Will Lankshear: Striker Kane-esque yang Disayangkan Spurs

Will Lankshear kembali mencuri perhatian setelah mencetak gol kesembilannya dalam 12 pertandingan bersama Middlesbrough. Striker berusia 21 tahun itu melompat tinggi di depan gawang, sekitar enam yard dari mulut gawang, untuk menyundul umpan silang Tommy Conway dari sayap kiri. Gol tersebut memastikan Boro menang 1-0 atas Wolves pada Sabtu, sekaligus menegaskan naluri predator yang membuatnya cepat diterima di Riverside Stadium.

Bagi Tottenham Hotspur, penampilan itu justru menyakitkan. Lankshear pindah dari Spurs pada musim panas dengan kontrak lima tahun, dalam kesepakatan yang nilainya berpotensi naik hingga £20 juta dan bisa menjadi rekor pembelian klub. Sejak kepergiannya, jumlah golnya di semua kompetisi menyamai total gol seluruh skuad Tottenham. Spurs masih terdampar di zona degradasi Premier League, sementara Middlesbrough bertengger di posisi promosi otomatis Championship.

Will Lankshear dan Gol yang Membuat Spurs Gelisah

Gol ke gawang Wolves lahir dari situasi yang terlihat sederhana, tetapi menuntut naluri tajam. Lankshear bergerak ke tiang dekat, melompat lebih tinggi dari pemain bertahan lawan, lalu mengarahkan bola hasil umpan silang Conway ke dalam gawang. Kombinasi posisi tubuh, penyelesaian akhir, dan insting mencari ruang itulah yang membuat Middlesbrough meraih kemenangan 1-0 dan menjadikannya idola baru di Riverside.

Catatannya musim ini terbilang luar biasa untuk pemain seusianya. Sembilan gol dalam 12 laga adalah angka yang jarang dicapai penyerang muda di Championship, dan itu pula yang membuat para pendukung Tottenham bertanya-tanya mengapa klub melepasnya begitu cepat.

Beberapa jam setelah gol Lankshear, Spurs hanya mampu mencuri hasil imbang di Old Trafford. Gol Dominic Solanke di menit akhir menjadi gol liga pertama yang dicetak penyerang Tottenham dalam lima bulan — statistik yang kian memperjelas betapa tumpulnya lini depan klub London utara itu.

Kekecewaan terdengar jelas di kalangan pendukung. “Banyak fans bertanya-tanya kenapa dia dijual,” ujar Ali Speechly, salah satu ketua kelompok suporter Women of the Lane, kepada BBC Sport. “Kemungkinan besar karena uang — harga jualnya relatif tinggi, jadi mari ambil keuntungannya. Saya jelas kecewa. Melihat buruknya awal musim kami, sebagai penggemar ini terasa seperti keputusan yang salah.”

Alasan Tottenham Melepas Will Lankshear

Di tengah belanja besar-besaran pada musim panas, Spurs mengizinkan Lankshear pergi dengan nilai awal sekitar £10 juta, ditambah potensi £10 juta lagi melalui berbagai klausul tambahan. Keputusan itu diambil ketika klub tengah merombak skuad dan lebih memilih menguangkan aset muda yang belum mendapat tempat di tim utama.

Middlesbrough sendiri harus bersaing ketat untuk mendapatkannya. Boro disebut menyingkirkan pesaing dari berbagai klub Championship hingga tim Eropa demi mengamankan pemain yang musim lalu bersinar di Oxford United. Saat itu ia mencetak 12 gol liga selama dipinjamkan ke klub yang akhirnya terdegradasi dari kasta kedua.

Penampilan itu memang menjanjikan, tetapi belum cukup memaksa untuk langsung menembus tim utama Tottenham. “Kalau kamu pemain muda di klub yang tidak memberimu kesempatan di tim utama dan ada peluang bermain sepak bola pria dewasa, kamu harus pergi,” kata mantan kiper Spurs, Paul Robinson, kepada BBC Sport. “Akademi itu bagus dan Premier League 2 adalah ladang yang baik, tapi kalau kamu berusia 21, 22, atau 23 tahun dan masih bermain di tim U23, kamu sudah kehilangan momennya.”

Jejak karier Lankshear memang berliku. Ia sempat dibina di akademi Arsenal, dilepas, lalu bergabung dengan Sheffield United sebelum direkrut Spurs senilai £2 juta saat berusia 17 tahun. Bersama tim U23 Tottenham, ia mencetak 23 gol pada musim Premier League 2 2023-24, dan sempat tampil di ajang Europa League 2024-25 — termasuk momen mencetak gol sekaligus dikartu merah melawan Galatasaray.

Kemiripan dengan Harry Kane yang Sulit Diabaikan

Profil Lankshear memang memicu perbandingan. Ia penyerang Inggris setinggi 6 kaki 2 inci dengan sentuhan akhir mematikan, besar di Spurs, lalu menempa diri di kompetisi sepak bola Inggris. Komentator BBC Tees, Mark Drury, menilai yang paling menonjol darinya adalah penyelesaian instingtif: satu sentuhan, berada di tempat yang tepat, sederhana tetapi tidak banyak pemain yang mampu melakukannya secara konsisten.

“Dia lebih tinggi dan lebih kekar dibandingkan kesan saat dilihat dari pinggir lapangan, dan usianya baru 21 tahun,” kata Drury. “Sepertinya dia punya paket lengkap — bagus dengan kedua kaki dan di udara.”

Robinson pun mengakui adanya kesamaan dengan Kane. Menurutnya, Lankshear menempuh jalur karier yang mirip, dengan postur fisik yang tak jauh berbeda, dan sama-sama berkembang agak terlambat dibanding pemain yang sudah jadi langganan Premier League sebelum usia 20 tahun. “Tidak ada pengganti untuk bermain di tim utama di mana pun, apa pun levelnya,” tegasnya.

Speechly menambahkan bahwa masa peminjaman yang biasa-biasa saja bukan penanda mutlak kualitas seorang pemain, karena Kane pun tidak selalu sukses saat dipinjamkan. “Saya rasa kita tidak akan pernah mendapat Kane lagi, tapi kemiripannya nyata. Dia benar-benar predator dan punya etos kerja kuat. Sangat Kane-esque,” ujarnya.

Dampak bagi Middlesbrough dan Tottenham

Kedatangan Lankshear menjawab kebutuhan mendesak Boro. Musim lalu, tim asuhan Kim Hellberg itu gagal promosi setelah hanya mencetak satu gol dalam tiga pertandingan play-off. Skuadnya kreatif tetapi tumpul, dan mereka butuh sosok fisik serta terampil yang bisa menyelesaikan banyaknya peluang yang tercipta.

“Boro adalah tim yang menciptakan peluang bertubi-tubi, dan dia tahu bisa berada di ujungnya,” kata Drury. Kombinasi itu terbukti efektif: Boro kini menempati posisi promosi otomatis, sementara Spurs justru berjuang keluar dari zona degradasi meski baru mendatangkan Solanke.

Bagi Tottenham, persoalannya bukan sekadar satu nama yang pergi. Klub tengah mengalami pergantian pemain dan pelatih yang membuat pemain muda sulit mendapat jalur jelas menuju tim utama. Di sisi lain, keputusan menjual Lankshear terasa makin pahit karena lini depan Spurs baru mencetak gol liga pertama dari seorang penyerang setelah lima bulan.

Middlesbrough sendiri sudah lama punya reputasi sebagai batu loncatan bagi talenta muda. Morgan Rogers hanya enam bulan di Riverside sebelum pindah ke Aston Villa, dan sejak itu kariernya melesat. Pola itu membuat Boro percaya bahwa Lankshear bisa mengikuti jalur serupa, dengan keuntungan bagi kedua belah pihak.

Klausul Transfer dan Peluang ke Timnas Inggris

Tottenham tidak bisa langsung membawa Lankshear pulang pada musim panas mendatang. Namun, mereka tetap memegang sejumlah hak dalam kesepakatan tersebut:

  • Hak untuk diberi tahu dan menyamakan nilai tawaran yang diterima Middlesbrough di masa depan.
  • Hak penolakan pertama, bukan opsi beli kembali dengan harga yang sudah ditetapkan sebelumnya.
  • Jatah 20% dari keuntungan penjualan Lankshear di masa mendatang.

Artinya, posisi Spurs lebih kuat daripada klub biasa yang menjual pemain, tetapi tetap jauh dari jaminan bisa merekrutnya kembali. Karena itu, muncul perasaan bahwa Boro hanya bisa menikmati jasa Lankshear selama masih bisa.

“Ini realitas hidup, terutama di Championship dan pasti di Premier League. Selalu ada urutan prioritas,” kata Drury. Menurutnya, Lankshear punya semua perangkat yang dibutuhkan, termasuk sikap, untuk memaksimalkan bakatnya. “Kalau dia terus berkembang seperti ini, tidak mengherankan melihatnya di Premier League — semoga bersama Boro.”

Pembicaraan tentang masa depan bahkan sudah naik ke level tim nasional. Lankshear mencetak gol pada debutnya bersama Inggris U21 bulan lalu, dan pelatih Thomas Tuchel menyatakan terbuka memanggil pemain dari luar Premier League. Jika Inggris sedang menyiapkan regenerasi untuk Kane yang berusia 33 tahun, memanggil Lankshear bukan lagi hal yang mustahil.

Kesimpulan

Kisah Will Lankshear adalah potret klasik tentang pemain muda yang butuh menit bermain, lalu membuktikan kualitasnya di tempat lain. Sembilan gol dalam 12 laga, kemenangan atas Wolves, dan perbandingan dengan Harry Kane membuat namanya semakin sulit diabaikan, sekaligus membuat Tottenham menghadapi pertanyaan yang belum terjawab soal lini depannya.

Bagi Middlesbrough, ini adalah kombinasi sempurna antara kebutuhan mendesak dan peluang pasar. Yang tersisa sekarang hanya satu pertanyaan: seberapa jauh Lankshear bisa melaju sebelum klub pemiliknya terdahulu benar-benar menyesal — atau justru memanfaatkan klausul yang mereka sisipkan dengan cermat.

Exit mobile version