Kegagalan Brasil di Piala Dunia 2026: Apakah Ancelotti Masih Layak?

Kekalahan Memalukan yang Mengakhiri Harapan

Empat tahun lalu, Brasil tersingkir dari Piala Dunia setelah kalah tipis dari Kroasia di perempat final. Empat tahun sebelumnya, mereka juga bernasib sial saat dikalahkan Belgia di fase yang sama. Namun kali ini, di Piala Dunia 2026, segalanya berbeda. Brasil gagal melangkah jauh — dan tidak ada unsur keberuntungan dalam kekalahan mereka dari Norwegia. Ini adalah bencana besar yang tak terbantahkan.

Ancelotti

Tim Samba yang dulu disegani kini harus menjalani operasi besar. Masalahnya bukan hanya di hasil pertandingan, tetapi juga di fondasi permainan yang mulai keropos. Carlo Ancelotti, pelatih yang didatangkan dengan harapan besar, kini berada di persimpangan jalan. Apakah dia masih mampu membawa perubahan? Atau sudah saatnya Brasil mencari sosok lain?

Masalah Kronis di Lini Tengah Brasil

Salah satu area yang paling memprihatinkan adalah lini tengah. Dulu Brasil dikenal dengan kreativitas dan keindahan permainan di sektor ini. Kini, justru di situlah kelemahan terbesar mereka. Ketidakmampuan menguasai bola dan membangun serangan dari tengah membuat Brasil kehilangan identitas. Fakta bahwa Norwegia mampu mendominasi penguasaan bola sepanjang pertandingan adalah tamparan keras bagi sepak bola Brasil.

Ancelotti mengambil keputusan kontroversial dengan memanggil kembali Casemiro setelah 18 bulan absen dari tim nasional. Casemiro memang memberi struktur dan disiplin, sekaligus membebaskan Bruno Guimarães untuk lebih kreatif. Namun, kelemahan Casemiro dalam ruang terbuka sangat kentara. Pada menit kedua pertandingan, Norwegia hampir mencetak gol yang dianulir, dan sejak saat itu Brasil terus tertekan.

Ketergantungan pada Pemain Usia Tua

Selain Casemiro, cedera Lucas Paquetá di laga sebelumnya membuat Ancelotti kebingungan. Ia mengakui tidak memiliki pemain lain dengan karakteristik serupa. Alhasil, Gabriel Martinelli dari Arsenal dimasukkan, yang justru membuat serangan Brasil terlalu bergantung pada serangan balik cepat. Strategi ini mudah dibaca lawan dan tidak efektif.

Kesalahan lain terjadi saat pemanggilan pemain. Ancelotti hanya membawa lima gelandang — jumlah yang sangat minim untuk turnamen sebesar Piala Dunia. Ketika bek kanan Wesley cedera di pemanasan terakhir, ia memanggil Ederson (calon pemain Manchester United) sebagai pengganti. Keputusan ini menunjukkan bahwa persiapan Brasil tidak matang. Namun, bukan hanya pelatih yang patut disalahkan. Sepak bola Brasil saat ini lebih banyak menghasilkan pemain sayap ketimbang gelandang berkualitas.

Sosok Neymar dan Akhir dari Sebuah Era

Keputusan paling kontroversial Ancelotti adalah memanggil Neymar. Sebelumnya, pelatih berkata bahwa Neymar hanya akan dipanggil jika layak dan tidak cedera. Namun, pada kenyataannya, semua batasan itu dilanggar. Dalam penampilan singkat melawan Skotlandia, Neymar tampak seperti pensiunan yang bermain amal. Sungguh mengejutkan bahwa Ancelotti tetap memainkannya di laga hidup-mati.

Tanpa mobilitas untuk bertahan, Neymar harus ditempatkan sebagai penyerang tengah. Ini memaksa Vinícius Jr. dan Endrick bermain lebih lebar dan mundur, menjauh dari gawang — posisi yang seharusnya tidak mereka tempati. Akibatnya, pertahanan Brasil terbuka lebar, dan Norwegia akhirnya bisa memberikan umpan matang kepada Erling Haaland. Satu peluang sudah cukup baginya untuk mencetak gol.

Neymar memang mencetak gol dari titik penalti, seharusnya ia sudah dikeluarkan lebih awal karena tendangan liar yang frustrasi. Itu mungkin menjadi sikap pamungkasnya. Dalam wawancara usai pertandingan, ia mengindikasikan ini adalah akhir perjalanannya bersama tim nasional. “Saya mencoba, saya mencoba… sekarang sudah berakhir! Saya memulai di sini, saya menyelesaikannya di sini,” ujarnya.

Apakah Ancelotti Masih Orang yang Tepat?

Meskipun kalah, Ancelotti bersikeras bahwa ini bukan akhir, melainkan awal dari siklus baru. Ia mengatakan akan terus bekerja keras untuk tim nasional dan mencari ide-ide segar. Namun, sejak menggantikan pelatih sebelumnya setelah kekalahan 4-1 dari Argentina pada Maret tahun lalu, Ancelotti memenangkan 10 dari 16 laga, imbang 3, dan kalah 3. Ia memang berhasil membalikkan situasi di kualifikasi yang sulit, tetapi di Piala Dunia hasilnya justru mengecewakan.

Kontrak Ancelotti masih panjang. Ia dikenal sebagai “fixer” yang mampu menyulap tim-tim Eropa menjadi juara. Tapi apakah ia bisa melakukan perombakan besar-besaran? Brasil butuh regenerasi di lini tengah, pemain muda yang kreatif, dan transisi dari generasi emas yang sudah uzur. Ini bukan sekadar tambal sulam, melainkan operasi besar.

Kualifikasi menuju Piala Dunia 2030 akan sangat mudah karena Argentina, Paraguay, dan Uruguay sudah menjadi tuan rumah. Tapi itu bukan jaminan. Jika Brasil ingin kembali ke puncak, mereka harus memulai dari sekarang. Pertanyaan besarnya: apakah Ancelotti adalah arsitek yang tepat untuk membangun timnas Brasil yang baru? Atau akankah ia hanya menjadi sejarah lain di balik kegagalan Piala Dunia 2026?

Kesimpulan: Saatnya Berbenah Total

Kegagalan Brasil di Piala Dunia 2026 bukan sekadar hasil buruk di lapangan, melainkan cerminan masalah struktural yang sudah lama terabaikan. Lini tengah yang lemah, ketergantungan pada pemain tua, dan keputusan taktis yang dipertanyakan menjadi bumerang. Carlo Ancelotti memang memiliki reputasi mentereng di Eropa, tetapi tantangan di Brasil berbeda. Pertanyaan tentang masa depannya akan terus bergema hingga keputusan besar diambil. Satu hal yang pasti: seleção butuh revolusi, bukan hanya evolusi.