Trent Alexander-Arnold Buktikan Nilai untuk Inggris

Trent Alexander-Arnold menjawab keraguan tentang dirinya dengan cara yang paling ia kuasai: sebuah assist khas dari sisi kanan. Dalam laga Selasa malam di Praha, bek Real Madrid itu tampil sebagai starter untuk pertama kalinya di era Thomas Tuchel dan langsung menyumbang umpan matang yang membuka jalan kemenangan Inggris atas Ceko.

Pertanyaan yang sebenarnya jarang dilontarkan sebelum laga — mampukah Alexander-Arnold bersinar melawan Ceko yang bermain dengan sepuluh pemain namun tetap disiplin bertahan? — beroleh jawaban tegas. Assist untuk Anthony Gordon tidak hanya memecah kebuntuan, tetapi juga menjadi bukti bahwa pemain berusia 28 tahun itu punya sesuatu yang tidak dimiliki banyak bek kanan lain di skuad Inggris.

Alexander-Arnold

Assist Trent Alexander-Arnold yang Membuka Kebuntuan

Momen krusial terjadi tak lama setelah babak kedua dimulai. Sebuah alur permainan yang terputus membuat bola mengarah ke Alexander-Arnold di sisi kanan, dan ia bergerak cepat menyesuaikan posisi. Situasi itu tidak menuntut ia menahan bola atau menunggu dukungan; Inggris butuh ketegasan melawan pertahanan Ceko yang bentuknya berantakan setelah kehilangan penguasaan bola.

Alexander-Arnold mengambil keputusan dengan sigap, mengeluarkan bola dari kakinya, lalu melepas umpan silang yang membebaskan Gordon dari kawalan. Sundulan Gordon membawa Inggris unggul 1-0 dan mengendurkan ketegangan yang sempat menyelimuti tim. Gol kedua Harry Kane memastikan kemenangan 2-0, sekaligus menjadi kemenangan pertama Inggris di Grup A3 Liga Nations.

Jalannya pertandingan sendiri berubah sejak pertengahan babak pertama. Ceko kehilangan Pavel Sulc akibat kartu merah yang dinilai kontroversial karena dianggap menginjak Achilles Anderson. Sejak itu Ceko beralih ke formasi 5-4-0, dan Alexander-Arnold praktis lebih banyak menghabiskan waktu di separuh lapangan lawan.

Dengan kutipan lamanya, “Saya selalu merasa bisa melihat hal-hal yang tidak dilihat orang lain,” Alexander-Arnold kembali membuktikan kemampuan membongkar pertahanan rapat. Umpan silangnya nyaris selalu menemukan sasaran, sesuatu yang tidak dimiliki Inggris dari opsi lain di posisi yang sama.

Perjalanan Panjang Menembus Skuad Inggris

Kesempatan ini sebenarnya sudah lama dinanti. Alexander-Arnold genap berusia 28 tahun pekan depan dan debut bersama timnas Inggris delapan tahun silam, tetapi laga melawan Ceko baru menjadi penampilan ke-35 baginya. Cedera membatalkan partisipasinya di Euro 2020, dan sejumlah manajer bergantian kesulitan mencarikan tempat untuknya.

Gareth Southgate, misalnya, tidak pernah benar-benar berhasil memaksimalkan bakatnya. Alexander-Arnold sempat beberapa kali ditinggalkan, kepercayaan yang diberikan hanya berlangsung singkat, dan Southgate enggan memainkannya sebagai bek kanan. Eksperimen memainkannya sebagai gelandang di Euro 2024 pun cepat dihentikan.

Pandangan umum yang beredar menyebut Alexander-Arnold tidak bisa bertahan. Andy Robertson membantah anggapan itu pekan lalu dalam podcast Stick To Football, dengan mengingatkan bahwa mantan rekan setimnya di Liverpool pernah mematikan Kylian Mbappé. Meski begitu, Tuchel sendiri sempat terkesan ambivalen, mempertanyakan pemahaman bertahannya, dan tidak mengejutkan ketika namanya absen dari skuad Piala Dunia.

Sebelum laga di Praha, satu-satunya menit yang ia dapat dari Tuchel adalah penampilan singkat sebagai gelandang melawan Andorra pada Juni 2025. Ada delapan pemain berbeda yang sempat dicoba di posisi bek kanan sebelum ia kembali dipanggil, dan bahkan saat itu muncul kesan bahwa ia hanya masuk skuad karena pemain lain tidak tersedia.

Dampaknya bagi Tuchel dan Persaingan di Sektor Kanan

Penampilan melawan Ceko memberi Tuchel alasan kuat untuk meninjau ulang penilaiannya. Perbandingan dengan Jarell Quansah cukup jelas: Quansah bek yang baik dan cepat, tetapi umpan silangnya tidak menemui sasaran ketika ia menjadi starter di bek kanan saat Inggris kalah dari Spanyol pada Sabtu. Alexander-Arnold, yang bahkan tidak dimainkan ketika Inggris mengejar gol penyama kedudukan, jarang melewatkan umpan silangnya.

Permainan Alexander-Arnold memang bertumpu pada risiko, dan risikonya nyata. Ia sempat terlihat berkarat di awal laga, chemistry dengan Bukayo Saka belum terbangun, dan beberapa sentuhannya kurang rapi. Sebuah umpan melintang yang melenceng bahkan berpotensi memicu serangan balik Ceko, dan hal seperti itu pasti dicatat oleh Tuchel.

Namun risiko itulah yang membuatnya berbahaya. Ia membuat lawan kehilangan keseimbangan dan terus menebak-nebak arah serangan. Tuchel sendiri menilai penyesuaian posisi Alexander-Arnold pada jeda babak turut membantu penampilannya di babak kedua. Pertanyaannya kini, apakah laga ini menjadi titik balik dalam hubungan keduanya, masih belum terjawab.

Yang juga perlu dicatat, laga melawan Ceko belum benar-benar menguji kemampuan bertahannya. Inggris bermain dengan empat bek yang tidak biasa dan sempat tampil goyah di awal sebelum keunggulan jumlah pemain mengubah peta pertandingan. Alexander-Arnold nyaris tidak pernah dituntut bertahan karena Ceko lebih banyak menunggu di area sendiri.

Kualitas Passing dan Peran Wildcard Inggris

Yang tidak perlu diperdebatkan lagi adalah kualitas distribusi bola Alexander-Arnold. Selama berseragam Liverpool, ia mencatatkan 86 assist dalam 354 penampilan, angka yang luar biasa untuk seorang bek. Ia adalah salah satu pengumpan terbaik yang pernah dihasilkan Inggris, dan kemampuan itu memberi Tuchel opsi yang tidak dimiliki pemain lain.

Alexander-Arnold adalah ancaman dalam banyak situasi. Ia bisa membuka pertahanan yang menumpuk di belakang, menciptakan peluang dari bola mati, bahkan mencetak gol dari situasi set piece. Ia juga opsi wildcard yang bisa masuk kapan saja untuk mengubah jalannya pertandingan.

Keputusan Southgate yang tidak memasukkannya saat Inggris tertinggal 2-1 dari Prancis di Piala Dunia 2022 sering disebut sebagai kelalaian. Kekhawatiran soal lini tengah Inggris yang kurang mengontrol penguasaan bola memang nyata, tetapi masalah itu bersifat kolektif, bukan individual. Alexander-Arnold tidak bisa memperbaikinya sendirian.

Karena itu, mengabaikan kelemahannya dan lebih fokus pada sisi positifnya tampak semakin masuk akal. Pertahanannya tetap akan diuji melawan lawan yang lebih kuat, tetapi melawan Ceko, Inggris jelas membutuhkan kecerdikan seorang Trent Alexander-Arnold.

Kesimpulan

Penampilan di Praha menegaskan bahwa Alexander-Arnold masih menyimpan nilai yang belum sepenuhnya dimanfaatkan Inggris. Assist untuk Gordon adalah bukti nyata bahwa kemampuannya membongkar pertahanan rapat bisa menjadi pembeda ketika Inggris menemui jalan buntu, sesuatu yang kerap terjadi di turnamen besar.

Pekerjaan rumah Tuchel berikutnya adalah memutuskan seberapa besar ruang yang layak diberikan kepada pemain seperti ini. Menyisihkannya dari skuad berikutnya berisiko mengulang pola lama, sementara memasukkannya menuntut tim menutupi kelemahan defensifnya secara kolektif. Apa pun pilihannya, laga melawan Ceko sudah memberi cukup alasan untuk tidak lagi memandang Alexander-Arnold sebagai opsi cadangan semata.