Perjalanan Karier Harry Kane: Dari Kiper Cilik ke Legenda

Perjalanan karier Harry Kane mencapai salah satu tonggak terbesarnya bersama tim nasional Inggris. Penyerang Bayern Munich itu mencatatkan penampilan ke-125 untuk Three Lions saat menghadapi Republik Ceko pada laga Nations League, Selasa, dan dengan demikian menyamai rekor caps terbanyak yang dipegang Peter Shilton selama 36 tahun.

Bagi Kane, capaian ini menegaskan posisinya sebagai salah satu pemain paling berpengaruh dalam sejarah sepak bola Inggris. Ia sudah lebih dulu menjadi pencetak gol terbanyak negaranya dengan 89 gol dari 124 penampilan, sebuah karier internasional yang ia buka dengan gol hanya 79 detik setelah debut. Meski kini berusia 33 tahun, kapten timnas Inggris itu masih menjadi pilar utama di klub maupun di level internasional. Dari titik inilah BBC Sport menelusuri kembali bagaimana sosok yang kini disebut sebagai salah satu striker terbaik dunia itu memulai langkahnya.

Menyamai Rekor 36 Tahun Peter Shilton

Rekor yang baru saja disamai Kane bukan catatan sembarangan. Shilton menutup karier internasionalnya dengan 125 caps, dan angka itu bertahan sebagai rekor tertinggi Timnas Inggris selama 36 tahun tanpa ada pemain yang mampu menyentuhnya. Kane kini berdiri sejajar dengan legenda kiper tersebut, dan besar kemungkinan akan melampauinya pada laga-laga berikutnya.

Menariknya, Kane membangun rekor caps itu bukan sebagai pemain yang sejak awal diprediksi menjadi bintang. Ia justru dikenal sebagai sosok yang menapaki setiap tahap perlahan, dari akademi yang sempat menolaknya hingga akhirnya menjadi kapten dan ujung tombak utama Inggris selama bertahun-tahun. Ketangguhannya menjaga konsistensi di level tertinggi inilah yang membuat jumlah penampilannya terus bertambah tanpa penurunan performa yang berarti.

Statusnya sebagai pencetak gol terbanyak sepanjang sejarah Inggris dengan 89 gol membuat kombinasi caps dan golnya terbilang langka. Tidak banyak pemain yang bisa bertahan selama lebih dari satu dekade di level internasional sekaligus tetap produktif dalam urusan mencetak gol. Rekor caps ini pun menjadi penanda bahwa Kane bukan sekadar penyerang tajam, melainkan juga pemain yang selalu tersedia dan dipercaya dalam waktu yang sangat panjang.

Perjalanan Karier Harry Kane Dimulai dari Posisi Kiper

Semua bermula pada 1999, ketika seorang bocah berusia enam tahun datang mengikuti seleksi di Ridgeway Rovers. Klub akademi itu satu generasi sebelumnya sempat melahirkan David Beckham, dan saat Kane datang, tim pelatih mengira mereka baru saja menemukan kiper baru. Dave Bricknell, mantan pelatih di Ridgeway Rovers, mengenang sesi latihan menembak hari itu ketika ia meminta seorang anak untuk berdiri di bawah mistar.

“Ada anak kecil yang mengangkat tangan dan bilang, ‘Saya mau jadi kiper.’ Kami beri dia sarung tangan, dan dia tampil heroik — beberapa penyelamatan fantastis, menepis bola ke samping gawang, ada juga yang dilempar ke atas mistar. Saya pikir ini bagus, kami punya kiper. Lalu ada seorang perempuan yang menghampiri saya dan bilang kalau anak itu lebih baik di lapangan,” ujar Bricknell.

Benar saja, begitu dipasang di lapangan, Kane langsung menghujani gawang dengan gol dari berbagai posisi. Sejak itu ia dipindahkan menjadi penyerang tengah, dan ketajamannya bersama Ridgeway Rovers serta tim distrik Waltham Forest mulai menarik perhatian pemandu bakat profesional. Arsenal lebih dulu merekrutnya, tetapi kemudian memutuskan tidak mempertahankannya, sementara Watford juga melewatkan kesempatan merekrut Kane.

Trevor Bailey, pelatih Kane di Waltham Forest, menggambarkan sosoknya sebagai pemain yang bisa “tidak melakukan apa-apa sepanjang pertandingan” tetapi selalu memastikan peluang yang datang berbuah gol. Ia menilai peluang empat dari lima selalu berakhir menjadi gol atau assist. Sementara Alex Welsh, mantan pelatih akademi Arsenal, meyakini bahwa pengalaman Kane sebagai kiper membentuk instingnya sebagai penyerang. Menurut Welsh, Kane tahu secara intuitif apa yang tidak disukai kiper dan karena itu melepaskan tembakan lebih cepat sebelum kiper siap.

Murid Teladan di Sekolah dan Akademi Tottenham

Sebelum menembus dunia profesional, Kane menjalani masa sekolah di Larkswood Primary Academy dan kemudian Chingford Foundation School, tempat ia nyaris selalu menjadi bintang tim sepak bola. Namun yang membuat para gurunya terkesan bukan hanya kemampuan bermainnya, melainkan juga sikapnya sebagai murid yang rajin di hampir semua mata pelajaran. Mark Leadon, guru olahraga Kane, mengenangnya sebagai anak berusia 11 tahun yang secara teknis sangat berbakat, memiliki sentuhan pertama yang bagus, dan cerdas membaca permainan.

Kane juga ternyata atlet serba bisa. Ia menjadi pembuka bowling kriket sejak kelas tujuh hingga kelas sepuluh dan biasa memukul di posisi empat atau lima. Meski begitu, sepak bola tetap menjadi segalanya baginya. Menurut Leadon, Kane bukan tipe anak yang merasa paling hebat dan selalu mau bekerja keras, dengan determinasi serta etos kerja yang terlihat jelas sejak dini.

Luke Robinson, sahabat sekaligus rekan setimnya semasa kecil, menuturkan bahwa Kane bahkan pernah datang dengan gaya rambut mohawk meniru idolanya, David Beckham, dan tetap percaya diri meski jadi bahan tertawaan. Baginya, tidak ada hal lain di pikiran Kane selain sepak bola.

Setelah sempat ditolak Arsenal dan dilewatkan Watford, Tottenham Hotspur memberi Kane harapan baru. Meski bukan pemain paling menonjol di kelompok usianya, keinginannya untuk terus belajar membuat staf akademi Tottenham terkesan. Ia menandatangani kontrak beasiswa pada ulang tahunnya yang ke-16, Juli 2009. Alex Inglethorpe, mantan pelatih tim muda Tottenham, bahkan mengaku tidak bisa mengatakan Kane adalah “medali emas” di angkatannya karena saat itu ia mungkin belum masuk podium sama sekali. Yang membuat Kane istimewa, menurut Inglethorpe, adalah sifatnya yang rendah perawatan serta obsesinya untuk berlatih lebih lama dari pemain lain, sebuah kekuatan terbesarnya sampai sekarang.

Masa Peminjaman yang Menempa Mentalnya

Langkah pertama Kane di sepak bola profesional ditempuh lewat masa peminjaman yang panjang. Pada Januari 2011 ia bergabung dengan Leyton Orient di League One dan menjalani debut profesional di Rochdale, masuk menggantikan striker senior Scott McGleish. Dalam sembilan penampilan sebagai starter, ia mencetak lima gol, angka yang cukup mengejutkan untuk pemain yang baru menembus tim senior.

McGleish menilai Kane tidak datang dengan sikap pemain Premier League yang merasa besar. Sebaliknya, Kane ingin memahami apa yang disebutnya sebagai “sepak bola orang dewasa”, siap berjuang memperebutkan tempat, dan mau bekerja keras setiap hari. Saat itu Kane masih terlihat seperti anak 17 tahun yang kurus, belum selesai berkembang secara fisik, dan bukan pemain tercepat, tetapi secara teknis sudah sangat baik.

Berikutnya, pada Januari 2012, Kane dipinjamkan ke Millwall yang saat itu berjuang menghindari degradasi di Championship. Sembilan golnya membantu tim asuhan Kenny Jackett bertahan di divisi tersebut. Mantan bek Millwall, Alan Dunne, mengaku sudah melihat banyak pemain datang ke The Den dan langsung kaku karena dalam lima menit mereka sudah dihujani ejekan yang tak pernah mereka dengar sebelumnya. Kane, menurut Dunne, tidak terganggu sama sekali karena ia fokus dan percaya pada kemampuannya.

Mantan manajer Tottenham, Tim Sherwood, mengisahkan pernah mendengar seorang pemandu bakat meminta Harry Redknapp segera menarik Kane keluar dari Millwall karena dianggap tidak baik untuk perkembangannya. Sherwood justru berpendapat sebaliknya, bahwa The Den adalah atmosfer yang sempurna bagi Kane. Setelah debut di Premier League pada Agustus 2012, pemain 19 tahun itu sempat dipinjamkan lagi ke Norwich, hanya tampil tiga kali karena cedera, lalu ke Leicester, tempat ia dan Jamie Vardy sama-sama kesulitan mendapat kesempatan bermain secara reguler.

Ledakan Bersama Tottenham dan Panggilan Timnas

Setelah empat kali dipinjamkan dalam tiga musim, Kane menghabiskan seluruh musim 2013-14 bersama Tottenham. Namun baru pada April, ketika Andre Villas-Boas sudah digantikan Sherwood, pemain berusia 20 tahun itu mendapat start pertamanya di Premier League dan langsung mencetak gol pertamanya di kasta tertinggi melawan Sunderland. Ia juga mencetak gol di dua laga berikutnya melawan West Brom dan Fulham.

Sherwood mengaku keputusan memberi Kane kesempatan itu sama sekali tidak terasa seperti taruhan, bahkan sudah terlambat. Roberto Soldado saat itu berada di depannya, tetapi setiap hari dalam latihan Kane tampil lebih baik daripada pemain Spanyol tersebut. Menurut Sherwood, Kane tidak pernah mengecewakannya, dan ia melihat Kane sebagai perpaduan antara Teddy Sheringham dan Alan Shearer.

Sejak itu karier Kane melesat. Musim berikutnya ia mencetak 21 gol di liga dan mendapat panggilan pertama ke timnas Inggris pada Maret 2015. Ia menutup kariernya di Tottenham sebagai pencetak gol terbanyak sepanjang sejarah klub dengan 280 gol dari 435 penampilan, plus tiga Sepatu Emas Premier League, meski tanpa trofi. Mantan pelatih Tottenham, Ange Postecoglou, menyebut Kane meninggalkan jejak yang tak terhapuskan di klub dan akan dikenang sebagai salah satu yang terhebat, sementara rekan setimnya, Son Heung-min, menyebutnya sebagai pemimpin, saudara, dan legenda.

Bahkan Pep Guardiola, yang sempat mencoba merekrutnya saat menangani Manchester City, pada 2023 menyebut Kane sebagai pemain yang luar biasa. Menurut Guardiola, yang lebih mengesankan daripada jumlah gol adalah kualitas permainannya. Ia menegaskan Kane tetap salah satu striker terbaik yang pernah ia lihat sepanjang hidupnya.

Trofi Bersama Bayern Munich dan Pujian Dunia

Satu hal yang lama hilang dari catatan karier Kane adalah trofi. Itulah yang mendorongnya bergabung dengan Bayern Munich pada 2023, dan di Jerman ia terus tampil impresif. Ia telah mencetak 152 gol dalam 154 pertandingan untuk klub tersebut, meraih tiga Sepatu Emas Bundesliga, serta dua gelar liga Jerman dan satu Piala Jerman.

Mantan bek Bayern, Lothar Matthaus, menilai Kane telah menemukan ulang cara bermain seorang penyerang tengah, sebagaimana Manuel Neuer mengubah cara bermain kiper. Menurut Matthaus, tidak ada striker yang lebih baik dari Kane saat ini, bukan hanya karena golnya, tetapi juga karena fleksibilitas dan variasi posisinya. Ia menyebut Kane sekaligus sebagai pencetak gol, playmaker, pemain box-to-box, dan penackle.

Mantan penyerang Inggris, Alan Shearer, menilai Kane musim ini terlihat lebih bugar dan lebih kuat dari sebelumnya. Ia menyoroti pencapaian Kane yang mencetak 61 gol dalam satu musim dan menyebut angka-angka itu benar-benar tidak masuk akal. Sementara komentator BBC, Chris Sutton, menegaskan Kane harus masuk dalam perbincangan striker terbaik dunia karena instingnya yang tidak bisa diajarkan oleh siapa pun.

Apa Artinya Rekor Ini bagi Kane dan Inggris

Menyamai 125 caps berarti Kane kini bukan hanya pencetak gol terbanyak Inggris, tetapi juga pemain dengan penampilan terbanyak dalam sejarah negaranya. Kombinasi dua rekor ini sangat jarang terjadi karena biasanya pemain dengan jumlah caps tinggi adalah pemain bertahan atau gelandang, bukan penyerang yang setiap laga dituntut mencetak gol. Fakta bahwa Kane memegang keduanya sekaligus menunjukkan durabilitas dan konsistensi luar biasa sepanjang lebih dari satu dekade.

Bagi Timnas Inggris, kehadiran Kane dalam waktu lama memberi stabilitas yang sulit digantikan. Setiap pelatih yang menangani Inggris dalam periode ini selalu bisa mengandalkan satu sosok di lini depan, baik sebagai finisher maupun sebagai pengatur serangan. Ketergantungan ini di satu sisi menguntungkan, tetapi di sisi lain menjadi tantangan tersendiri ketika Inggris harus menyiapkan penerus di masa depan.

Dari sudut pandang Kane sendiri, rekor ini menutup satu babak perdebatan tentang seberapa besar warisannya bagi sepak bola Inggris. Kritik yang sempat muncul karena belum meraih trofi bersama Tottenham sudah terjawab lewat gelar-gelar yang ia raih di Jerman. Dengan usia yang kini menginjak 33 tahun, sisa kariernya justru menjadi kesempatan untuk menambah koleksi trofi sekaligus memperpanjang rekor caps yang baru saja ia samai.

Posisi Kane di Antara Striker Terbaik Dunia

Capaian Kane menempatkannya dalam percakapan yang lebih luas tentang siapa striker terbaik di dunia saat ini. Berbeda dari banyak penyerang modern yang hanya tajam di kotak penalti, Kane dikenal karena kemampuannya turun ke tengah lapangan, mengumpan, dan ikut membantu pertahanan. Gaya bermain seperti ini membuatnya relevan di berbagai sistem permainan, mulai dari Tottenham hingga Bayern Munich maupun timnas Inggris.

Kisah Kane juga menjadi contoh menarik tentang bagaimana pemain bisa berkembang tanpa pernah menjadi bintang sejak kecil. Ia sempat dibuang Arsenal, dilewatkan Watford, dan bukan pemain paling menonjol di akademi Tottenham. Yang membuatnya bertahan justru hal-hal nonteknis: obsesi berlatih, kemauan belajar dari pemain senior selama masa peminjaman, dan ketahanan mental menghadapi tekanan di klub-klub kecil.

Ke depan, pertanyaannya bukan lagi apakah Kane mampu memecahkan rekor caps Shilton, melainkan seberapa jauh ia bisa melampauinya dan apakah Inggris bisa memaksimalkan sisa masa emasnya untuk meraih trofi besar. Selama ia masih menjaga kebugaran dan ketajaman seperti sekarang, peluang itu tetap terbuka. Sebagian wawancara dalam artikel ini pertama kali diterbitkan pada 2016, dan kisahnya hingga kini masih terus berlanjut.

Perjalanan dari seorang bocah enam tahun yang mengangkat tangan untuk menjadi kiper di Ridgeway Rovers sampai menjadi pemegang rekor caps Timnas Inggris adalah kisah tentang proses panjang, bukan bakat instan. Kane membuktikan bahwa determinasi dan kemauan beradaptasi bisa mengalahkan penilaian awal orang lain terhadap dirinya. Dengan 125 caps dan 89 gol yang sudah tercatat, warisannya sebagai salah satu penyerang terhebat Inggris tampaknya sudah tidak perlu diperdebatkan lagi.

Exit mobile version