Ange Postecoglou kini resmi menangani Al-Nassr setelah meninggalkan Nottingham Forest pada Oktober lalu. Kepindahan ke Riyadh ini disebut sebagai salah satu tantangan terbesar dalam karier kepelatihannya yang penuh warna. Postecoglou harus membuktikan diri di klub raksasa Arab Saudi, tempat kegagalan bukanlah pilihan.
Al-Nassr bukan klub sembarangan. Sebagai salah satu dari empat klub besar di Saudi, tekanan untuk meraih trofi sangat tinggi sejak hari pertama. Lebih dari itu, Postecoglou mewarisi skuad bertabur bintang yang digawangi Cristiano Ronaldo, plus sejarah panjang pergantian pelatih yang tidak kenal ampun.

Fakta Utama: Postecoglou Resmi Tangani Al-Nassr
Postecoglou adalah pelatih ke-12 yang ditunjuk Al-Nassr pada dekade 2020-an saja. Angka ini menjadi pengingat keras bahwa hasil buruk tidak akan ditoleransi. Masalah keuangan yang membuat bursa transfer klub terbilang sepi juga tidak akan diterima sebagai alasan.
Pelatih asal Australia ini dikenal memiliki pola unik: selalu memenangkan trofi di musim keduanya. Namun di Al-Nassr, tidak ada jaminan ia akan mendapatkan musim kedua bila musim pertama berakhir tanpa gelar. Ia harus tampil sebagai pemenang sejak awal, bukan sekadar membangun proyek jangka panjang.
Latar Belakang: Skuad Juara yang Kehilangan Pelatih
Pada Mei lalu, Cristiano Ronaldo mengangkat trofi Saudi Pro League bersama Al-Nassr. Tak lama berselang, Jorge Jesus yang sukses meraih gelar di musim pertamanya memilih hengkang untuk menangani tim nasional Portugal. Kursi pelatih kepala pun kosong, dan Al-Nassr menunjuk Postecoglou sebagai penggantinya.
Mengambil alih juara bertahan dengan skuad penuh bintang mungkin terdengar seperti pekerjaan yang nyaman. Kenyataannya, ini jauh dari kata mudah. Ekspektasi di Al-Nassr bahkan lebih tinggi daripada di klub mana pun yang pernah ditangani Postecoglou sepanjang kariernya.
Gelar liga musim lalu adalah yang pertama sejak 2019, dan publik menuntut hal serupa terulang. Ada pula kebutuhan mendesak akan gelar perdana Liga Champions Asia, kompetisi yang dulu kurang bersahabat bagi Postecoglou bersama Brisbane Roar dan Yokohama F. Marinos. Jika berhasil, ia akan mencatatkan namanya dalam sejarah Al-Nassr dan Asia sebagai pelatih pertama yang memenangkan gelar tertinggi level klub sekaligus tim nasional.
Analisis Dampak: Tekanan di Al-Nassr dan Faktor Ronaldo
Di Al-Nassr, tiga pertandingan tanpa kemenangan saja sudah cukup memicu keresahan. Banyak mantan pemain klub siap memberikan komentar setiap saat, dan empat laga buruk akan melipatgandakan tekanan. Al-Hilal musim lalu memenangkan Piala Raja, finis kedua di liga, dan menjalani musim tanpa kekalahan, tetapi banyak penggemar tetap kecewa dengan Simone Inzaghi. Karena itu, sebagian besar pelatih di sana tidak terlalu memikirkan gaya bermain atau filosofi—kemenangan adalah segalanya.
Tantangan Postecoglou jauh lebih kompleks daripada sekadar memenangkan satu kompetisi. Ia dituntut tampil kompetitif di dua ajang sekaligus: mempertahankan gelar liga dan menembus puncak Asia. Bahkan jika sukses di Liga Champions Asia, itu tidak boleh mengorbankan posisi di klasemen liga, seperti yang pernah terjadi di Tottenham. Tekanan yang dihadapinya bisa diringkas sebagai berikut:
- Mempertahankan gelar Saudi Pro League di tengah persaingan ketat empat klub besar.
- Memburu gelar perdana Liga Champions Asia yang selama ini sulit diraih.
- Mengelola ekspektasi publik dan media terhadap Cristiano Ronaldo.
- Bekerja dengan skuad yang minim tambahan pemain baru.
Faktor Cristiano Ronaldo juga menjadi perhatian tersendiri. Di usia 41 tahun, ia tetap menjadi wajah utama liga dan pusat perhatian media. Postecoglou belum pernah melatih pemain dengan tingkat ketenaran dan pengaruh sebesar ini. Ronaldo memang sudah tidak banyak bergerak atau menekan, tetapi ketajamannya di depan gawang tetap berbahaya.
Ronaldo digaji lebih dari US$6 juta per pekan dan berpotensi diistirahatkan di laga fase grup Liga Champions Asia. Ia juga dilaporkan mendapat libur tambahan setelah Piala Dunia dan bisa absen pada laga pembuka melawan Diriyah yang baru promosi. Meski begitu, liga, klub, media, dan penggemar tetap berharap Ronaldo tampil di mayoritas pertandingan musim ini.
Konteks Lebih Luas: Masalah Keuangan dan Misi 1.000 Gol
Al-Nassr tidak banyak memperkuat skuad setelah meraih gelar juara musim lalu. Klub bahkan lebih banyak menjadi sorotan karena masalah keuangan ketimbang target transfer. Sempat dilaporkan utang klub mencapai 800 juta Riyal Saudi, sekitar A$300 juta, dan mereka menghadapi ancaman larangan transfer.
Masalah itu akhirnya diselesaikan oleh Dana Investasi Publik Saudi selaku pemilik klub, disertai restrukturisasi dan kesepakatan komersial hanya beberapa hari sebelum kompetisi dimulai. Marcelo Brozović yang menjadi andalan lini tengah selama tiga musim hengkang, digantikan Samú Costa asal Portugal. Sementara itu, rival utama Al-Nassr, Al-Hilal, menghabiskan sekitar US$130 juta untuk Crysencio Summerville.
Ada pula misi besar menanti Ronaldo: mencapai 1.000 gol sepanjang kariernya. Ia saat ini hanya butuh 24 gol lagi. Pencapaian ini bisa menjadi pertunjukan sampingan yang cukup menarik sepanjang musim.
Konsekuensi Karier: Peta Kompetisi dan Kolega dari Australia
Pengalaman Nuno Espírito Santo menunjukkan bahwa kehilangan pekerjaan di Arab Saudi tidak selalu merusak peluang kembali ke Eropa. Ia meninggalkan Al-Ittihad setelah 16 bulan dan dengan mulus kembali ke Premier League bersama Nottingham Forest. Namun bagi Postecoglou, pemecatan ketiga berturut-turut dalam waktu singkat tidak akan terlihat baik dalam catatan kariernya.
Kabar baiknya, Postecoglou tidak akan sendirian di Saudi. Arthur Papas, mantan asistennya di Yokohama dan pelatih Newcastle Jets, kini menangani Al-Ettifaq. Al-Ettifaq finis keenam dan ketujuh dalam empat musim terakhir, dan target mereka jelas: menembus lima besar. Pertanyaannya, apakah tantangan itu lebih berat daripada yang dihadapi Postecoglou di ibu kota?
Postecoglou kini berada di persimpangan besar kariernya. Ia dituntut menang cepat di tengah tekanan finansial, ekspektasi tinggi, dan kehadiran Ronaldo yang selalu menjadi pusat perhatian. Tanpa trofi di musim pertama, peluang bertahan di Al-Nassr bisa hilang begitu saja.
Semua mata kini tertuju ke Riyadh. Musim ini akan menentukan apakah Postecoglou mampu menjawab tantangan terbesarnya atau justru menjadi bagian dari daftar panjang pelatih yang gagal bertahan di Al-Nassr. Yang jelas, tidak ada kata gagal dalam kamus klub sebesar ini.