Analisis Taktik: Mengapa Inggris Kesulitan Lawan DR Congo dan Pelajaran untuk Meksiko

Mengapa Inggris Kesulitan Lawan DR Congo di Piala Dunia 2026?

Pertandingan Inggris vs DR Congo di babak 16 besar Piala Dunia 2026 menyisakan banyak pertanyaan. Tim asuhan Thomas Tuchel yang diunggulkan justru tampil tersendat melawan tim peringkat 46 dunia tersebut. DR Congo berhasil menyulitkan Inggris dengan perubahan formasi yang cerdik, memanfaatkan celah di lini pertahanan The Three Lions. Meski akhirnya menang berkat dua gol Harry Kane, performa Inggris jauh dari kata meyakinkan.

Lawan DR Congo

Pertandingan ini menjadi ujian taktik yang berat bagi Tuchel. Ke depan, Inggris harus menghadapi Meksiko di Estadio Azteca, laga yang hampir seperti laga tandang. Pelajaran dari laga Inggris vs DR Congo akan sangat krusial jika ingin melangkah lebih jauh.

Formasi Berani DR Congo yang Membuat Inggris Terkejut

Pelatih DR Congo, Sebastien Desabre, meninggalkan formasi 5-3-2 andalannya dan beralih ke 4-4-2. Perubahan ini bukan semata untuk bertahan, melainkan untuk membangun serangan yang efektif. Mereka menggunakan kiper dan tiga pemain di lini tengah saat membangun serangan, sehingga unggul jumlah saat berhadapan dengan duet Harry Kane dan Jude Bellingham di lini depan Inggris.

Bek sayap DR Congo melebar, menarik Marcus Rashford dan Noni Madueke keluar dari posisi tengah. Hal ini membuat lini belakang Inggris meregang dan kesulitan menutup jarak. Pemain Inggris seperti ragu-ragu: apakah harus menekan tinggi atau tetap bertahan? Situasi ini membuat Inggris vs DR Congo menjadi pertandingan yang tidak nyaman bagi skuad Tuchel.

Perbandingan dengan Taktik Meksiko

Bunyi familiar? Meksiko di bawah pelatih Javier Aguirre juga menggunakan pendekatan serupa. Meski dengan formasi 4-3-3, Meksiko mengandalkan lebar sayap dan rotasi pemain untuk membuka ruang. Pergerakan tanpa bola gelandang DR Congo menarik Declan Rice dan Elliot Anderson ke posisi asing, sementara penyerang mereka turun ke area kosong. Hal yang sama juga dilakukan Raul Jimenez untuk Meksiko.

Oleh karena itu, Tuchel harus memilih dua opsi saat menghadapi Meksiko. Pertama, bertahan lebih dalam dengan blok kompak, memberi bola lebih banyak pada lawan tetapi membatasi ruang. Kedua, tetap menekan tinggi dengan penyesuaian. Ia bisa meminta salah satu gelandang tengah bergabung dengan Kane dan Bellingham untuk menekan man-to-man ke dua bek tengah dan gelandang bertahan lawan. Konsekuensinya, salah satu bek tengah Inggris harus maju mengisi ruang di belakang Rice, seperti yang biasa dilakukan Marc Guehi di Manchester City.

Tuchel tidak boleh setengah-setengah. Jika Inggris vs DR Congo menunjukkan satu hal, itu adalah bahaya berada di antara dua pendekatan.

Masalah Inggris saat Menguasai Bola dan Solusinya

Pertahanan tidak berdiri sendiri. Cara sebuah tim menguasai bola juga memengaruhi pertahanan. Di babak kedua Inggris vs DR Congo, Inggris lebih banyak menguasai bola dan berhasil meminimalkan dampak serangan balik DR Congo. Namun, menghadapi Meksiko di kandang sendiri akan lebih sulit.

Kendali bola yang lebih terukur, seperti yang dilakukan DR Congo di awal laga, bisa menjadi taktik yang dipinjam Inggris. Saat menguasai bola, Inggris kesulitan membangun serangan cair melawan formasi 4-4-2 DR Congo, masalah yang sudah terlihat sejak fase grup melawan Ghana dan Panama. Meski begitu, ada pola serangan andalan yang bisa diandalkan.

Unit Lebar: Senjata Andalan Tuchel

Sebelum turnamen, Tuchel berfokus pada serangan dari sayap melalui “unit lebar” — segitiga antara bek sayap, gelandang serang, dan winger yang saling berotasi. Mereka menarik lawan keluar lalu menyerang ruang yang terbuka. Tuchel berpegang pada rencana ini, sehingga ia memilih pemain dengan profil serupa di setiap posisi daripada pemain yang mengubah gaya bermain.

Satu-satunya pemain yang memberi dinamika berbeda adalah Eberechi Eze, yang masuk setelah jeda hidrasi. Menyadari cedera pada bek sayap dan performa unit lebar yang kurang memuaskan, Tuchel mulai mencari alternatif serangan, termasuk melalui tengah dan mengubah komposisi unit lebar.

Menjelang akhir laga Inggris vs DR Congo, ia mungkin menemukan kombinasi yang pas. Saat gol penyeimbang, Bukayo Saka menarik bek sayap DR Congo keluar. Pergerakan diagonal Eze membawa bek tengah ikut bergerak, dan Rice dari posisi bek kanan mengisi ruang kosong. Rotasi cepat dan hampir telepatis seperti inilah yang sulit dihentikan dan menjadi alasan Tuchel menyukai taktik ini.

Penyesuaian Posisi yang Membebaskan Bellingham

Pergerakan Rice dan Bellingham menjadi kunci. Di babak pertama, Rice belum bisa melakukan pergerakan seperti itu secara alami. Bellingham yang frustrasi akhirnya pindah ke sisi kiri sendiri. Penyesuaian taktik dengan memindahkan Rice ke posisi bek kanan dan Bellingham ke sisi kiri menciptakan hubungan yang lebih natural. Bellingham tampil cemerlang melawan Panama dengan dribel dan lari ke belakang bek kanan lawan.

Meksiko belum kebobolan satu gol pun di Piala Dunia ini. Menembus pertahanan mereka akan sangat sulit. Namun, jika ingin sukses, Inggris harus memaksimalkan hubungan yang mulai terbentuk — di mana pemain saling memahami pergerakan rekan setim dan sulit dibaca lawan.

Kesimpulan: Pelajaran Berharga dari Pertandingan Sulit

Tuchel sudah memperingatkan bahwa jangan harap penampilan gemilang, dan kemenangan Inggris vs DR Congo memang tidak gemilang. Lewat kesulitan yang dihadapi, mereka menemukan pertanyaan taktik dan jawaban berupa peran serta kemitraan yang mengeluarkan potensi terbaik pemain. Meski ingin bermain lebih baik, pertandingan ini justru menjadi persiapan yang dibutuhkan menjelang laga besar melawan Meksiko. Kuncinya adalah konsistensi dan keberanian Tuchel mempertahankan penyesuaian yang berhasil.