Gol Dramatis Sadiki Bawa Sunderland Kalahkan Torreense

Noah Sadiki menjadi pahlawan kemenangan dramatis Sunderland saat mengalahkan Torreense di ajang Liga Europa. Gelandang asal Republik Demokratik Kongo itu mencetak gol pada menit ketiga waktu tambahan, memastikan tim asuhan Régis Le Bris meraih kemenangan kedua secara beruntun di kompetisi Eropa tersebut.

Gol tersebut lahir dari kerja sama apik Enzo Le Fée dan Granit Xhaka, lalu diselesaikan Sadiki dengan tendangan half-volley yang menjadi gol pertamanya untuk Sunderland. Kemenangan ini terasa begitu melegakan bagi tim tamu, yang sebelumnya tertinggal lebih dulu sebelum akhirnya berbalik unggul di penghujung laga.

Jalannya Pertandingan Sunderland vs Torreense

Begitu wasit meniup peluit panjang, Sadiki langsung melompati papan iklan di tepi lapangan, berlari melewati lintasan atletik, dan menghambur ke arah para pendukung Sunderland yang bersorak gembira. Aksi itu kemudian diikuti oleh seluruh pemain lapangan yang ikut melompati papan iklan demi merayakan kemenangan bersama suporter.

Manajer Sunderland, Régis Le Bris, mengakui bahwa pertandingan berjalan sulit. Dengan nada yang cukup merendah, ia menyebut Torreense sebagai tim yang bagus dan layak diwaspadai. Pernyataan itu mencerminkan betapa alotnya perlawanan yang diberikan sang lawan sepanjang pertandingan.

Sebelum gol kemenangan tercipta, Sunderland sempat tampil kurang meyakinkan. Mereka tertinggal lebih dulu pada babak pertama, sebelum akhirnya mampu menyamakan kedudukan dan membalikkan keadaan di sisa waktu pertandingan.

Kembalinya Sunderland ke Panggung Eropa Setelah 53 Tahun

Karena markas Torreense dinilai terlalu kecil untuk menggelar pertandingan sepak bola Eropa, Stadion Leiria dipilih sebagai venue pengganti. Arena ini ternyata menjadi latar yang istimewa, dengan pemandangan kastil abad ke-12 yang dibangun untuk mempertahankan kota abad pertengahan tersebut dari serangan bangsa Moor.

Latar bersejarah itu menjadi backdrop yang megah bagi laga kompetitif pertama Sunderland di daratan Eropa setelah 53 tahun. Terakhir kali mereka melakoni perjalanan serupa adalah pada 1973, ketika mereka masih berstatus juara Piala FA dari divisi kedua.

Torreense sendiri memahami betul suasana tersebut. Klub yang sempat mengejutkan banyak pihak dengan mengalahkan Sporting untuk menjuarai Piala Portugal pada musim semi lalu itu menikmati status mereka sebagai tim yang diunggulkan untuk kalah, atau underdog.

Rotasi Le Bris dan Ancaman Kejutan Torreense

Setelah menang di markas Lillestrøm pada bulan sebelumnya, Torreense berambisi melanjutkan rangkaian kejutan mereka. Mereka pun berhasil membuat Sunderland yang tampil dengan banyak rotasi tertinggal hingga jeda babak pertama.

Le Bris sengaja menyimpan sejumlah pemain penting, termasuk Xhaka, Le Fée, dan Nordi Mukiele, di bangku cadangan menjelang laga krusial melawan Bournemouth di Liga Premier pada hari Minggu. Rotasi ini membuat Luke O’Nien, pemain yang bertahan sejak era League One, dipercaya menjadi kapten Sunderland di stadion yang berubah menjadi lautan merah dan putih.

Meski hanya 4.000 tiket resmi dialokasikan untuk tim tamu, tiket tambahan ternyata tersedia secara luas di lokasi setempat. Perkiraan menyebutkan jumlah kehadiran pendukung Sunderland mencapai dua kali lipat dari alokasi resmi tersebut. Saat matahari mulai terbenam dan suhu turun dari titik tertinggi 28 derajat Celsius, para penggemar menyaksikan babak pertama yang tampil kurang padu dari tim mereka.

Penampilan Sunderland di babak pertama memang jauh dari memuaskan. Malick Fofana, rekrutan musim panas senilai £30 juta dari Lyon, kesulitan bermain di sisi kiri, begitu pula Nilson Angulo di sayap kanan. Torreense, yang berada di peringkat ke-15 divisi kedua Portugal, memang belum mengancam gawang Robin Roefs, tetapi mereka berhasil memblok dan menyapu hampir semua bola yang datang ke area pertahanan mereka.

Gol Volnei Feltes dan Momen Kontroversial VAR

Pada pertengahan babak pertama, penyerang tengah Sunderland, Timur Tutierov, sempat mengira dirinya mencetak gol pembuka melalui sundulan. Namun, gol tersebut dianulir karena adanya tarikan kaus yang dilakukan Omar Alderete.

Menjelang turun minum, Torreense justru mengejutkan semua orang dengan mencetak gol melalui tembakan pertama mereka. Bek tengah Volnei Feltes memanfaatkan hilangnya konsentrasi pemain Sunderland untuk maju tanpa pengawalan, lalu melepaskan tembakan melengkung indah dari jarak 20 yard ke sudut atas gawang.

Le Bris kemudian melakukan rotasi besar-besaran dengan memasukkan Le Fée, Xhaka, Mukiele, dan Reinildo. Gelandang Jules Ahoka, pemain berusia 20 tahun hasil rekrutan musim panas senilai £8,5 juta dari Royal Antwerp, berhasil menyamakan kedudukan melalui sundulan memanfaatkan umpan manis Mukiele, sekaligus mencetak gol pertamanya untuk Sunderland.

Ketika Tutierov terjatuh di dalam kotak penalti, wasit langsung menunjuk titik putih. Namun, hakim garis mengangkat bendera tanda offside sehingga penalti sepertinya tidak akan diberikan. Video assistant referee kemudian melakukan intervensi panjang, yang berujung pada kesimpulan tidak ada offside, tidak ada pelanggaran, dan tidak ada penalti.

Reputasi Torreense sebagai Pembunuh Raksasa

Torreense kembali membuktikan mengapa mereka dikenal sebagai tim pembunuh raksasa. Meski berkompetisi di divisi kedua Portugal, mereka mampu menyulitkan tim-tim besar, termasuk menahan Sunderland hingga menit-menit akhir pertandingan.

Pertahanan tim asuhan Luís Tralhão itu tampil solid sepanjang laga. Bahkan, disamakan dengan kastil kuno yang menjulang di atas mereka, lini belakang Torreense tampak hampir sama kokohnya dalam menahan gempuran Sunderland.

Kemenangan ini menjadi modal penting bagi Sunderland sebelum melakoni laga berat melawan Bournemouth. Kemenangan dramatis seperti ini dapat meningkatkan kepercayaan diri para pemain, sekaligus menegaskan kedalaman skuad yang dimiliki Le Bris.

Penutup

Kemenangan dramatis Sunderland atas Torreense menjadi momen yang layak dikenang, terutama bagi Noah Sadiki yang mencetak gol pertamanya bagi klub. Gol pada menit ketiga waktu tambahan itu memastikan Sunderland meraih hasil maksimal dalam perjalanan kompetitif pertama mereka ke daratan Eropa setelah 53 tahun.

Meski tampil kurang meyakinkan di sebagian besar pertandingan, kemampuan Sunderland bangkit dari ketertinggalan menunjukkan mentalitas dan kualitas yang dimiliki tim asuhan Régis Le Bris. Di sisi lain, Torreense kembali membuktikan bahwa status underdog bukanlah halangan untuk memberikan perlawanan sengit di panggung Eropa.

Exit mobile version