daftar cedera. Gakpo menarik diri dari skuad Belanda karena masalah pergelangan kaki, sementara Isak keluar dari tugas negara bersama Swedia akibat cedera paha ringan. Pelatih Portugal, Jorge Jesus, mengungkapkan bahwa kapten Manchester United, Bruno Fernandes, bermain sambil menahan nyeri, sedangkan Dan Ballard dari Sunderland dan Brian Brobbey mengalami gangguan hamstring.

  • Alex Scott (Bournemouth) – cedera paha, mundur dari skuad Inggris
  • Erling Haaland (Manchester City) – keluar lebih awal di laga Norwegia, meninggalkan kamp
  • Cody Gakpo (Liverpool) – cedera pergelangan kaki, mundur dari skuad Belanda
  • Alexander Isak (Liverpool) – cedera paha ringan, mundur dari skuad Swedia
  • Bruno Fernandes (Manchester United) – bermain menahan nyeri bersama Portugal

Di luar Inggris, bintang-bintang besar juga terdampak. Penyerang Real Madrid, Kylian Mbappe, mengalami cedera saat bertugas bersama Prancis, dan Raphinha dari Barcelona kembali dari Brasil dengan cedera paha. Sebelum jeda dimulai, Inggris bahkan sudah kehilangan Tino Livramento, Kobbie Mainoo, Cole Palmer, Marcus Rashford, dan Declan Rice yang mundur dari skuad Thomas Tuchel. Dengan tiga hari pertandingan yang masih tersisa, para manajer klub hanya bisa berharap tidak ada nama tambahan yang masuk daftar tersebut.

Mengapa Jeda Internasional Tiga Pekan Diberlakukan FIFA?

Selama beberapa tahun terakhir, FIFA menggunakan lima jeda internasional utama dalam satu musim, masing-masing berdurasi dua pekan pada bulan Maret, Juni, September, Oktober, dan November. Perubahan menuju satu jeda tiga pekan di akhir September hingga awal Oktober, sekaligus memangkas jumlah jeda menjadi empat kali, dilakukan dengan sejumlah alasan yang saling berkaitan.

Salah satunya adalah penjadwalan final Piala Dunia 2026 pada 19 Juli, yang menjadi tanggal terakhir penyelenggaraan final Piala Dunia musim panas sejak 1966. Kalender yang lebih padat menuntut penyesuaian, dan kesejahteraan pemain menjadi bagian dari pembahasan tersebut, termasuk soal perjalanan yang harus ditempuh para pemain.

Pengurangan jumlah jeda juga berdampak langsung pada jumlah perjalanan lintas benua. Pemain asal Afrika dan Amerika Selatan yang berkarier di klub Eropa, misalnya, harus menempuh perjalanan jauh untuk memenuhi panggilan tim nasional. Dengan jeda yang lebih sedikit, mereka tidak perlu melakukan perjalanan sejauh itu sesering sebelumnya. Meski demikian, penggemar cenderung tetap mengeluhkan terputusnya kompetisi domestik, apa pun durasinya, dan tidak sabar menantikan kembalinya sepak bola klub.

Dampak bagi Klub, Pemain, dan Pelatih

Pelatih Inggris, Thomas Tuchel, sebelumnya menyoroti bahwa jeda tiga pekan ini “lebih menantang” dibandingkan tahun-tahun sebelumnya. Ia menyebut perjalanan jauh serta hanya tersedianya dua hari istirahat di antara pertandingan sebagai dua persoalan utama. Dalam konferensi pers pada Senin menjelang laga melawan Republik Ceko, ia menegaskan bahwa kesejahteraan pemain adalah prioritas nomor satu, tetapi ia juga mengingatkan adanya faktor lain yang meningkatkan risiko cedera.

“Gaya latihan dan waktu latihan yang baru, posisi bermain yang berbeda, semuanya meningkatkan kemungkinan cedera,” ujarnya. Ketika ditanya apakah jeda yang lebih panjang berpengaruh terhadap jumlah cedera, Tuchel menilai perlu data yang tepat sebelum menarik kesimpulan. “Apakah benar-benar lebih banyak, atau jumlahnya sama dengan dua jendela yang lebih pendek? Saya tidak punya jawabannya,” katanya.

Menurut Tuchel, jendela dua pekan tidak bisa disalahkan atas segala hal. Jika memang terbukti bermasalah, ia menyatakan timnya akan beradaptasi seperti biasa. Ia juga mengakui tidak menyukai gagasan jendela panjang tepat setelah turnamen besar, namun melihat sisi positifnya: setelah tiga pertandingan bersama, tim menjadi lebih padat, latihan dan pertemuan lebih banyak, dan otomatisme permainan mulai terbentuk.

Sementara itu, asosiasi pemain Norwegia (NISO) menyuarakan kekhawatiran atas meningkatnya tuntutan terhadap pemain. “Kami melihat tren yang mengkhawatirkan, di mana beban pada pemain papan atas menjadi terlalu tinggi,” kata kepala NISO, Kristoffer Vatshaug. Ia menyerukan pedoman yang lebih jelas soal beban kerja dan pemulihan, termasuk jeda antarpertandingan, waktu istirahat berurutan, tekanan perjalanan, serta waktu pemulihan setelah musim yang panjang.

Apa Kata Penggemar soal Jeda yang Terasa Membosankan?

Reaksi penggemar terhadap jeda tiga pekan terbelah, meski nada keluhan tampak mendominasi. Seorang pendukung asal Swindon bernama Shay menilai tidak ada penggemar Premier League atau Championship yang mendukung gagasan ini karena rasanya membosankan kehilangan aksi klub begitu lama. James McCreadie menyatakan penggemar lelah kehilangan pemain untuk laga yang dianggap sekadar pertandingan persahabatan bergengsi, dan menyoroti padatnya jadwal klub di kompetisi Eropa serta Carabao Cup sebelum jeda berikutnya.

Dari York, Matt menyebut banyaknya cedera otot pada jeda kali ini, termasuk pada Haaland yang biasanya sangat tangguh, sebagai bukti bahwa eksperimen ini keliru. Menurutnya, siapa pun yang menganggap ide ini bagus setelah musim Piala Dunia yang panjang perlu dievaluasi kinerjanya. Kelvin Thomas menyoroti banyaknya pemain yang ditarik karena cedera, tetapi ia menduga mereka akan pulih secara “ajaib” begitu kembali ke klub, dan tetap yakin Inggris akan menang.

Penggemar lain yang bernama James menilai pengakuan bahwa pemain datang ke pemusatan latihan dengan keluhan ringan memperkuat kritik terhadap Cole Palmer dan sejumlah pemain yang tampak lebih menghargai klub daripada negara. Baginya, jeda internasional berikutnya bisa menjadi kesempatan terakhir bagi sebagian pemain untuk menunjukkan komitmen. Terlepas dari kritik tersebut, tidak semua hal tentang jeda ini berdampak negatif.

Sisi Lain: Berkah bagi Liga Bawah dan Liga Wanita

Ketika Premier League dan Championship berhenti, penggemar punya kesempatan menukar tiket pertandingan klub kebanggaan mereka dengan laga klub divisi bawah atau pertandingan Women’s Super League (WSL). Klub-klub wanita yang berafiliasi dengan tim Premier League sering memanfaatkan momen ini untuk menggelar laga kandang di stadion tim pria yang lebih besar, sehingga lebih banyak penonton bisa hadir langsung.

Absennya dua kasta teratas piramida sepak bola Inggris juga membuka ruang di jadwal televisi untuk pertandingan liga bawah, yang menjadi dorongan finansial tersendiri bagi klub-klub tersebut. Meski membandingkan jumlah penonton dari pekan ke pekan sulit dilakukan karena banyaknya variabel, data dari akhir pekan ini memberi gambaran menarik. Dari 11 pertandingan yang digelar di League One dan League Two pada Sabtu, sementara sembilan laga lain ditunda karena pemanggilan internasional, hanya tiga laga yang jumlah penontonnya di bawah rata-rata kandang musim ini.

Tren serupa terlihat di WSL. Dari tujuh pertandingan yang dimainkan sepanjang akhir pekan, lima di antaranya mencatatkan kehadiran penonton lebih tinggi daripada rata-rata kandang klub tuan rumah musim ini. Artinya, jeda internasional tidak sepenuhnya menjadi kabar buruk bagi ekosistem sepak bola, terutama bagi klub-klub yang biasanya kalah bersaing dalam hal eksposur dan perhatian penonton.

Penutup

Jeda internasional tiga pekan yang diperkenalkan FIFA memang membawa logika tersendiri: lebih sedikit jeda berarti lebih sedikit perjalanan lintas benua dan lebih banyak waktu bagi tim nasional untuk membangun kekompakan. Namun hasil di lapangan menunjukkan harga yang harus dibayar, mulai dari Alex Scott dan Erling Haaland hingga Kylian Mbappe dan Raphinha yang kembali ke klub dalam kondisi cedera. Klub-klub kini menunggu dengan waswas, sementara penggemar menilai jeda selama ini terasa terlalu panjang.

Penilaian akhir atas kebijakan ini baru bisa dilakukan setelah data sepanjang musim terkumpul, seperti yang disiratkan Tuchel. Yang jelas, format baru ini menuntut adaptasi dari semua pihak, baik pelatih klub, federasi, maupun pemain yang harus menyeimbangkan tuntutan negara dan klub. Jika jumlah cedera terus bertambah, desakan untuk meninjau ulang kalender internasional kemungkinan akan semakin sulit diabaikan.

Exit mobile version