Tuchel Pertahankan Cetak Biru Adu Penalti Warisan Southgate
Manajer timnas Inggris, Thomas Tuchel, mengonfirmasi bahwa skuadnya akan tetap menggunakan cetak biru adu penalti yang dirancang oleh pendahulunya, Gareth Southgate, di Piala Dunia 2026. Keputusan ini diambil menjelang laga babak 32 besar melawan DR Kongo, yang berpotensi berujung pada adu penalti.
Pertandingan yang akan digelar di Atlanta pada Rabu (pukul 17.00 BST) itu disiarkan langsung oleh BBC One dan iPlayer. Tuchel menegaskan bahwa pendekatan yang sudah terbukti berhasil di era Southgate akan terus dijalankan.

Warisan Southgate: dari Kekalahan ke Kemenangan
Sebelum Southgate menangani Inggris pada 2016, The Three Lions memiliki rekor buruk dalam adu penalti turnamen besar—hanya menang satu dari tujuh kesempatan. Namun, sejak Southgate mengambil alih, Inggris memenangi tiga dari empat adu penalti yang dihadapi.
Keberhasilan ini tidak terlepas dari persiapan matang yang ia terapkan. Southgate mengubah adu penalti dari yang dianggap “lotere” menjadi proses terukur berbasis persiapan mental dan fisik. Ia percaya bahwa kejelasan peran dan latihan berulang adalah kuncinya.
Elemen Kunci Pendekatan Southgate
Berikut adalah beberapa elemen yang diwariskan Southgate dan akan tetap digunakan oleh Tuchel:
- Latihan reguler dan simulasi realistis: Tim berlatih penalti secara rutin dengan mencoba meniru tekanan pertandingan sebisa mungkin, sehingga eksekusi menjadi lebih berbasis memori otot.
- Penentu penendang sejak awal: Southgate memutuskan daftar penendang jauh-jauh hari berdasarkan performa latihan, dan ia secara terbuka mengambil tanggung jawab penuh untuk melindungi pemain dari tekanan.
- Sistem “buddy”: Setiap penendang penalti memiliki seorang rekan yang menunggu di tengah lapangan untuk menyambut mereka setelah berjalan panjang dari titik penalti, guna berbagi beban tekanan.
- Catatan kiper: Kiper Jordan Pickford selalu membawa catatan berisi riset detail tentang kecenderungan lawan, ditempel di botol minumnya saat adu penalti.
- Penyesuaian waktu bermain: Setelah pengalaman pahit di Euro 2020 ketika Marcus Rashford dan Jadon Sancho baru dimasukkan beberapa detik sebelum adu penalti, Southgate kemudian memberi penendang lebih banyak waktu bermain di lapangan agar lebih siap.
Rekor Adu Penalti Inggris di Bawah Southgate
Inggris telah terlibat dalam 11 adu penalti di Piala Dunia, Piala Eropa, dan Nations League sepanjang sejarah. Satu-satunya kemenangan sebelum Southgate adalah saat melawan Spanyol di Euro 1996.
Di bawah Southgate, Inggris mencatatkan sejarah baru:
- Kemenangan pertama dalam adu penalti Piala Dunia pada 2018, melawan Kolombia.
- Kemenangan 6-5 atas Swiss di Nations League 2019.
- Kekalahan telak di final Euro 2020 melawan Italia (satu-satunya kekalahan di era Southgate).
- Kemenangan 5-3 atas Swiss di Euro 2024.
Tuchel tidak berniat mengubah formula yang sudah terbukti ini. “FA memiliki program yang sudah berjalan bertahun-tahun, dan kami mengikutinya,” ujarnya. “Kami siap. Kami punya proses, para pemain juga punya proses.”
Tuchel: Jangan Harap Penampilan Mewah, tapi Raih Kemenangan
Selain soal penalti, Tuchel juga memberikan pandangannya soal performa tim menghadapi DR Kongo. Inggris lolos sebagai juara Grup L setelah mengalahkan Kroasia dan Panama, serta bermain imbang tanpa gol melawan Ghana.
Pelatih asal Jerman itu memperkirakan performa terbaik justru akan muncul saat melawan lawan yang lebih kuat di fase akhir. “Kami menghadapi lawan yang mirip Panama dan Ghana di babak 32 besar,” kata Tuchel kepada BBC Sport.
“Kami akan melihat versi terbaik kami jika kami bisa melewati babak-babak selanjutnya ketika tim lawan benar-benar ingin mengalahkan kami, bukan sekadar menahan dan mencegah kami bermain.”
Ia menambahkan, “Kami diharapkan menang, semua orang mengharapkan kami menang. Jadi tidak banyak yang bisa diraih selain memenuhi ekspektasi kami sendiri.”
DR Kongo finis ketiga di Grup K setelah hasil imbang 1-1 dengan Portugal, kalah 1-0 dari Kolombia, dan menang 3-1 atas Uzbekistan.
Kesimpulan: Rencana Matang untuk Tantangan Penalti
Dengan tetap mempertahankan strategi adu penalti warisan Southgate, Thomas Tuchel menunjukkan bahwa ia menghargai fondasi yang sudah terbukti efektif. Dipadukan dengan sikap realistis terhadap performa tim di fase awal, Inggris tampaknya siap menghadapi segala kemungkinan — termasuk jika laga melawan DR Kongo harus ditentukan dari titik putih. Konsistensi dalam persiapan inilah yang diharapkan bisa membawa The Three Lions melangkah lebih jauh di Piala Dunia 2026.
